Bacakan Pleidoi, Sambo Ungkap Jadi Sasaran Hoaks Sepanjang Diperiksa Kasus Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Terdakwa Ferdy Sambo bicara soal informasi hoaks yang menyerangnya dan keluarga usai terseret kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Ferdy Sambo menerangkan, media framing dan produksi hoaks secara intens terus dilancarkan kepadanya sebagai terdakwa dan keluarga sepanjang pemeriksaan kasus pembunuhan berencana Brigadir J.

"Berikut tekanan massa baik di dalam maupun di luar persidangan yang kemudian telah mempengaruhi persepsi publik, bahkan mungkin memengaruhi arah pemeriksaan perkara ini mengikuti kemauan sebagian pihak, termasuk juga mereka yang mencari popularitas dari perkara yang tengah saya hadapi," kata Sambo saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi berjudul 'Setitik Harapan Dalam Ruang sesak Pengadilan' di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (24/1).

Sambo mengaku heran terkait hoaks yang menyerangnya tersebut. Sementara itu, Sambo mengungkapkan prinsip negara hukum yang memberikan hak atas jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara di mata hukum.

"Demikian pula prinsip yang seharusnya ditegakkan berdasarkan Artikel. 11 Deklarasi Universal Hak Asasi- Asasi Manusia, Artikel. 14 Internati penant on Civil and Political Rights (ICCPR), serta penjelasan umum pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Pengadilan a huruf e KUHAP, demikian pula Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menegaskan wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan," ucap Sambo.

Sambo menerangkan, sejak awal di tempatkan sebagai terperiksa dalam perkara pembunuhan berencana Brigadir J, beragam tuduhan telah disebarluaskan di media dan masyarakat, seolah dia adalah penjahat terbesar sepanjang sejarah manusia.

"Saya telah dituduh secara sadis melakukan penyiksaan terhadap almarhum Yosua sejak dari Magelang, begitu juga tudingan sebagai bandar narkoba dan judi, melakukan perselingkuhan dan menikah siri dengan banyak perempuan, melakukan LGBT, memiliki bunker yang penuh dengan uang, sampai dengan penempatan uang ratusan triliun dalam rekening atas nama Yosua, yang kesemuanya adalah tidak benar dan telah sengaja disebarkan untuk menggiring opini yang menyeramkan terhadap diri saya, sehingga hukuman paling berat harus dijatuhkan tanpa perlu mendengar dan mempertimbangkan penjelasan dari seorang terdakwa seperti saya," ujar Sambo.

Sambo mengatakan, penasihat hukum pernah menunjukkan sebuah video viral di masyarakat yang menggambarkan prosesi eksekusi mati terhadapnya sebagai terdakwa.

"Padahal persidangan pun masih berjalan dan jauh dari putusan pengadilan. Nampaknya, berbagai prinsip hukum tersebut telah ditinggalkan dalam perkara di mana saya duduk sebagai terdakwa," ujar dia.

Reporter: Ady Anugrahadi/Liputan6.com [gil]