Badan Geologi perbarui peta kawasan rawan bencana Gunung Semeru

·Bacaan 3 menit

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memperbarui peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Semeru, Jawa Timur.

Pembaruan peta tersebut dilakukan setelah tim Badan Geologi Kementerian ESDM mengunjungi daerah terdampak letusan Gunung Semeru, khususnya daerah Besuk Kobokan, yang merupakan daerah aliran Awan Panas Guguran (APG) pada erupsi, Sabtu (4/12/2021).

Dikutip dari lama Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu, kunjungan tersebut untuk memetakan material pascaerupsi, yang akan menjadi dasar dalam memperbarui peta KRB Semeru.

Badan Geologi terus memantau perkembangan aktivitas Semeru pascaerupsi pada Sabtu lalu selama selama 24 jam dan segera dilaporkan apabila ada perubahan berdasarkan data seismik dan pengamatan visual.

"Gunung Semeru pada Selasa ini dari pukul 00.00 sampai sore ini (17.30 WIB) telah terjadi APG sebanyak tiga kali dengan jarak luncur lebih kurang tiga km dari puncak gunung api. Ini juga disertai gempa-gempa permukaan," jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Andiani pada Konferensi Pers Update Erupsi Gunung Semeru dari lokasi bencana, Selasa (7/12/2021).

Andiani beserta tim juga telah mengunjungi daerah terdampak, khususnya daerah Besuk Kobokan.

"Kami tadi melakukan kunjungan ke lapangan, terutama daerah Besuk Kobokan yang merupakan daerah aliran APG kemarin. Tujuannya adalah untuk melakukan orientasi. Ada upaya kami untuk meng-update peta KRB Gunung Semeru yang sudah ada, sehingga kita mengetahui apakah ada perubahan. Dari material yang ada sekarang ini akan kami petakan dan dijadikan dasar untuk memperbarui peta KRB Gunung Semeru. Harapan kami, peta terbaru ini yang digunakan sebagai acuan oleh pemerintah daerah dan stakeholder yang memiliki kepentingan dalam perkembangan wilayah Semeru," imbuh Andiani.

Baca juga: Badan Geologi sampaikan peta kawasan rawan bencana Gunung Semeru

Peta KRB ini didasarkan pada hasil pemetaan di lapangan, yakni pemetaan batuan produk erupsi gunung api tersebut. Material yang dipetakan dapat menjadi dasar untuk menentukan sejauh mana dan wilayah mana saja yang terancam oleh erupsi gunung api tersebut.

"Peta KRB bersifat dinamis, maka dari itu perlu kita lakukan pemetaan kembali. Updating ini dalam rangka untuk menghaluskan, karena peta kami saat ini masih di skala 1:50.000, kami ingin membuat lagi di skala 1:25.000 sehingga ini nanti akan lebih detail untuk acuan ke depannya. Kalau ada hasil pemetaan baru, akan kami sampaikan ke pemerintah daerah," paparnya.

Di samping memperbarui peta KRB, Badan Geologi juga tengah menjajaki teknologi guna menghitung volume material yang berada di puncak Semeru. Teknologi yang tepat diperlukan karena karakteristik setiap gunung dan kondisi alam setempat yang berbeda-beda.

"Perlu juga nanti ke depan juga akan menghitung volume material di atas, sambil kita saat ini menjajaki dan melihat teknologi yang paling pas untuk Gunung Semeru ini seperti apa, karena tipikal setiap gunung berbeda-beda. Kita sesuaikan dengan kondisi alam setempat. Untuk memudahkan juga di dalam pengoperasiannya nanti," tutur Sekretaris Badan Geologi Ediar Usman.

Saat ini masyarakat masih tetap diimbau untuk menghindari zona rawan bencana, yakni pada radius 1 km dari puncak dan 5 km dari bukaan kawah di arah selatan dan tenggara. Selain itu diimbau pula untuk menghindari daerah yang terdampak APG dan daerah sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru, karena masih terdapat potensi terjadinya APG dan banjir lahar dingin.

Informasi terkini dan peta KRB Gunung Semeru dapat diakses melalui aplikasi/website MAGMA Indonesia (magma.vsi.esdm.go.id), website resmi PVMBG (vsi.esdm.go.id), dan media sosial PVMBG (Facebook, Twitter, dan Instagram pvmbg_).

Baca juga: Kementerian ESDM: Hentikan aktivitas pertambangan di Gunung Semeru

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel