Badan Pangan Nasional atasi stunting daerah rawan lewat B2SA-Dashat

Badan Pangan Nasional mengoptimalkan percepatan penurunan stunting di daerah rawan melalui integrasi program makan Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) dengan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) milik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

“Ini akan dieksekusi sampai daerah-daerah rawan pangan dan gizi dengan stunting tinggi. Tanggal 12 sampai 14 Oktober di Sumatera Utara. Lalu tanggal 18 sampai 20 Oktober di Kalimantan Barat. Kita gelar road show untuk pelaksanaan program ini ke seluruh Indonesia,” kata Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi di Jakarta, Rabu.

Program B2SA akan memperkuat edukasi yang diberikan Dashat dengan mendorong masyarakat untuk memakan buah, sayur, daging, ikan sesuai dengan kebutuhan dan kesediaan pangan lokal di daerah tersebut.

Baca juga: BKKBN-Badan Pangan Nasional teken MoU dengan 6 lingkup cegah stunting

Penguatan tersebut dilakukan untuk mengimbangi kebiasaan masyarakat Indonesia yang mayoritas mengkonsumsi karbohidrat dari biji-bijian seperti padi yang diolah untuk dimakan sebagai nasi. Padahal, karbohidrat juga bisa didapat melalui umbi-umbian.

Kemudian dalam mencegah stunting atau kekerdilan pada anak, asupan protein hewani dan protein nabati harus lebih digencarkan, dibandingkan banyak mengkonsumsi minyak dan lemak. Audiensi terkait hal itu, akan terus digemakan untuk menjangkau daerah prioritas percepatan penurunan stunting.

Menurutnya, integrasi kedua program merupakan tindak lanjut dari MOU yang pihaknya buat dengan BKKBN. Selain itu, integrasi juga ditujukan sebagai upaya untuk menurunkan prevalensi stunting secara nasional menjadi 14 persen di tahun 2024.

Baca juga: BKKBN: Kurangnya kesadaran hidup sehat akar utama masalah stunting

Jika berbicara data, Arief mengatakan data daerah rawan pangan yang dimiliki oleh Badan Pangan Nasional akan disandingkan dengan data BKKBN yang mencakup daerah dengan prevalensi stunting tinggi.

“Jadi nanti ke depan kita mesti buat overlay. Sepertinya berbanding lurus kalau daerah yang rawan pangan atau rentan pangannya yang merah pasti BKKBN juga punya peta yang sama. Kita sepakati saja mau mulai dari daerah mana,” ucap Arief.

Dalam data daerah rawan pangan, kata dia, wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat terlihat memiliki indeks kerawanan pangan yang tinggi dan luas. Kerawanan bahkan berhasil menarik simpati Presiden Joko Widodo.

Baca juga: BKKBN gandeng mitra swasta dan asing perkuat penanganan stunting

Arief menekankan bahwa percepatan penurunan stunting membutuhkan kolaborasi penuh dari semua pihak. Stunting harus dicegah sejak pembuahan belum terjadi, sehingga ia berharap edukasi stunting dapat terus digencarkan sejak dini.

“Saya sekali lagi ingin sampaikan bahwa preventif lebih baik daripada kuratif. Jadi anggarannya itu jangan dipakai untuk pengobatan tetapi dipakai pencegahan,” katanya.