Bagaimana Donald Trump Bisa Kalah Pemilu AS dan Gagal Lanjut ke Periode Dua?

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pada pemilu sebelumnya di tahun 2016 lalu, Donald Trump memenangkan lebih dari 70 juta suara di mana angka tersebut merupakan total tertinggi kedua dalam sejarah Amerika.

Secara nasional, dia memiliki lebih dari 47% bagian suara, dan tampaknya telah memenangkan 24 negara bagian, termasuk Florida dan Texas yang menjadi andalannya.

Melansir BBC, Minggu (8/11/2020), ia memiliki pengaruh luar biasa atas sebagian besar negara tersebut sekaligus hubungan mendalam yang di antara ribuan pendukungnya telah membawa pengabdian yang mirip dengan sekte kepercayaan.

Setiap analisis kelemahan politiknya pada tahun 2020 juga harus mengakui kekuatan politiknya. Namun, dia akhirnya kalah.

Kemenangan rivalnya membuat Trump menjadi salah satu dari hanya empat petahana di era modern yang gagal menjabat untuk periode kedua.

Dia juga menjadi presiden pertama yang kehilangan suara populer dalam pemilihan berturut-turut.

Menang di 2016, Kalah di 2020

Presiden AS Donald Trump (AP PHOTO)
Presiden AS Donald Trump (AP PHOTO)

Donald Trump memenangkan kursi kepresidenan pada tahun 2016 sebagian karena dia adalah orang yang datang dari luar politik dan melanggar norma yang berbeda dari biasanya.

Tetapi Donald Trump juga kehilangan kursi kepresidenan pada tahun 2020 dengan alasan yang sama.

Meskipun sebagian besar basis Trump mungkin akan memilihnya, bualannya yang terkenal dari empat tahun lalu, orang-orang yang mendukungnya empat tahun lalu menjadi tertunda oleh perilaku agresifnya.

Hal ini terutama terjadi di pinggiran kota.

Joe Biden meningkatkan kinerja Hillary Clinton di 373 kabupaten pinggiran kota, membantunya merebut kembali negara bagian Rust Belt di Pennsylvania, Michigan dan Wisconsin, dan memungkinkan dia untuk mendapatkan suara di Georgia dan Arizona.

Donald Trump memiliki masalah khusus dengan wanita di wilayah pinggiran kota.

Hal yang sama terjadi dalam pemilihan presiden 2020, seperti apa yang terjadi pada pemilihan paruh waktu 2018 di mana Partai Republik yang lebih berpendidikan tinggi, beberapa di antaranya telah memilih Trump empat tahun lalu, bersiap untuk memberinya kesempatan, namun menganggap kepresidenannya tidak mampu.

Meskipun mereka mengerti bahwa dia tidak biasa, banyak yang menganggap cara dia menentang begitu banyak adat istiadat dan norma perilaku tidak menyenangkan dan seringkali menyinggung.

Dukungan banya orang kerap ditunda oleh agresivitasnya. Dia kerap memicu ketegangan rasial. Penggunaan bahasa rasis di tweetnya yang memfitnah orang kulit berwarna. Kegagalannya, pada kesempatan, untuk secara memadai mengutuk supremasi kulit putih.

Trump juga dikenal mencemarkan sekutu tradisional Amerika dan kekagumannya pada orang-orang kuat otoriter, seperti Vladimir Putin.

Kebanggaannya yang aneh untuk menjadi "jenius yang sangat stabil" dan sejenisnya, promosi teori konspirasi. Penggunaan lingua franca ("bahasa gaul") yang terkadang membuatnya terdengar lebih seperti bos kriminal, seperti ketika dia menggambarkan mantan pengacaranya Michael Cohen, yang mencapai kesepakatan pembelaan dengan jaksa federal, sebagai "tikus". Hal-hal itu lah yang membuat pendukungnya beralih pilihan.

Beban Petahana

Presiden Donald Trump berbicara tentang hasil pemilihan presiden AS 2020 di Gedung Putih, Kamis (5/11/2020). Hingga saat ini proses penghitungan suara pemilihan presiden Amerika masih berlangsung, namun perolehan suara Donald Trump maupun Joe Biden masih bersaing ketat. (AP Photo/Evan Vucci)
Presiden Donald Trump berbicara tentang hasil pemilihan presiden AS 2020 di Gedung Putih, Kamis (5/11/2020). Hingga saat ini proses penghitungan suara pemilihan presiden Amerika masih berlangsung, namun perolehan suara Donald Trump maupun Joe Biden masih bersaing ketat. (AP Photo/Evan Vucci)

Setelah empat tahun yang melelahkan, banyak pemilih hanya menginginkan kursi kepresidenan yang bisa mereka ikuti yakni seorang penghuni Gedung Putih yang akan berperilaku dengan cara yang lebih konvensional.

Mereka sudah bosan dengan panggilan nama yang kekanak-kanakan, bahasa yang jelek dan konfrontasi yang tiada henti.

Mereka ingin kembali ke keadaan normal.

Tapi pemilu 2020 bukanlah pemilu ulang 2016.

Kali ini Trump merupakan seorang petahana, bukan pemberontak. Dia memiliki rekor untuk dipertahankan, termasuk kesalahan penanganan wabah virus corona yang pada hari pemilihan telah menewaskan lebih dari 230.000 orang Amerika. Di zaman keberpihakan negatif ini, di mana politik sering didorong oleh kebencian terhadap oposisi, dia tidak diadu dengan tokoh kebencian seperti Hillary Clinton.

Joe Biden sulit untuk dibenci, yang sebagian alasan mengapa pihak Demokrat sangat ingin menjadikannya sebagai calon presiden. Pria berusia 77 tahun ini juga melakukan pekerjaan yang harus dia lakukan, yaitu menarik kembali pemilih kelas pekerja kulit putih di Rust Belt.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: