Bagaimana Hacker Mampu Meretas sebuah Sistem?

Merdeka.com - Merdeka.com - Kebocoran data pribadi kerap terjadi akhir-akhir ini. Seorang hacker menyebut, bahwa mereka telah sukses meretas data-data pribadi orang Indonesia. Tak hanya sekali, aksinya itu berkali-kali dilakukan.

Hacker merupakan orang yang memiliki skill pemrograman dan mampu menerobos sistem keamanan komputer atau jaringan komputer untuk tujuan tertentu.

Lalu, bagaimana cara bekerjanya? Pakar Keamanan Siber dari Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja mengatakan proses peretasan itu tidak serta merta terjadi begitu saja.

"Seorang peretas itu tidak pernah melakukan tugasnya secara serampangan seketika. Peretas itu kelompok manusia yang paling sabar di dunia. Kenapa demikian? Karena memang mereka melakukan tugasnya itu dengan sabar. Melakukan aksinya secara terstruktur, bertahap, dan berjenjang," ujar Ardi kepada Merdeka.com melalui sambungan telepon, Senin (12/9).

Karena kesabarannya itu, kata Ardi, kelompok peretas mampu mencari celah baik dari sisi kelemahan sistem, teknologi, maupun kelalaian manusianya. Setelah ditemukan celahnya, si peretas akan masuk dengan menanamkan virus atau malware. Dengan menggunakan malware, mereka akan masuk ke dalam sistem yang tak pernah diketahui oleh pemiliknya.

"Nah, setelah masuk, kita tidak akan tahu kapan mereka mau menginfeksi sistem melalui virus dan mencuri data. Makanya, saya selalu katakan, peretasan itu tidak bakal diketahui oleh orang, kecuali ada yang membuka dan mengekspos melalu media. Dan, kegiatan peretasan itu tidak akan pernah tahu persisnya kapan," jelasnya.

Terlebih, menurut dia, bentuk-bentuk virus selalu berubah setiap saat. Misalnya saja, kita baru belajar tentang satu bentuk malware, tiba-tiba besok sudah ada bentuk lain lagi yang lebih canggih.

"Apa mungkin kita mempelajari karakter-karakter dari virus yang setiap waktu berubah?" ujarnya.

Nah, untuk mewaspadai hal itu, Ardi lebih menitik beratkan pada sisi manusianya. Manusia merupakan bagian yang paling lemah dari kecanggihan teknologi.

"Masalahnya bukan pada teknologinya, tetapi manusianya. Sisi paling lemah dari seluruh kecanggihan teknologi itu manusia. Maka sisi kewaspadaan dari manusianya juga harus dibangun. Salah satunya jangan posting terkait informasi pribadi," ungkap dia. [faz]