Bagaimana Jalin Komunikasi Efektif untuk Pertahankan Hubungan?

Liputan6.com, Jakarta Kunci utama menjaga kelanggengan suatu hubungan pernikahan atau percintaan ada pada komunikasi antarpasangan.

Menurut Melanie, seorang pakar psikologi sekaligus penulis dan pembicara, umumnya pasangan yang ingin berkonsultasi dengannya membawa masalah yang sama, yaitu komunikasi.

Komunikasi mereka umumnya terputus atau pasangan terjebak dalam siklus konflik alih-alih berusaha menyelesaikannya dengan jalan komunikasi bersama. Sebagian besar dari kita tidak tahu cara terbaik untuk berkomunikasi sehat dan menyelesaikan konflik yang ada.

Melanie turut berbagi tips komunikasi sehat untuk menyelesaikan konflik dalam laman Psychology Today.

1. Fokus pada apa yang Anda berdua inginkan

Berfokus pada apa yang Anda berdua inginkan bukan pada hal yang tidak Anda inginkan. Kecenderungan pasangan justru mengungkapkan apa yang sebetulnya bukan hal yang mereka inginkan dari pasangnnya.

“Banyak pasangan berbicara tentang apa yang mereka tidak inginkan dari pasangannya. Ini merupakan insting pertama Anda karena otak memiliki bias negatif,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, dengan berfokus pada hal yang negatif cenderung akan membuat pasangan Anda menjadi tidak dapat berbuat apa pun dikarenakan mereka tidak dapat mengubah masa lalunya.

 

 

Jelaskan Mengapa Anda Ingin Perubahan

2. Jelaskan mengapa Anda ingin perubahan

Kebanyakan orang tidak suka untuk diberitahu memganai apa yang harus dilakukan, karenanya banyak pasangan yang mungkin memberi argumen ketika Anda meminta pasangan Anda berubah.

Banyak dari kita yang berharap pasangan bisa mengetahui keinginan kita tanpa kita perlu memberi tahu mereka. Tentunya tak realistis dan tak adil bila mengharapkan pasangan seolah bisa membaca pikiran kita. Lebih baik bila Anda mampu mengkomunikasikan kebutuhan Anda sekaligus membangkitkan empatinya. Dan akan jauh lebih baik lagi jika Anda juga menjelaskan alasannya.

Ketika Anda menanyakan 'mengapa', hal ini dapat membantu setiap pasangan untuk mendapatkan perubahan yang lebih baik.

3. Gunakan awal yang lembut

Banyak dari kita yang memulai komunikasi dengan pasangan setelah kita merasa kesal dan nyaris putus asa. Mungkin kita sudah memendam kekesalan selama beberapa waktu dan ketika berhadapan dengan pasangan, kekesalan itu sudah begitu memuncak. Ketika kita berlaku seperti ini, pasangan akan merasa diserang, emosional, sehingga menutup diri.

John Gottman dan rekan-rekannya pernah melakukan penelitian terhadap pasangan. Mereka menemukan, membuka komunikasi dengan cara lembut untuk menyampaikan masalah yang sulit akan memberi hasil yang lebih memuaskan. Gunakan ujaran dengan sudut pandang "saya" ketimbang "kamu" dalam kalimat yang hendak Anda sampaikan. Cobalah untuk mendeskripsikan fakta-fakta yang ada tanpa terkesan mengkritik atau menghakimi.

Tidak Saling Menyalahkan

4. Cari tahu apa pasangan Anda butuhkan

Ketika pasangan memiliki masalah, kita cenderung tergoda untuk memberi saran guna "memperbaiki" kondisi tersebut. Itu tak jadi masalah bila yang pasangan Anda perlukan memang saran. Namun, seringkali yang diperlukan pasangan hanyalah didengarkan dan dipahami.

Pada situasi semacam ini, mereka akan cenderung menolak saran atau bahkan kesal bila Anda lebih fokus pada ide tindakan apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai jalan keluar dari masalahnya. Mereka mungkin menangkap saran Anda sebagai kritik, seolah apa yang mereka lakukan tak cukup baik.

Anda perlu memahami bahwa ketika menghadapi masalah, terkadang yang kita perlukan dari pasangan adalah dukungan emosional agar kita merasa lebih baik dan cukup kuat untuk menghadapinya. Pasangan Anda mungkin sudah paham apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalahnya bila mereka sudah mendapat kepercayaan diri dan dukungan emosional dari Anda.

5. Tidak saling menyalahkan

Cobalah untuk tidak menyalahkan diri sendiri atau saling menyalahkan ketika terjadi hal-hal yang tak diinginkan dan kondisi menjadi sulit. Saat dipersalahkan, kita cenderung bersikap defensif dan seringkali masalah muncul karena disebabkan oleh banyak hal.

Keterbatasan pengetahuan terkadang menjadi penyebab masalah. Karenanya fokuslah pada apa yang kalian berdua bisa lakukan untuk mencari jalan keluarnya serta melakukan hal yang berbeda di lain waktu. Jika pun Anda merupakan pihak yang benar dan pasangan harus mendengar pendapat Anda, hal itu mungkin saja malah membuat hubungan dengan pasangan menjadi kurang harmonis. Dampaknya pasangan mungkin akan merasa tak dianggap atau terlalu diatur.

Dengan komunikasi yang tepat, pasangan tak akan melihat Anda sebagai ancaman. Pastikan Anda menyampaikan kebutuhan Anda dengan komunikasi yang baik agar didengar dan direspons baik oleh pasanga.

Penulis : Eflien Anggelien