Bagaimana Kematian Orangtua Memengaruhi Perasaan Anak? Berikut Penjelasannya Berdasarkan Usia

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Kematian orangtua sangat menghancurkan untuk semua orang, berapun usianya. Ketika kehilangan di masa kanak-kanak mengarah ke proses kesedihan yang bervariasi tergantung pada tingkat perkembangannya.

Anak dapat memproses kesedihan dalam banyak aspek, termasuk mental, emosional, fisik, sosial dan spiritual.

Jika seorang anak yang sahabat Fimela kenal telah kehilangan orangtuanya, akan sangat membantu untuk memahami bagaimana mereka terpengaruh oleh trauma ini, dan apa yang dapat dilakukan untuk mendukung mereka.

Melansir livetoknow.com, bagaimana seorang anak mengalami kehilangan orangtua dapat bergantung pada kepribadian masing-masing serta tahap perkembangan si kecil.

Cara seorang anak mengungkapkan kesedihannya dapat membantu menentukan cara terbaik untuk menghiburnya.

Bayi

Ilustrasi anak menangis setelah orangtua tiada/dok. Shutterstock/chomnancoffee
Ilustrasi anak menangis setelah orangtua tiada/dok. Shutterstock/chomnancoffee

Untuk bayi (usia nol-dua), kesedihan dialami terutama sebagai ketidakhadiran fisik. Orangtua adalah pengasuh aktif dalam kehidupan bayi, sering menggendong, menghibur, mengubah, dan memberi mereka makan.

Respon bayi terhadap kehilangan orangtua dapat ditunjukkan sebagai perubahan pola makan, tidur, dan buang air besar dan kandung kemih. Dalam situasi ini, penting untuk menawarkan kenyamanan fisik pada bayi: digendong dan dipeluk oleh pengasuh yang mengasuh secara fisik. Juga bermanfaat untuk memberi bayi stabilitas rutinitas selama masa perubahan yang sangat besar ini.

Sebelum sekolah

Ilustrasi anak bersedih/Copyright shutterstock.com
Ilustrasi anak bersedih/Copyright shutterstock.com

Anak-anak prasekolah (usia tiga-lima) memandang kematian sebagai sesuatu yang sementara atau reversibel. Di mata mereka, orangtua yang telah meninggal terus hidup dan berfungsi dalam beberapa hal. Seorang anak seusia ini mungkin berpikir bahwa pada suatu saat di masa depan, orangtua mereka akan kembali.

Anak-anak prasekolah mungkin juga merasa bertanggung jawab atas kematian tersebut. Artinya, jika mereka memiliki konflik baru-baru ini dengan orangtua yang meninggal, anak mungkin berpikir itulah alasan orangtua meninggal.

Anak-anak prasekolah mengekspresikan kesedihan mereka terutama melalui permainan. Contohnya termasuk menggambar orangtu dan menggunakan boneka atau figur aksi untuk mewakili orang tua.

Sahabat Fimela dapat mendukung anak prasekolah dengan memainkan peran dalam permainan anak dengan boneka, atau dengan mengajukan pertanyaan kepada anak tentang apa yang mereka gambar.

Seorang anak pada usia ini mungkin juga berulang kali mengajukan pertanyaan tentang kematian orangtuanya. Penting untuk menjawab pertanyaan mereka dengan jujur dan dengan cara yang sederhana yang dapat mereka pahami. Misalnya, "Mobil ayah tidak sengaja menabrak mobil lain."

Sekolah Dasar

ilustrasi/shutterstock.com/Tom Wang
ilustrasi/shutterstock.com/Tom Wang

Anak-anak dalam rentang usia ini (6-11) dapat mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen. Mereka juga dapat mempersonifikasikan kematian, seperti dengan melihatnya sebagai orang atau hantu yang datang dan membawa orang pergi.

Anak-anak pada usia ini cenderung ingin tahu tentang kematian, mengajukan pertanyaan spesifik, dan menginginkan detail. Mereka mungkin juga peduli dengan bagaimana orang lain melakukan dan menangani kerugian.

Penting untuk menjawab pertanyaan anak dengan jujur dan sederhana, berbagi perasaanmu dengan si kecil, dan menunjukkan dan memberi tahu bahwa tidak apa-apa untuk mengungkapkan kesedihannya.

Mengekspresikan Emosi Tentang Kematian

orangtua dan anak/copyright shutterstock/Chanyanuch Wannasinlapin
orangtua dan anak/copyright shutterstock/Chanyanuch Wannasinlapin

Ketika kehilangan orang yang dicintai, menangis di depan seorang anak adalah hal yang wajar. Berduka karena kehilangan seseorang dan bersimpati dengan anak, menunjukkan bahwa tidak apa-apa untuk menunjukkan emosi dan kerentanan. Ini akan membantu anak-anak merasa lebih terbuka untuk berduka karena kehilangan orangtua mereka juga.

Kemarahan mungkin menjadi bagian dari proses berduka bagi beberapa anak, dan mungkin menunjukkan agresi sebagai tanggapan. Bicaralah dengan anak, bantu mengidentifikasi emosi, dan ajari cara-cara konstruktif untuk mengekspresikan kemarahannya. Seperti meninju sarung tinju atau memukul-mukul adonan kue.

#elevate women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel