Bagaimana membuat kuliah tidak membosankan: jawabannya bukan teknologi, tapi memahami cara mengajar yang baik

·Bacaan 5 menit
  <span class="attribution"><a class="link rapid-noclick-resp" href="https://www.shutterstock.com/image-photo/bored-male-student-listens-lecture-university-1077839498" rel="nofollow noopener" target="_blank" data-ylk="slk:Shutterstock">Shutterstock</a></span>

Dengan kembalinya pembelajaran tatap muka di beberapa universitas Australia tahun ini, Wakil Rektor Australian National University (ANU), Brian Schmidt memperkirakan bahwa jumlah perkuliahan akan berkurang dan tidak sekadar menjadi solusi memperbaiki pengajaran online yang kurang optimal selama pandemi.

Sejak saat itu pula, banyak pihak telah mendiskusikan bagaimana perkuliahan yang ideal, termasuk wakil rektor University of Technology Sydney dan direktur National Center for Student Equity in Higher Education di Australia Barat, dengan berbagai gagasan – mulai dari kembali mengadopsi sistem kuliah seperti biasa hingga menghapuskan kuliah sepenuhnya.

Selama ini memang ada banyak kritikan terhadap sistem perkuliahan. Namun, ketergantungan pada teknologi yang mendadak muncul karena COVID ini telah menguatkan seruan untuk mengakhiri tradisi perkuliahan. Dari berbagai wacana yang beredar, kuliah akan digantikan dengan berbagai sistem teknologi yang canggih.

Berbagai aspirasi ini didasari oleh dua asumsi: bahwa kuliah adalah sarana pengajaran yang buruk, dan penggunaan teknologi akan memperbaiki pembelajaran.

Tetapi, apakah asumsi-asumsi ini tepat? Ketimbang mentah-mentah menolak kuliah dan mengadopsi teknologi, ada baiknya kita melihat kedua aspek ini, beserta keterkaitan antar keduanya, dengan lebih dekat.

Lire la suite: Cara menciptakan kelas _online_ yang interaktif di tengah pandemi COVID-19: pelajaran dari Singapura

Suka-duka kita terkait sistem perkuliahan

Wacana tentang penghapusan sistem kuliah biasanya memiliki beberapa pola.

Keluhan paling umum menyebutkan bahwa kuliah adalah sistem yang didaktik (seperti “menceramahi”) dengan pembelajaran yang pasif dan membosankan. Kritik ini sering disertai dengan argumen bahwa rentang perhatian siswa di kelas hanya sebatas 10-18 menit saja.

Meskipun klaim ini tidak terbukti, kita semua pernah merasakan betapa susahnya fokus dan tetap terjaga saat diceramahi oleh dosen di depan kelas. Tapi, sebaliknya, kita juga pernah merasakan beberapa sesi perkuliahan yang sangat menarik dan mengasyikkan.

Siapa pun yang pernah menghadiri TED Talk, atau setidaknya menontonnya di YouTube, tahu bagaimana rasanya terpikat oleh presentasi seseorang selama 3-18 menit tersebut.

Tapi bisakah kuliah tetap menarik perhatian orang-orang jika melebihi 18 menit?

Mendiang Profesor Randy Pausch terkenal karena kuliahnya yang berkualitas dan menggugah, terlebih pada kelas terakhirnya, “Randy Pausch’s Last Lecture”, yang disampaikannya setelah menerima diagnosis kanker pankreas yang mematikan. Ceramah itu disampaikan dalam waktu kurang lebih satu jam 15 menit, dan banyak yang menganggapnya sebagai suatu mahakarya pengajaran dan komunikasi.

Kuliah yang berdurasi panjang memang dapat berdampak besar bagi seseorang. Tapi, untuk benar-benar memberikan dampak positif itu, seseorang perlu memahami faktor yang membuat suatu kuliah menjadi berkualitas lalu berkomitmen untuk terus memperbaikinya.

Terus bereksperimen dan berefleksi

Pausch menantang stereotip tentang apa itu perkuliahan. Dia menggunakan alat peraga fisik, multimedia, dan sumber daya lainnya untuk mendorong batas-batas perkuliahan yang selama ini membosankan dan cenderung satu arah. Hasilnya adalah suatu sesi kuliah yang dinamis dan senantiasa melibatkan audiens sehingga mampu memikat dan mempertahankan atensi mereka.

Memberikan kuliah dengan kualitas seperti itu memerlukan lebih dari sekadar pengalaman. Kita harus mengevaluasi praktik mengajar kita, merefleksikan kembali kualitas dan tujuan pemaparan kita di kelas, kemudian berkomitmen untuk mengembangkan kuliah tersebut maupun kemampuan komunikasi diri kita sendiri.

Profesor Eric Mazur menjelaskan bagaimana ia, saat mengajar fisika di Harvard pada tahun 1990-an, menyadari bahwa kuliahnya gagal membuat murid-muridnya tetap tertarik atau pun memenuhi tujuan pembelajaran mata kuliah tersebut. Kesadaran ini akhirnya ia digunakan sebagai batu loncatan untuk meningkatkan kuliahnya dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan pengajarannya.

Sejak saat itu, Mazur kerap dianggap sebagai ahli dalam meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam kuliah. Dia telah menciptakan berbagai solusi bagi para akademisi untuk membuat siswa tetap aktif dalam perkuliahan, bahkan melampaui batas 18 menit. Teknik yang dianjurkan oleh Mazur mencangkup berbagai hal; mulai dari mengintegrasikan instruksi antar mahasiswa ke dalam kuliah hingga menggunakan platform kolaboratif yang canggih untuk memastikan persiapan mahasiswa sebelum kuliah.

Lire la suite: Universitas bisa gandeng platform kelas online untuk wujudkan visi #KampusMerdeka Nadiem

Hilangkan asumsi, bukan perkuliahan

Lalu bagaimana dengan klaim bahwa munculnya teknologi dapat menggantikan tradisi perkuliahan? Hal ini tampaknya perlu kita ragukan karena beberapa alasan.

Metode Pausch dan Mazur dapat ditransfer ke ruang online, sekalipun kita tidak menyebutnya lagi sebagai “perkuliahan”. Wujudnya dapat kita lihat di platform pembelajaran online terkemuka seperti Khan Academy atau LinkedIn Learning (sebelumnya Lynda). Beragam bentuk pengajaran ini membuat kami sadar bahwa teknologi dapat benar-benar membantu kuliah alih-alih sekadar menggantikannya.

Nah, sekarang mari kita balik pertanyaannya: apakah penggunaan teknologi dapat menjamin dan bahkan memperbaiki sistem pengajaran?

Teknologi dapat mempermudah berbagai praktik, seperti penggunaan fitur polling (jejak pendapat), break-out room (ruang diskusi privat layaknya di Zoom), serta timer (penerapan batas waktu). Teknologi bahkan dapat membuka ruang untuk berbagai kemungkinan dan paradigma baru dalam pengajaran. Namun tentu tidak ada jaminan pasti.

Jumlah teknologi pendidikan yang berujung gagal sangatlah banyak. Saat membedah apa yang salah, kami menemukan beberapa kesalahpahaman yang umum terjadi.

Salah satunya adalah kesalahpahaman bahwa menggunakan teknologi otomatis sama dengan meningkatkan kualitas pengajaran. Teknologi tidak membawa nilai pedagogis. Mengganti podium presentasi menjadi iPad tidak kemudian mengubah pembelajaran yang biasanya membosankan dan satu arah, tiba-tiba menjadi interaktif dan hidup.

Siswa yang kesulitan untuk memperhatikan kuliah online
Kuliah yang bersifat satu arah dan membosankan adalah pengajaran yang buruk, baik jika itu disampaikan secara online maupun offilne. Shutterstock

Sama seperti kuliah, penggunaan teknologi harus berangkat dari komitmen kuat untuk membenahi pengajaran maupun pengajar itu sendiri.

Jadilah kritis, reflektif, dan terus memperbaiki diri

Teknologi tidak pernah bisa menggantikan nilai pedagogis dari praktik belajar dan mengajar. Meski teknologi dapat mendorong transformasi besar, ia tidak semestinya jadi syarat mutlak untuk memperbaiki cara mengajar.

Entah seseorang merupakan pengajar berteknologi tinggi atau pun rendah, ia tetap dapat memberikan kuliah yang baik atau menemukan alternatif lain yang efektif jika memprioritaskan teknik mengajar di atas teknologi.

Kita perlu menolak anggapan bahwa sistem perkuliahan adalah malapetaka bagi mahasiswa, dan juru selamatnya adalah teknologi. Alih-alih, mari kita menggali lebih dalam dan mengkritisi bagaimana cara meningkatkan praktik pengajaran, serta menerapkan metode mengajar yang baik untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan berdampak besar bagi mahasiswa.

Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel