Bagaimana Memilah Informasi Terkait Kasus Brigadir J di Medsos, Ini Kata Pakar

Merdeka.com - Merdeka.com - Hampir satu bulan kasus tewasnya Brigadir J bergulir. Berawal dari penembakan polisi kini berkembang menjadi dugaan pembunuhan berencana.

Seperti diketahui, kabar tewasnya Brigadir J muncul ke permukaan pada Senin 11 Juli 2022 lalu. Faktanya, peristiwa tersebut terjadi pada 8 Juli 2022 atau tiga hari sebelum kasus tercium khalayak.

Pro kontra mulai bergulir. Satu pihak bersikeras Brigadir J tewas usai aksi tembak menembak dengan sesama rekannya, yakni Bharada E.

Pihak lain menyebut banyak kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan. Mulai dari tokoh, pakar hingga personel purnawirawan angkat suara melalui media sosial.

Founder KlinikDigital.org, Devie Rahmawati mengatakan tak bisa dipungkiri informasi di media sosial bergerak bagaikan tsunami dalam kasus Brigadir J.

Dengan minimnya data dan fakta dari penyelidikan menyeluruh, tak jarang satu sisi persepsi menjadi penentu opini publik.

"Dalam konteks kasus Brigadir J, awal viralnya kasus ini jelas berangkat dari opini yang begitu sengkarut. Justifikasi yang santer pada awal sebuah kasus yang digiring opini publik, tak jarang memberikan dampak negatif orang yang tidak bersalah," kata Devie dalam keterangannya, Selasa (26/7).

Saat ini, kata dia, proses penyelidikan kasus Brigadir J terus berlangsung dengan mengumpulkan fakta dan data yang sebenarnya. Bahkan, Komnas HAM pun sempat menyampaikan ada kejanggalan dari pengungkapan kasus Brigadir J tersebut.

Namun, yang mengkhawatirkan dari apa yang terjadi adalah tuduhan di awal informasi viral yang sungguh merusak.

"Akan menjadi bijak, bila kita semua mengawal terus kasus Brigadir Y. Berbagai kasus yang viral lainnya di media sosial dengan pikiran terbuka, dan memberikan kesempatan para ahli yang sesuai kompetensinya untuk mengumpulkan data-data obyektif," jelas dia.

Menurut dia, tidak semua informasi di media sosial menjadi berkah, justru sebagian menjadi bencana karena diwarnai banyak prasangka.

Akan tetapi, ia tak menampik pergeseran cepat informasi ini, banyak menghasilkan informasi positif dan membangun.

"Tetapi sering juga kita temui informasi yang tidak bermanfaat, bahkan opini tidak berimbang. Gulungan informasi viral menjadi alat untuk menjustifikasi sebuah pembenaran yang terus disebarkan, dan justru mengaburkan kebenaran," ujarnya.

Pada hakikatnya, kata Devie, media sosial menciptakan ruang tanpa tuan dan tanpa batas, yang memungkinkan setiap pengguna beraksi bebas kadang hingga kebablasan. Apalagi, praktik anonimitas yang memungkinkan pengguna bersembunyi dalam identitas yang berbeda, memampukan pengguna untuk menjustifikasi informasi sesuai keinginannya.

"Dari beberapa kasus viral di media sosial, tak jarang tuduhan-tuduhan yang berujung kesalahan. Jari-jari netizen yang pada awal kasus viral pun tidak terkena pertanggungjawaban," ucapnya.

Di universe digital, Devie mengatakan watak manusia Indonesia yang dulu ramah bahkan berubah menjadi marah dan dikenal sebagai masyarakat yang berang, bukan yang tenang. Menurutnya, watak baru manusia Indonesia di ruang digital ini sering kemudian bertemu dengan fenomena cancel culture.

"Sehingga, aksi pemboikotan berbasis praduga tanpa data ini berujung menjadikan cancel culture sebagai cancer culture dalam masyarakat, yang bisa membunuh hidup dan penghidupan seseorang. Cancel culture adalah fenomena menafikan atau mengasingkan sosok, kelompok, atau produk tertentu," katanya.

Sebelumnya, Rohani Simanjuntak, keluarga Brigadir J mengungkap sejumlah kejanggalan dalam peristiwa tersebut.

Namun, tidak butuh waktu lama, Korps Bhayangkara melalui Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan serta Kapolres Jakarta Selatan KOmbes Budhi Herdi langsung menjawabnya saat jumpa pers.

Berikut kejanggalan yang diungkap keluarga Brigadir J serta jawaban dari Polisi:

-Luka di sekujur tubuh Brigadir J

Keluarga:
"Kalau kami itu keterangan dari Mabes Polri itu Bapak Leonard Simatupang kan dibilangnya adanya tembak-menembak. Jadi kami merasa kurang puas begitu," tutur Rohani Simanjuntak berdasarkan video yang dikutip, Selasa (12/7).

Rohani menyampaikan, awalnya pada Minggu 10 Juli 2022, keluarga melihat adanya darah segar yang merembes melalui jari kelingking jasad Brigadir J atau Yoshua. Sebab itu, keluarga berinisiatif untuk membuka pakaian jenazah tersebut.

"Cuma celananya enggak kami buka sih. Yang kami buka bajunya, kaus kakinya, ternyata di sana ada luka-luka sama biru memar di bagian perutnya. Terus di matanya ini ada kayak luka sayatan ini, terus di bibirnya juga, di hidungnya ada jahitan. Terus di dada sebelah kanan itu ada tembakan dua, di leher satu. Tapi yang lebih besar lubang tembakannya di dada sebelah kanan," jelas dia.

*Jawaban Polisi
Kombes Budhi Herdi menegaskan, tidak ada luka penganiayaan atau potongan dari Brigadir J. Seluruh luka yang terjadi di tubuh Brigadir J berasal dari peristiwa tembak menembak antara Brigadir J dan Bharada RE.

"Saya tegaskan semua luka yang ada pada tubuh Brigadir J berdasarkan hasil autopsi sementara berasal dari luka tembak," katanya.

-CCTV

Keluarga:
"Kalau dia (polisi) tidak membuka CCTV berarti ada yang ditutup-tutupi."

*Jawaban Polisi
"Kami juga mendapatkan bahwa di rumah tersebut memang kebetulan CCTV-nya rusak sejak dua minggu lalu. Sehingga tidak kami dapatkan," kata Kombes Budhi Herdi.

-Bukti kesalahan Brigadir J

Keluarga:

Rohani mendesak Kepolisian memberikan bukti kesalahan Brigadir J. Yakni, terkait dugaan pelecehan terhadap istri Irjen Ferdy Sambo.

*Jawaban Polisi
"Kami agak sensitif membicarakan ini (Pelecehan), itu masuk dalam materi penyelidikan," kata Kombes Budhi Herdi.

-Jari Putus

Keluarga:
Menurut Rohani, luka tembakan juga terlihat di tangan sebelah kiri. Adapun jari kelingking dan jari manis tangan kiri Brigadir J atau Yoshua tampak patah.

*Jawaban Polisi:
Brigadir J melakukan penembakan terhadap Bharada RE, dia memegang senjatanya dengan menggunakan dua tangan.

"Dan disampaikan pula tadi ada peluru yang kena ke jari Brigadir J itu sendiri. Kemudian tembus dan mengenai bagian tubuh yang lain," kata Kombes Budhi Herdi. Untuk menguatkan argumennya, Kombes Budhi mengatakan jika Bharada merupakan salah satu penembak nomor satu di Korps Bhayangkara.

"Di resimen pelopornya, dia sebagai tim penembak nomor 1, kelas 1 di resimen pelopor. Ini yang kami dapatkan," jelasnya.

-Peretasan Ponsel Keluarga

Keluarga:
Lima ponsel keluarga Brigadir J diduga diretas. Hal itu diungkap Rohani Simanjuntak, bibi Brigadir J.

"Tidak lama lagi HP Yuni tidak bisa dibuka. HP Devi juga tidak bisa dibuka. Total 5 HP tidak bisa dibuka," katanya.

*Jawaban Polisi
Menjawab dugaan peretasan ponsel keluarga Brigadir J, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengaku belum menerima informasi.

"Itu informasi ya, informasi yang kami belum terima, tentu kami akan cek kembali kebenarannya. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel