Bagaimana Penerapan Physical Distancing Agar Terhindar dari Covid-19?

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat diminta untuk melakukan social distancing yang saat ini disebut physical distancing atau menjaga jarak dengan orang lain saat sedang berinteraksi atau komunikasi. Pada kenyataannya, bahasa physical distancing ini masih kurang dipahami oleh sebagian masyarakat. Sehingga, banyak masyarakat yang menyalahartikan hal tersebut.

Physical distancing ini diminta oleh pemerintah untuk menghindari adanya penyebaran virus Covid-19 atau corona yang saat ini sedang melanda Indonesia serta sejumlah negara lainnya.

Untuk itu, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan, physical distancing itu bukan untuk melarang masyarakat untuk keluar dari rumahnya. Terlebih, jika orang tersebut ingin berbelanja untuk keperluan sehari-harinya di rumah.

"Artinya batasi, titiknya dibatasi. Ya memang lebih banyak di rumah, kalau keluar, kalau enggak perlu jangan keluar. Kalau belanja masih bisa, tapi kalau mau ketemu ngobrol sama orang jaraknya dibatasi 1 meter sampai 2 meter," kata Agus kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk tidak berkumpul secara berdekat-dekatan tanpa menjaga jarak. Jika pun mereka sedang adanya keperluan dengan orang lain, mereka pun tetap harus menjaga jaraknya.

"Terus enggak boleh kumpul banyak orang dempet-dempetan gitu. Karena kan transfer penyakit ini lewat mulut, kalau kita hadap-hadapan deket nanti transferan dari mulut ke mulut," ujarnya.

Diperbolehkan mengobrol, kata Agus, namun jaraknya 1 hingga 2 meter.

Ia mengungkapkan, masyarakat masih bisa melakukan aktifitas di luar rumah. Terlebih, saat mereka ingin berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari di rumahnya. Ia juga tak ingin sampai masyarakat terlalu berlebihan dalam menanggapi virus corona.

Apalagi, sampai adanya pelarangan terhadap ojek online yang ingin mengantarkan pesanan atau menjemput konsumen serta pedagang sayur keliling yang dilarang masuk untuk berjualan.

"(Kalau pengen belanja) Ya boleh aja. (Kalau sampai ada pelarangan masuk untuk ojol dan pedagang, berlebih enggak) ya berlebihan, harusnya enggak seperti itu. Boleh lewat, tapi kita harus jaga jarak gitu. Kalau mau beli atau apa itu jaga jarak," ungkapnya.

"Kalau di luar negeri aja bahkan ngambilnya aja pakai tongkat, seperti apa gitu. Kalau gojek kan udah diatur, dia kalau gofood kan 3 meter dia, ditaruh dulu uangnya, baru ambil gitu jaraknya enggak boleh berdekatan," sambungnya.

Agus menegaskan, masyarakat tak perlu berlebihan dalam menyikapi virus corona. Namun, ia tetap meminta untuk masyarakat selalu menjaga jaraknya saat ingin berkomunikasi dengan orang lain.

"Iya (enggak boleh berlebihan), jaga jarak terutama. Jangan sampai kamu menulari atau kamu ketularan dari orang lain. Makanya kalau ngomong juga jangan terlalu dekat, kalau keluar pakai masker, sapu tangan, ditutup mulutnya kalau batuk enggak nyemprot ke mana-mana. Nah itu dijaga, itu intinya," tegasnya.

Dirinya pun memberikan contoh salah satu cara dalam menerapkan physical distangcing. Seperti berkumpul bersama keluarga dengan menjaga jarak dengan yang lainnya. Karena, hal itu untuk menghindari adanya penyebaran virus yang keluar dari mulut kita.

"Kalau saya duduk jauh-jauhan, kamarnya sama itu (anak). Saya kan takut nularin anak saya, kalau sama isteri saya masih satu kasur kalau tidur. Sama keluarga, kalau ada keluarga kecil, orang tua itu agak jauh, itu takutnya ketularan. Kita jangan sampai menulari orang atau ketularan orang, itu yang paling penting prinsipnya itu," ucapnya.

Ia pun juga tak lupa untuk memberikan saran kepada masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional. Mereka yang berbelanja di pasar tradisional, mesti menyiapkan masker, hand sanitizer serta sapu tangan.

Setelah itu, mereka diminta untuk langsung membersihkan dirinya dengan cara berkeramas saat mandi. Dan pakaian yang dikenakan itu langsung dibersihkan kembali dari kuman yang tak terlihat secara kasat mata.

"Kalau saya siapkan, saya pakai masker, hand sanitizer, ditutupi badannya, nanti pulang bersihkan mandi keramas gitu ya, supaya enggak terlalu bahaya. Karena takut ketularan orang lain. Jadi kalau dari luar, saya langsung ganti baju semua, mandi keramas, sabunan, supaya kalau ada sisa-sisa virus atau apa bisa hilang dan langsung dicuci," jelasnya.

Bahasa yang Tak Dimengerti Masyarakat

Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengaku, bahasa-bahasa yang digunakan oleh pemerintah dalam penyampain soal corona terlalu berat. Sehingga, membuat sebagian masyarakat belum mengerti apa yang dimaksud pemerintah.

Salah satu bahasa yang saat ini digunakan oleh pemerintah yakni social distancing serta lockdown. Bahasa-bahasa seperti itulah yang sampai kini sebagain masyarakat belum mengertinya.

"Jadi gini, lockdown itu omongan politik. Lockdown itu kan sebenarnya karantina, jadi lockdown itu. Buka UU Karantina Kesehatan, cek itu di UU nomor 6 tahun 2018, itu disitu ada karantina. Jadi di situ ada pembatasan sosial dan karantina. Kalau karantina itu lockdown bahasnya, cuma ini pemerintah kita ini, enggak dingerti orang, enggak dingerti masyarakat," kata Said Iqbal.

Kemudian, ada istilah sosial distancing, suspect, lockdown, kemudian physical distancing.

"Jadi masyarakat enggak ngerti, itu yang perlunya komunikasi, edukasi dan sosialisasi, supaya masyarakat paham dan makasudnya apa itu Covid, ngerti gitu, jadi ini persoalan di sini aja," jelas Said Iqbal.

Reporter: Nur Habibie

Sumber: Merdeka

Saksikan video pilihan di bawah ini: