Bagaimana Selandia Baru berhasil mengatasi virus corona?

Selandia Baru mencabut sebagian besar pembatasan virus corona pada Senin karena negara itu melaporkan tidak ada lagi kasus aktif.

Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan dia "melakukan sedikit tarian" ketika dia diberitahu bahwa negara itu secara efektif bebas dari virus corona, artinya seluruh Selandia Baru akan dipindahkan ke level 1, yang terendah dari sistem peringatan empat tingkat, agar transmisi COVID-19 yang benar-benar berakhir di negara tersebut.

Di bawah aturan baru, yang mulai berlaku pada tengah malam waktu setempat pada Senin, orang tidak lagi perlu memberlakukan protokol jarak sosial satu sama lain dan tidak ada batasan untuk pertemuan publik. Tetapi, yang terpenting, perbatasan tetap tertutup bagi wisatawan asing.

Warga Selandia Baru yang tiba dari luar negeri akan menjalani masa isolasi 14 hari.

Negara kepulauan Pasifik itu adalah satu di antara segelintir negara yang telah bangkit dari pandemi, sementara ekonomi besar seperti AS, Inggris, India, dan Brasil terus bergulat dengan penyebaran virus.

Tetapi bagaimana negara itu berhasil mengatasi diri dari virus corona?

Selandia Baru adalah negara terpencil dengan populasi hanya 5 juta dan perbatasan eksternalnya mudah ditutup.

Lokasinya yang terpencil di Pasifik Selatan memberinya waktu yang sangat untuk melihat bagaimana penyebaran wabah di negara-negara lain, dan Ardern bertindak tegas dengan memberlakukan kuncian ketat di awal penyebaran wabah.

Juga, terutama, biosekuriti di Selandia Baru menjaga ancaman terhadap pertanian dan keanekaragaman hayati, dengan langkah-langkah kontrol perbatasan yang ketat diambil untuk mencegah masuknya organisme yang tidak diinginkan ke negara tersebut.

Ardern telah mendapatkan pujian karena bertindak cepat dalam menghadapi pandemi, bahkan ketika negara-negara barat lainnya tampak sangat lambat untuk menerapkan aturan kuncian.

"Kami akan bekerja keras dan kami akan pulih lebih awal," kata Ardern kepada publik pada pertengahan Maret.

"Kami hanya memiliki 102 kasus, tetapi Italia juga pernah melakukannya."

Ardern memberlakukan kuncian ketat di awal wabah di Selandia Baru, memberi pemerintah waktu lebih banyak untuk menetapkan strateginya sendiri, yang sangat fokus pada kontrol dan penutupan perbatasan.

Dia mengumumkan bahwa Selandia Baru akan dengan cepat meningkatkan level jarak fisik dan pembatasan perjalanan pada 23 Maret, dan melakukan penutupan nasional secara penuh beberapa hari kemudian.

Karena secara efektif menempatkan negara dalam karantina rumah massal selama sebulan, banyak rantai transmisi COVID-19 yang berhasil diredam

Pada 23 Maret, sebulan setelah negara itu mencatat kasus pertamanya, Selandia Baru berkomitmen pada strategi penutupan wilayah.

Pendekatan ini berfokus pada menunda kedatangan virus, diikuti oleh berbagai langkah untuk meratakan kurva kasus dan kematian.

Selandia Baru telah mengambil pendekatan yang mirip dengan Australia dengan mengikuti rencana pandemi mereka tetapi berbeda ketika menerapkan strategi penguncian wilayah.

Kontrol ditingkatkan setelah 15 Maret karena dibutuhkan waktu selama 14 hari isolasi diri untuk semua kedatangan.

Isolasi kasus, pelacakan kontak dan karantina untuk membasmi kasus juga diterapkan.

Michael Baker, profesor di departemen kesehatan masyarakat Universitas Otago di Wellington, yang telah memberi nasihat kepada pemerintah Selandia Baru tentang tanggapannya, mengatakan menerapkan penutupan penuh - termasuk penutupan sekolah dan tempat kerja yang tidak penting, larangan pada pertemuan sosial, dan pembatasan perjalanan yang ketat - memungkinkan negara untuk menerapkan kuncian wilayah.

Baker mengatakan kepada jurnal medis The Lancet bahwa penguncian penuh memungkinkan negara untuk menjalankan sistem kunci untuk mengelola perbatasan secara efektif dan melakukan pelacakan kontak, pengujian dan pengawasan.

Yang terpenting, hal ini memperluas pengujian dan pelacakan kontak - suatu tindakan yang disetujui para ahli akan sangat penting untuk menghentikan wabah gelombang kedua.

Strategi ini juga memprioritaskan "isolasi kasus dan karantina kontak", yang menurut akademisi akan memungkinkan Selandia Baru untuk "memutus mata rantai penularan".

Dari 22 Januari hingga 27 Mei, lebih dari 247.295 orang diuji di negara yang hanya terdiri dari 5 juta penduduk. Pengujian telah difokuskan pada orang dengan gejala, dengan pelacakan kontak dekat dan kontak biasa.

Ardern mengatakan pada April: “Sukses tidak berarti nol kasus COVID-19. Ini berarti tidak ada toleransi - begitu kita memiliki sebuah kasus, kita langsung bertindak, menguji orang itu.

"Kami mengisolasi mereka ... kami melakukan wawancara dan melacak kontak untuk menemukan semua orang yang telah melakukan kontak dengan mereka sementara mereka mungkin telah meneruskannya, dan kami meminta mereka untuk mengisolasi diri.

"Begitulah cara kami mengatasi penularan kasus COVID."