Bagaimana Virus Corona Mengubah Desain Kantor Masa Depan

Mohammad Arief Hidayat, DW Indonesia
·Bacaan 6 menit

Jutaan pekerja kantor di seluruh dunia telah beralih bekerja dari rumah sejak dimulainya pandemi corona pada awal tahun 2020. Karena kantor kosong dan pekerjaan terus berjalan, banyak pengusaha berpikir dua kali tentang mahalnya biaya ruang kerja komunal.

Google, Twitter, Microsoft, dan banyak perusahaan lain, besar dan kecil, mengatakan mereka berencana untuk tetap menerapkan pola kerja dari rumah, juga setelah pandemi selesai. Pakar kesehatan juga menyarankan hal ini dengan mengatakan, pandemi corona ini bukan pandemi terakhir yang harus ditangani dunia.

Pandemi corona memang mengubah drastis pandangan terhadap ruang kerja dan perkantoran. Bagi para arsitek dan mereka yang berada di sektor konstruksi bangunan, hal ini juga mulai mengubah cara mereka merancang ruang perkantoran masa depan.

Virus corona bawa banyak masalah, tapi banyak juga solusi

"Satu aspek menarik dari krisis COVID saat ini adalah kesempatan untuk mengamati perubahan dan adaptasi dalam industri kami secara real time," kata TJ Chambers, perancang proyek di USA Architects di Pennsylvania kepada DW.

"Arsitek umumnya adalah pemecah masalah, yang ditugaskan untuk mencerna data dalam jumlah besar dan mengonfigurasi solusi untuk memenuhi berbagai tujuan yang ditetapkan pada awal proyek," katanya. Pandemi menawarkan banyak masalah bagi untuk dipecahkan.

"Di tengah krisis kesehatan global, kami mendapati diri kami mengajukan banyak pertanyaan," kata Chambers, yang perusahaannya sebagian besar fokus pada pembangunan sekolah. "Apa yang terjadi ketika rumah juga menjadi ruang kerja? Bagaimana ruang publik dapat ditata ulang untuk meringankan perjuangan yang sedang dihadapi banyak bisnis dalam iklim seperti itu? Apa yang dapat kita pelajari dari pandemi ini dan diterapkan menghadapi tantangan masa depan?"

Seiring dengan rentetan pertanyaan, pandemi telah memberi arsitek satu hal lain: waktu. Proyek bangunan yang tidak penting di seluruh dunia ditutup karena lockdown, dan perusahaan di banyak negara telah melaporkan penurunan permintaan untuk pekerjaan baru. Jajak pendapat pengembang real estat komersial di California menunjukkan, perusahaan-perusahaan mengharapkan permintaan yang lebih rendah untuk ruang kantor di masa depan, karena banyak orang yang sekarang bekerja dari rumah kelihatannya tidak kembali bekerja di kantor lagi.

"Dalam jangka pendek, telah terjadi pergeseran jenis proyek, karena orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah mereka, saat mereka pindah ke luar kota atau perlu membuat ruang kantor di rumahnya," kata Vonn Weisenberger, seorang desainer arsitektur di SKOLNICK Architecture + Kemitraan Desain di Kota New York. "Saya pikir, uang telah secara drastis beralih ke proyek-proyek pribadi, seperti rumah dan apartemen pribadi."

Berkantor di rumah

Mereka yang punya uang telah melakukan beberapa hal menarik sejak pandemi dimulai. Contohnya termasuk seorang arsitek di Brasil, yang menciptakan kantor yang bisa ditenggelamkan ke halaman rumput halaman di depan rumah untuk klien yang menginginkan sensasi pergi kerja. Seorang desainer di Boston mengerjakan ulang ide sebelumnya untuk membangun rumah bermain untuk anak-anaknya menjadi kantor dua lantai untuk dirinya sendiri. Beberapa klien meminta ruang kantor di rumah yang menyertakan latar belakang yang terlihat menarik untuk konferensi video lewat Zoom.

Banyak juga permintaan untuk renovasi rumah, termasuk menambahkan ruang kantor, gym, dan ruang kerja yang fleksibel. Menurut survei dari American Institute of Architects, 68% arsitek melaporkan permintaan kantor di rumah tahun lalu, meningkat dari 2019 yang hanya 29%.

"Desain akan menjadi jauh lebih pribadi dan dalam beberapa hal lebih teknis, karena orang menggunakan rumah mereka untuk bekerja, sekolah, dan seterusnya," kata desainer Christiane Lemieux kepada majalah Architectural Digest.

Banyak desainer yang tertarik dengan potensi ruang multiguna. Dinding dan layar yang dapat disesuaikan untuk menciptakan ruang atau privasi sesuai kebutuhan. Isolasi suara pada dinding interior juga diinginkan, karena anggota rumah tangga mungkin mengadakan konferensi video secara bersamaan di kelompok yang berbeda-beda.

Kebersihan juga mengambil peran yang lebih besar, baik dalam desain bangunan tempat tinggal maupun bangunan komersial. Sistem pemurnian udara dan stasiun sanitasi ada dalam daftar hal-hal yang perlu dipertimbangkan, bahkan ada pembicaraan tentang pemasangan pencahayaan berdasarkan sinar UVC, sejenis radiasi pembunuh bakteri. Tidak seperti sinar UVA dan UVB, sinar UVC dapat diproduksi secara artifisial dan tidak menyebabkan kanker kulit atau luka bakar.

Permukaan lantai yang keras dan perawatan dinding yang dapat dicuci mungkin lebih disukai, karena lebih mudah dibersihkan, seperti halnya bahan seperti porselen, kuarsa, dan granit, yang mungkin memiliki sifat antibakteri atau antimikroba. Bahkan mungkin ada pergeseran ke arah permukaan dinding yang melengkung sebagai pengganti sudut, karena sudut lebih sulit untuk didesinfeksi, kata arsitek Amerika Stephen Chu.

"Menariknya, perubahan ini juga bisa menyebabkan perubahan gaya secara keseluruhan," katanya kepada majalah Boston.

Virus corona "membunuh" sistem kantor terbuka

Pergeseran seperti itu pernah terjadi sebelumnya. Arsitektur modernis, yang terkenal dengan garis-garisnya yang keras, bersih, dan dinding yang telanjang, muncul pada abad ke-20 setelah epidemi tuberkulosis membuat banyak orang masuk sanatorium yang punya desain seperti itu.

Pandemi corona akan menjadi tantangan besar bagi para bos yang senang dengan desain kantor terbuka. Gaya yang mendukung penggunaan beberapa ruang terbuka yang besar sebagai pengganti banyak ruangan kecil dan tertutup telah populer di kalangan desainer rumah dan kantor dalam beberapa tahun terakhir.

Atasan dan perusahaan juga lebih senang desain yang bisa menghemat biaya dan meningkatkan kolaborasi antarkaryawan. Tetapi banyak karyawan menganggap kantor terbuka mengganggu mereka dan tidak bersifat pribadi, dan telah lama mengeluh bahwa hal itu juga meningkatkan penyebaran penyakit.

Sekarang, wabah corona akan membungkam tren kantor terbuka. Apalagi banyak orang yang harus menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Anggota keluarga atau teman serumah sekarang belajar menghargai ruang pribadi yang dipisahkan oleh tembok.

Di lingkungan desain dan kebijakan publik, pandemi ini juga telah meningkatkan diskusi tentang "Sick Building Syndrome", suatu kondisi di mana orang dibuat sakit oleh bangunan yang mereka tempati. Pandemi membuat orang menyoroti pentingnya memiliki ruang kerja dan tempat tinggal yang baik, secara fisik maupun secara mental.

"Idenya adalah bahwa melalui strategi aktif dan pasif, seperti memperkenalkan cahaya matahari yang lebih alami, menggabungkan bahan alami, menciptakan koneksi visual dan fisik ke luar ruangan, dan menggunakan sistem bangunan pintar yang seba otomatis, kami dapat meningkatkan kualitas hidup bagi mereka yang tinggal, bekerja, dan belajar di ruang-ruang ini," kata Chambers.

Mendemokratisasikan desain

Vonn Weisenberger juga mencatat peningkatan fokus untuk menciptakan ruang yang lebih sehat. Pandemi telah menyebabkan peningkatan besar pada desainer yang melakukan pekerjaan pro bono alias gratis untuk bisnis kecil dan organisasi yang biasanya tidak mampu membeli layanan desain profesional, katanya.

Salah satu inisiatif tersebut adalah Design Advocates, di mana Weisenberger sendiri menjadi bagiannya. Proyek ini muncul musim semi lalu ketika penurunan beban kerja mengilhami beberapa kantor arsitektur dan desain di New York City untuk bersatu guna memenuhi kebutuhan komunitas lokal selama pandemi. Ini termasuk hal-hal seperti ruang makan luar ruangan yang didesain ulang, tempat penampungan tunawisma yang dikonfigurasi ulang, dan permainan luar ruangan serta struktur furnitur yang dapat digunakan di jalan-jalan yang terbuka untuk lalu lintas.

"Saya pikir perubahan terbesar dan terpenting telah dan akan terus terjadi di ruang publik dan luar ruangan," kata Vonn Weisenberger, menunjuk pada inisiatif serupa oleh kolektif desain lainnya. Baginya, peningkatan fokus industri pada demokratisasi akses ke desain yang baik terkait juga dengan gerakan yang menuntut keadilan sosial yang muncul selama pandemi tahun 2020.

"Saya khawatir bahwa setelah pandemi selesai, banyak hal yang dibicarakan sekarang, seperti memastikan setiap orang dalam pembangunan perumahan murah untuk memiliki balkon, akan terlempar keluar jendela karena itu menambah biaya," kata Weisenberger.

Chambers, di sisi lain, penuh harapan. "Pada akhirnya, saya melihat pandemi ini berdampak besar pada cara dunia berfungsi," katanya.

"Kita dapat memanfaatkan waktu kita dengan lebih baik, mengurangi jumlah perjalanan yang kita lakukan sebagai masyarakat, dan bekerja lebih efisien. Dengan demikian, kita dapat memiliki lebih banyak waktu untuk mengabdikan diri pada keluarga, minat, dan kehidupan kita di luar kantor. Mungkin itu yang membuat saya menjadi orang yang optimis dalam masa yang tidak pasti." (hp/vlz)