Bagi Muslim Prancis, Pilihannya adalah Kandidat yang Paling Sedikit Mudaratnya

·Bacaan 4 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Muslim Prancis dihadapkan pada dua pilihan: Emmanuel Macron yang selama ini sudah banyak merugikan atau Marine Le Pen, tokoh perempuan partai kanan yang punya sejarah anti-muslim.

Abdulkarim Bouadla dengan semangat memilih Emmanuel Macron lima tahun lalu karena alasan dia tokoh muda dan punya visi untuk mengubah Prancis. Tapi setelah satu periode Macron yang menurut dia banyak merugikan muslim Prancis seperti dirinya, dia pun kecewa.

Menurut Bouadla, memilih antara Macron atau Le Pen dalam pemilu kali ini seperti memilih "memotong badan atau mematahkan kaki."

Macron dan Le Pen kini bertarung untuk memperebutkan sekitar 7,7 juta suara yang pada pemilu putaran pertama 10 April lalu memilih Jean-Luc Melenchon, tokoh kiri yang berada di urutan ketiga setelah Macron dan Le Pen.

Hampir 70 persen muslim memilih Melenchon, satu-satunya kandidat yang konsisten mengecam diskriminasi terhadap muslim, menurut survei Ifop.

Sebaliknya, Macron hanya meraih sekitar 14 persen suara muslim tahun ini. Pada 2017 dia meraup 24 persen suara muslim. Le Pen meraih 7 persen suara muslim pada putaran pertama tahun ini. Secara nasional, menurut Ifop, suara muslim naik sekitar 2 persen dibanding rata-rata.

Saat kedua kandidat bertarung di menit terakhir yang ketat, keberhasilan Macron tampaknya bergantung pada apakah dia mampu meyakinkan warga muslim seperti Bouadla bahwa dirinya adalah pilihan terbaik dan tidak memilih berarti membiarkan tokoh anti-muslim bisa jadi pemimpin.

"Kalau saya memilih Macron, artinya saya ikut mendukung semua perbuatan buruk yang dia lakukan kepada muslim," ujar Bouadla, pria 50 tahun itu, seperti dilansir laman the New York Times, Jumat (22/4).

Dia masih bimbang antara jadi golput atau memilih Macron karena alasan untuk menyingkirkan orang yang menurut dia lebih buruk dan berbahaya.

Sebagian besar survei memperlihatkan Macron unggul 10 persen dari pesaingnya. Artinya dia punya peluang besar untuk kembali terpilih, tapi angka itu jauh lebih tipis dari selisih 32 persen yang dia raih saat menang dari Le Pen pada 2017.

Tapi seperti yang dikatakan Eric Coquerel, anggota parlemen dan orang dekat Melenchon, suara muslim bisa membalikkan keadaan jika persaingan menjadi "sangat ketat".

bagi muslim prancis, pilihannya adalah kandidat yang paling sedikit mudaratnya
bagi muslim prancis, pilihannya adalah kandidat yang paling sedikit mudaratnya

Warga muslim banyak yang marah dengan pemerintahan Macron setelah muncul undang-undang 2021 yang membuat lebih dari 700 lembaga muslim harus ditutup lantaran dianggap menyerukan radikalisasi, tuduhan yang sudah banyak dibantah oleh warga muslim sendiri dan kelompok pembela hak asasi. Namun belum jelas bagaimana kondisi ini bisa mengubah peta politik.

Sekitar enam juta penduduk muslim Prancis mencakup 10 persen populasi. Tapi pengaruh politik mereka sejak lama dianggap lemah karena tingginya angka abstain alias golput dan perpecahan di antara mereka berdasarkan kelas dan keturunan. Atas alasan itu, raihan suara yang cukup besar bagi Melenchon boleh jadi menunjukkan telah terjadi pergeseran, kata sejumlah pengamat.

Julien Talpin, sosiolog di Pusat Penelitian Sains Nasional mengatakan, dukungan muslim kepada satu kandidat termasuk fenomena baru saat ini.

"Di masa lalu, seruan untuk memilih kandidat yang mendukung Islam sifatnya hanya angin lalu," kata dia.

Melenchon meraup suara terbesar nasional di Bondy dan wilayah Seine-Saint-Denis, kawasan di utara Paris yang juga daerah kaum miskin, imigran, dan populasi muslim.

Di Bondy, warga yang memilih pada putaran pertama jumlahnya cukup mengejutkan, mengingat biasanya kawasan itu rendah minat warganya untuk memilih.

"Jumlah orang muda, keluarga, dan terutama orang yang antre memilih--menunjukkan ada sesuatu yang berubah," kata Mehmet Ozguner, 22 tahun, panitia pemilu dari kubu partai Melenchon.

Banyak tokoh agama, sosok berpengaruh di media sosial, dan pemimpin komunitas, menyerukan warga muslim bersatu memilih Melenchon.

Pada 2017, Macron mencoba meyakinkan banyak warga muslim soal isu sekularisme Prancis yang dikenal dengan "lacite" atau keanekaragaman dan multikulurisme, kata Vincent Tiberj, sosiolog Universitas Po Bordeaux yang mempelajri pola suara muslim Prancis dalam pemilu.

Tapi kata Tiberj, ada gap antara "apa yang dikatakan Macron sang presiden dan apa yang dilakukan pemerintahannya."

Macron berdiri di posisi garis keras setelah peristiwa pembunuhan seorang guru bernama Samel Paty oleh orang fanatik Islamis yang marah karena guru itu memperlihatkan kartun Nabi dalam kelasnya.

Setelah undang-undang anti-separatis yang dinilai banyak kalangan sebagai anti-muslim disahkan pada Agustus 2021, aparat menutup 718 masjid, sekolah muslim, dan lembaga yang dianggap mendukung separatis dan membekukan aset mereka senilai 40 juta euro.

Merasa dikhianati, banyak warga muslim memilih Le Pen untuk menghukum Macron pada putaran pertama.

"Saya tidak memilih Macron," kata Ahmad Leyou, 63 tahun, sopir taksi di Trappes, kota di barat daya Paris, yang memilih Le Pen pada putaran pertama dan berniat memilih perempuan itu lagi pada putaran kedua hari ini.

Islam Menyane, perempuan muslim 29 tahun, mengaku khawatir dengan pendirian Le Pen soal Islam. Tapi dia menyukai kebijakan ekonomi Le Pen yang fokus untuk membantu kelas pekerja dan pemilih muda seperti dirinya. Dia juga suka citra Le Pen yang berhasil menunjukkan jati diri lebih lunak dalam dua tahun terakhir.

"Bagaimana pun dia juga manusia, dia seorang ibu, dia ingin mempertahankan negaranya," kata Menyane seraya mengatakan dia tidak takut jika Le Pen yang menang.

"Mungkin itu akan jadi kejutan menyenangkan." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel