Bagi Perempuan Sulung di Keluarga, Dilangkahi Adik Menikah Sungguh Menguji Ego

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Yvedd

Sesungguhnya menceritakan kembali momen pernikahan yang paling menguras emosi adalah pernikahan adikku. Hikmah besar dalam titik balik kehidupan quarter life crisis seorang perempuan. Luka ditorehkan karena rasa sayang dan kepercayaan dikhianati oleh peristiwa yang tidak pernah disangka. Saat dimana berusaha ikhlas, legowo, merendahkan ego sebagai anak pertama itu benar-benar menguji mentalku empat belas tahun yang lalu.

Aku terlahir sebagai anak pertama perempuan dalam keluarga yang sedari awal lepas dari rumah menjadi tulang punggung untuk mama dan adik-adikku setelah papa pergi meninggalkan kami tanpa support financial yang berarti. Kala itu mama dan aku saling bahu membahu menghidupkan kepul dapur rumah lima jendela.

Selagi aku menuntut ilmu, aku bekerja paruh waktu untuk terus membiayai sekolah ketiga adikku yang masih belum dewasa. Aku tidak berharap apa pun selain kami bisa menjalani hidup dengan bahagia dan berkecukupan. Termasuk mendukung adikku untuk melanjutkan sekolah di universitas yang diingikannya.

Air Mata yang Mengalir di Pipi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/chingyunsong
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/chingyunsong

Sedikit pun aku tidak berharap timbal balik atau merasa sesuatu yang telah aku korbankan terhadapnya adalah utang. Sebagai kakak paling besar, aku sering bertukar pendapat bagaimana hidup yang selayaknya kami impikan dan harapan bahwa kami bisa mengubah nasib lebih baik di masa depan.

Hingga akhirnya hari itu tiba, yang membuatku duduk terpekur di salah satu bangku Stasiun Tugu Yogyakarta. Air mata lolos begitu saja meskipun aku berusaha keras menahannya. Walaupun ada genggaman erat tangan menguatkanku tanpa banyak kata. Membiarkan kepala ini bersandar di bahunya.

Aku limbung antara kecewa, tidak terima tapi kalaupun aku kehilangan nyawa untuknya, aku yakin aku bisa berkorban sebegitu besar. Bukan aku tidak ingin ikut bahagia, tapi aku sendiri merasa ini bagian dari kesalahanku. Aku bukan seorang kakak yang baik yang memperhatikan adikku di kesibukanku mencari uang dan bertahan hidup. Luluh lantak dalam perasaan kecewa yang teramat besar.

Adikku dan pacarnya meminta izin untuk melangkahiku menikah kepada mamaku. Ada hal yang membuat mereka terpaksa untuk melakukannya. Padahal aku sendiri sudah pernah mengutarakan jika mereka ingin duluan menikah, aku mengizinkan asal semua sesuai aturannya.

Tapi dengan peristiwa ini, justru permintaan mereka membuatku terluka. Hingga aku mengurungkan niatku untuk pulang ke rumah karena aku sendiri merasa aku tidak baik-baik saja dengan semua ini.

Pernikahan Adik

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku tahu adikku sendiri tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik juga. Dia lebih tertekan, dia ingin menceritakan segalanya seperti yang biasa kita lakukan di beranda kontrakan. Ngobrol kesana kemari ditemani secangkir teh hangat dan gorengan. Sesekali tertawa bercanda dan berbagi pelukan menguatkan. Kami banyak melewati hal tersebut hingga waktu berjalan dan seperti berhenti di detik ini. Dia banyak terdiam dalam rasa bersalahnya.

Aku menangis dan dia pun sama menangis meskipun kami berada di dua tempat berbeda. Aku tak bisa banyak berkata, menyalahkannya tidak membuat segalanya lebih baik. Tapi justru aku sendiri yang harus menghadapi egoku yang terluka.

Perasaan denial sukar dihilangkan karena tidak bisa menjaga adikku dengan baik hingga melakukan hal seperti ini. Terkadang menjadi seseorang yang sekian lama mengampu tanggung jawab besar sehingga lupa untuk melihat secara nyata, bahwa adikku sudah bertumbuh dalam usia dewasa yang artinya dia bisa dengan sadar memutuskan dan menjalani pilihannya.

Sehingga akhirnya aku tersadar untuk bisa menjadi sosok yang lebih untuk mendukungnya. Mama sendiri memberikan contoh yang sangat baik dengan segala kelegowoannya. Memeluknya tanpa banyak kata selain juga membantu proses pendaftaran pernikahannya secara singkat dan tepat.

Lewati layar HP aku menyaksikan proses ijab kabul yang berlangsung di KUA. Acara pernikahan sederhana yang jauh dari bayangan mimpi yang pernah kami bagi bersama. Tidak ada seragam keluarga, pesta meriah atau dekorasi penuh bunga.

Adikku memutuskan untuk mengawali semua dengan sederhana. Bersyukur keluarga suamimya bisa menerima ini semua dengan baik walaupun tetap ada sedikikt drama. Aku mengakui kekuranganku, memaafkan diri sendiri karena membiarkan emosi negatif mengambil alih logikaku beberapa minggu terakhir ini. Meskipun saat itu aku tidak hadir dalam pernikahannya tapi aku menyampaikan doa tulus agar pernikahannya langgeng, rukun sampai maut memisahkan.

Satu kesalahan tidak memadamkan harapan di masa depan selagi berusaha memperbaiki yang telah terjadi. Dan aku cukup beruntung telah menyaksikan pernikahan yang berlangsung lebih dari satu dekade ini berjalan apik di antara riak kecil kehidupan dengan dua keponakan yang cantik dan ganteng. Aku turut berbahagia. Barakallahu laka wa barakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Vice Versa.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel