Bagi Trump, ini adalah akhir pekan mengerikan karena pembangkangan dan kekalahan

·Bacaan 3 menit

Washington (AFP) - Alisnya berkerut, bahunya sedikit terkulai, Donald Trump tampak sendirian Sabtu di lapangan golfnya dekat Washington.

Itu adalah cerminan fisik dari akhir pekan mengerikan yang ditandai oleh kekalahan elektoral bersih dari Joe Biden dan oleh sorak-sorai para pendukung Demokrat yang berkumpul di luar Gedung Putih.

--Pukul 8:20 Sabtu pagi: Hari itu dimulai dengan ketegangan yang melelahkan dari perlombaan yang masih belum terselesaikan yang membebani warga Amerika di seantero negeri. Itu adalah hari keempat menunggu hasil pemilu yang datang sangat lambat, dan Trump mencerca proyeksi kekalahannya yang kian besar via Twitter. Seperti yang sering dia lakukan, dia mengawali hari dengan serangkaian cuitan marah dan menantang, pesan-pesan yang langsung ditandai sebagai "menyesatkan" oleh platform media sosial itu.

Cuitan terakhirnya sebelum jaringan-jaringan besar televisi AS menyatakan dia kalah dari Biden: "SAYA MEMENANGKAN PEMILU INI, DENGAN SUARA TERBANYAK!"

--Pukul 10:00 Sabtu, iring-iringan kepresidenan meninggalkan Gedung Putih di bawah langit biru yang cerah, pertama kalinya Trump keluar dari kediaman bersejarah sejak malam pemilu, Selasa.

Mengenakan celana abu-abu tua, jaket abu-abu, dan topi putih "Make America Great Again", Trump segera tiba di klub golfnya di seberang Sungai Potomac di Sterling, Virginia.

Dari pinggir jalan, saat iring-iringan mobil itu lewat, seseorang memegang spanduk yang mungkin terlihat telah terbebas dari sakit: "Menyingkirlah."

Keputusan bermain golf karena Amerika -dan dunia- masih dibalut ketegangan menyiksa atas hasil pemilu yang dianggap aneh oleh sebagian kalangan.

Fotografer dapat mengambil gambar dari kejauhan presiden -yang merupakan pegolf terampil- mengendarai salah satu dari dua kereta golf putih. Setelah itu, dia kembali ke clubhouse dan berfoto bersama sepasang pengantin baru yang terkejut. Tetapi tidak ada gambar saat dia mengetahui kekalahannya diumumkan di seluruh dunia.

Sementara itu, pernyataan dari tim kampanyenya yang telah dipersiapkan dengan jelas sebelumnya menegaskan bahwa Trump menang dan menuduh Biden "bergegas untuk berpura-pura menjadi pemenang".

Setelah lebih dari empat jam di klub itu di Virginia, iring-iringan mobil Trump kembali, namun dengan sebuah tantangan: melewati kerumunan warga Washington yang bersuka cita yang telah berbondong-bondong ke jalan-jalan di sekitar Gedung Putih guna merayakan kemenangan Biden, berteriak, bertepuk tangan dan membunyikan klakson mobil tanpa henti. Gedung Putih berada di jantung Washington yang merupakan benteng Demokrat di mana Biden mengambil 93 persen suara melawan hanya lima persen suara untuk Trump.

"Kemasi kopermu dan pulanglah," tulis salah satu poster. Beberapa pejalan kaki menunjukkan jari tengahnya saat iring-iringan mobil melintas.

Di luar pintu masuk samping ke Gedung Putih, Trump, dengan rahang terkatup, menyapa jurnalis dengan melambaikan tangannya.

Di jaringan televisi AS, Trump -pengamat TV biasa- akan melihat pemandangan kerumunan perayaan yang sangat besar mengalir ke jalan-jalan di setiap kota besar di negara itu. Sementara itu, hanya satu blok jauhnya di Black Lives Matter Plaza yang dinamai kembali oleh pejabat Washington untuk menunjukkan solidaritas terhadap kekerasan polisi, suasananya sama meriah.

Sore harinya, Trump kembali membuka Twitter untuk menyalurkan amarahnya, dengan mengatakan, "SAYA TELAH MEMENANGKAN PEMILU INI, MEMPEROLEH 71.000.000 SUARA SAH," sebelum menambahkan dalam cuitan kedua, "TERBANYAK bagi presiden yang tengah menjabat!" Tetapi pesan-pesannya sudah kehilangan beberapa resonansi sebelumnya.

Sampai Minggu pagi, Trump masih belum menelepon lawannya dari Demokrat untuk memberi selamat kepada dia yang merupakan sebuah tradisi lama.

Sebaliknya, dia mengulangi skenario sama seperti Sabtu: serangkaian cuitan berisi keluhan marah mengenai adanya kecurangan suara tanpa disertai bukti dan kemudian kembali ke Virginia untuk bermain golf lagi.

Dalam perjalanan ke sana untuk kembali, Trump yang telah tersemangati oleh pujian para pendukung dalam berbagai kampanye politik besar yang dia adakan di seluruh negeri - kembali melewati penggemar Biden yang mengacungkan spanduk-spanduk bermusuhan di sepanjang jalan.

Tanpa ada kabar mengenai pernyataan kalah dari Trump, Gedung Putih sejauh ini tidak mengatakan apa-apa tentang rencana presiden untuk transisi panjang dari sekarang sampai 20 Januari, ketika Biden akan dilantik sebagai presiden ke-46 negara itu.

Presiden sekarang tampaknya menghadapi kian menyurutnya lingkaran pendukung kunci yang vokal mendukung dia dalam desakannya untuk mengejar gugatan hukum terhadap hasil pemilu yang peluang berhasilnya kecil.

Namun salah seorang sekutu terdekatnya, Senator Lindsey Graham, mendukung Trump, ketika Minggu pagi mendesak dia agar: "Jangan menyerah, Tuan Presiden.

"Berjuanglah dengan keras."


la/bbk/mjs