Bahaso hadirkan MetaHuman avatar Menkominfo di pembukaan DTE G20

Perusahaan rintisan teknologi edukasi Indonesia Bahaso menghadirkan metaverse berupa MetaHuman avatar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate saat pembukaan pameran Digital Transformation Expo (DTE) G20.

"Kita memang diundang untuk ikut kegiatan DTE G20, dan sekaligus membuktikan kita memiliki keahlian Metaverse," ujar CEO PT Bahaso Intermedia Cakrawala Allana Abdullah dalam keterangan yang diterima, Selasa.

MetaHuman yang dihadirkan oleh Bahaso tersebut memandu Menkominfo saat menjelaskan tentang pelaksanaan DTE yang merupakan side event pada penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

Baca juga: Meta Connect 2022 ungkap terobosan masa depan Metaverse

Di antaranya penjelasan bahwa DTE merupakan kesempatan emas bagi Indonesia untuk berbagi cerita kepada dunia tentang berbagai potensi bangsa dan percepatan kemajuan digital di berbagai sektor.

Pameran tersebut juga akan menjadi rangkaian kegiatan terakhir Kelompok Kerja Ekonomi Digital atau Digital Economy Working Group (DEWG).

Hadirnya MetaHuman ini menjadi menarik karena biasanya teknologi tersebut masih dikerjasamakan di luar negeri. Tapi kalo ini MetaHuman dikerjakan 100 persen di dalam negeri oleh Bahaso.

"Terima kasih kepada Kemenkominfo yang selama ini mendukung karya anak-anak bangsa," kata Allana.

Dalam kesempatan itu Allana turut menyampaikan bahwa ke depan Bahaso bukan hanya akan bergerak dalam pembelajaran bahasa tapi juga sebagai pusat pelatihan profesional dengan menggunakan teknologi terkini.

Teknologi yang dimaksud seperti metaverse, blockchain, dan artificial intelligence yang dinamakan Bahaso Metaworld, agar lebih menarik
dan lebih atraktif.

“Betul kita di Bahaso sedang bergerak ke Web3 dan menjadi bagian dalam evolusi internet, dan membuat ekosistem digital yang lebih personal, lebih menarik,” ucap dia.

Baca juga: Meta dan WIR Group berpartisipasi di G20 lewat Metaverse Corner

Baca juga: IKN akan hadir di "metaverse" Jagat

Baca juga: Teknologi inklusif mudah diserap masyarakat dengan "digital culture"