Bahaya Kekurangan Garam Ternyata Mengerikan

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tak dapat dipungkiri, Natrium memiliki peranan penting yang dibutuhkan tubuh sebagai zat gizi esensial untuk mewujudkan hidup sehat, kuat, dan aktif.

Kelebihan maupun kekurangan (defisiensi) Natrium berisiko menjadi gangguan kesehatan. Jika kelebihan, maka efeknya adalah muncul berbagai penyakit degeneratif seperti hipertensi, stroke, gagal jantung, dan lain lain.

Jika kekurangan, maka efeknya adalah gangguan fungsi otot dan saraf, gangguan kontrol gula darah, dan lain lain. Nah, sebaiknya bagaimana menyeimbangkan dan mengendalikan asupan garam?

Menurut Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, dan President Federation of Asian Nutrition Societies, Prof Hardinsyah, ada beberapa cara untuk mengendalikan asupan garam, yang sesuai dengan kebiasaan atau pola konsumsi masyarakat Indonesia.

Menurut Prof Hardinsyah, tak bisa dipungkiri, kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membuat masakan memang banyak menggunakan bumbu dan rempah yang memiliki cita rasa tinggi, sedangkan dalam berbagai bumbu dan rempah itu juga sudah cukup banyak terkandung natrium.

"Nah cara yang sesuai jika masakan kita sudah banyak menggunakan berbagai bumbu rempah adalah dengan hanya manambahkan garam dapur dalam jumlah yang sedikit sekali," ujar Prof Hardinsyah dalam sebuah acara webinar.

Namun katanya, jika kita ingin makanan yang kita konsumsi memiliki cita rasa yang tinggi, namun juga ingin diet rendah garam, dengan menggunakan Bumbu Umami seperti MSG bisa dijadikan solusi.

"Banyak penelitian di luar negeri seperti di Jepang, menunjukkan bahwa penggunaan MSG bisa menjadi strategi diet rendah garam. Sebab, kandungan natrium dalam MSG hanya 1/3 dari kandungan natrium pada garam dapur biasa,” lanjutnya.

Bekerjasama dengan Pergizi Pangan bersama PT Ajinomoto Indonesia, Indonesia beberapa waktu lalu menggelar Webinar Event: "Keamanan dan Manfaat Kesehatan Bumbu dan Penguat Rasa, Serta Strategi Pengendalian Asupan Garam Guna Mewujudkan Hidup Sehat". Acara ini digelar sebagai upaya mendukung masyarakat Indonesia agar tetap sehat dengan menyebarluaskan fakta informatif tentang Bumbu Umami dan Monosodium Glutamat (MSG) di tengah pandemi COVID-19.

Webinar ini merupakan serangkaian event yang dilaksanakan dua kali pada bulan Desember 2020. Salah satu pembicara pada webinar event kali ini, menghadirkan Prof Dr. Hardinsyah, MS, sebagai Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, dan President Federation of Asian Nutrition Societies.

Jumlah peserta webinar ini mencapai 905, dan sebagian besar berprofesi sebagai ahli gizi, ahli diet, dan mahasiswa/i Prodi Gizi & Kesehatan Masyarakat.

“Acara webinar kali ini diperuntukkan bagi ahli gizi, ahli diet, dan mahasiswa/i Prodi Gizi & Kesehatan Masyarakat, karena kami merasa perlu menyebarkan fakta yang benar dan informatif tentang Bumbu Umami yang akan mendukung mereka tetap sehat, bahkan saat di situasi pandemi COVID-19. Selain itu, Kami berharap para mahasiswa/i sebagai calon ahli gizi masa depan Indonesia, dapat menyebarkan fakta informatif dan fakta ilmiah tentang apa yang kami sampaikan hari ini kepada masyarakat luas,” Katarina Larasati, Public Relations Manager - Ajinomoto Indonesia.
.
Acara Webinar ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Setelah ini, masih akan ada acara selanjutnya hingga Februari 2021, yang diperuntukkan bagi kalangan dokter dan mahasiswa/i kedokteran.