Bahaya Obesitas Saat Pandemi, Picu Vaksin COVID-19 Kurang Efektif

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Era work from home dan memperbanyak aktivitas di rumah membuat masyarakat rentan terhadap obesitas yang mengintai. Bahaya obesitas ini bisa berakibat pada banyak hal, termasuk tidak efektifnya vaksin COVID-19. Bagaimana penjelasannya?

Kondisi bobot tubuh berlebih hingga obesitas kerap menjadi permasalahan sebelum pandemi, dan kian meningkat semenjak era work from home (WFH). Imbasnya, pengidap obesitas yang juga rentan alami penyakit komorbid, terbukti membentuk respons yang kurang baik pada vaksin COVID-19.

"Yang dikhawatirkan adalah ketidakefektifan vaksin karena ada gangguan respon imun. Beberapa studi mengatakan bahwa pada pasien obesitas, respon imun setelah diberikan vaksin tidak sebaik pada orang yang tidak obesitas," ujar Dokter spesialis penyakit dalam dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) dr Dicky L. Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, dalam konferensi pers virtual Kementerian Kesehatan, Rabu 24 Maret 2021.

Menurutnya, individu dengan obesitas rentan mengalami masalah terkait inflamasi (peradangan) dan gangguan pada kekebalan tubuhnya sehingga imunitas yang terbentuk dari vaksin COVID-19, tak seratus persen efektif. Namun, proses vaksinasi akan tetap dianjurkan mengingat pencegahan harus dijalani.

"Walaupun tidak sebaik pasien non obesitas, proteksi terhadap flu itu cukup baik. Jadi, lebih bagus tetap diberikan vaksinasi," tutur Dicky.

Terlebih, individu yang obesitas terbukti lebih rentan pada gejala berat COVID-19. Data mencatat, sekitar 60 persen pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit mengidap obesitas.

"Pasien obesitas yang mendapat perawatan artinya ada gejala berat kalau sampai masuk rumah sakit," ujarnya lagi.

Untuk itu, individu dengan obesitas menjadi salah satu kelompok prioritas terhadap pemberian vaksinasi COVID-19. Yang menjadi catatan, pengidap obesitas harus dengan kondisi stabil dan mengendalikan komorbidnya jika ada.

"Justru prioritas diberikan vaksin. Dengan catatan, komorbiditas bisa dikendalikan oleh dokter penyakit dalam," kata Dicky.