Bahaya Pemakaian Tabir Surya dengan SPF di Atas 50

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tabir surya atau sunblock wajib dipakai sebelum terpapar sinar matahari, bahkan jika Anda berada di dalam ruangan. Pasalnya, sinar UV bisa menembus kaca hingga berdampak pada kerusakan sel kulit tanpa disadari.

Paparan sinar matahari yang berlebihan secara langsung juga dapat memicu penuaan dini, melasma, dan kanker kulit. Maka, penggunaan tabir surya berperan penting untuk melindungi kulit, terutama yang mengandung SPF.

"Penggunaan tabir surya dapat melindungi kulit dari radiasi UVA dan UVB. Tabir surya akan menyaring sinar UVB yakni yang berfungsi untuk luka bakar dan UVA untuk penuaan dini," kata Dr. dr. Shannaz Nadia Y., SpKK(K), MHA, dalam Webinar Launching Neotone Prevent SPF 50 dan Neotone Sensitive, Sabtu, 20 Maret 2021.

SPF atau sun protection factor mengukur seberapa baik tabir surya yang digunakan dapat melindungi dari paparan sinar UVB. Banyak orang yang menganggap semakin tinggi kandungan SPF-nya, semakin terlindungi pula kulit mereka.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk memakai SPF 50 atau lebih. Padahal, produk dengan SPF tinggi hanya memberikan rasa aman yang bersifat sementara.

"Produk dengan kadar SPF tidak melebihi 50 sudah dirasa cukup dan perlu diingat bahwa SPF hanya memberikan perlindungan dari radiasi UVB, karena tidak semua tabir surya dapat melindungi UVA," ujar dr.Shannaz.

Penggunaan SPF tinggi secara tidak tepat lebih berbahaya daripada orang yang memakai produk SPF yang lebih rendah. Tabir surya dengan SPF tinggi tidak hanya dapat menjanjikan perlindungan yang berlebih, justru dapat meningkatkan risiko kanker.

Tak hanya itu, produk dengan SPF yang lebih tinggi atau di atas SPF 50 dapat menyebabkan paparan UVB yang jauh lebih besar bahkan kemungkinan dapat menyebabkan kerusakan kulit dalam jangka panjang yang jauh lebih besar.

Beda UVA dan UVB

ilustrasi tabir surya/pixabay
ilustrasi tabir surya/pixabay

Sinar matahari dikenal sebagai sumber vitamin D yang baik. Meski ada banyak alasan bagus untuk mendapatkan sinar matahari, matahari memancarkan radiasi ultraviolet (UV). Jika terpapar dalam jangka waktu lama, sinar ultraviolet ini bisa memiliki dampak buruk bagi kulit. Dikutip dari berbagai sumber, ini beda antara tiga jenis sinar UV.

UVA

Sinar UVA merupakan sinar ultraviolet yang berada pada pita gelombang 315 - 400 nm (nanometer). Sinar UVA memiliki panjang gelombang yang lebih tinggi, tetapi tingkat energinya lebih rendah daripada sinar UV lainnya. Sekitar 95 persen sinar UV yang mencapai tanah adalah sinar UVA. Sinar ini Mereka dapat menembus jendela dan awan.

UVB

Sinar UVA merupakan sinar ultraviolet yang berada pada pita gelombang 280 - 325 nm. Sinar UVB memiliki panjang gelombang lebih pendek dan tingkat energi yang lebih tinggi. UVB sebagian diserap oleh lapisan ozon, tetapi sebagian lagi masih bisa menembus atmosfer. Sekitar lima persen dari sinar UV yang mencapai tanah adalah sinar UVB. Sinar ini tidak menembus jendela dan lebih cenderung disaring oleh awan.

UVC

Sinar ultraviolet C (UVC) memiliki panjang gelombang terpendek dan tingkat energi tertinggi dari ketiga jenis sinar UV. Radiasi UVC sepenuhnya disaring oleh lapisan ozon. Hasilnya, seluruh UVC sinar matahari tidak pernah mencapai tanah. Manusia tidak bisa terpapar sinar ini dari matahari. Sumber UVC buatan manusia termasuk obor las, bola lampu pembunuh bakteri khusus, dan lampu merkuri. (Melia Setiawati)

Gerhana Matahri Cincin

Infografis Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: