Bahaya, Sistem Kesehatan Jerman Kewalahan di Gelombang 2 COVID-19

Ezra Sihite, DW Indonesia
·Bacaan 3 menit

Sepuluh dari dua belas tempat tidur di unit perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Universitas MÃnster, Jerman, telah ditempati. Perawat di bagian ICU BÃrbel Breimann mengatakan situasi COVID-19 sudah sama buruknya seperti April lalu, ketika gelombang pertama virus corona mencapai puncaknya.

"Kami bekerja sudah sampai batas kapasitas kami. Tidak perlu menunggu lama lagi sebelum seluruh sistem (kesehatan) segera runtuh," kata Breimann.

Perawat berusia 47 tahun itu adalah salah satu petugas kesehatan yang digambarkan sebagai “pekerja kunci” pada awal pandemi. Breimann telah bekerja di bagian ICU sejak 1998, dan baru saja merayakan 25 tahun bekerja di Rumah Sakit Universitas di MÃnster.

Kondisi lebih buruk dari gelombang pertama corona

ICU di RS Jerman telah melalui buruknya situasi COVID-19 gelombang pertama, tapi gelombang kedua saat ini berbeda.

"Kami semua di bangsal sudah mencapai batas kami. Hal ini menimbulkan beban emosional dan fisik. Dan tentu saja, semua itu menimbulkan pertanyaan: Apa selanjutnya bagi Jerman?,” tanyanya.

Suasana di ICU MÃnster mewakili situasi di masyarakat Jerman secara keseluruhan, yakni semakin tegang dan frustrasi. Suasana di musim dingin menambah parah situasi COVID-19 saat ini.

"Pada musim semi kami semua bersatu dan itu menghasilkan energi positif yang luar biasa besar. Tapi energi itu sekarang hilang," kata Breimann.

"Dan ada ketakutan bahwa kami tidak akan dapat mempertahankan standar saat ini. Semua staf berada di ujung tanduk dan batas kehancuran adalah persoalan hari ini,” tambahnya.

Satu perawat harus menangani dua pasien

Dari segi usia, kini lebih banyak pasien muda di ICU. Pasien di usia 30-an awal ini juga tidak punya penyakit bawaan. Para perawat di ICU Münster masih bisa menjaga aturan ketat bahwa satu spesialis hanya boleh merawat maksimal dua pasien.

Tetapi, untuk hal-hal tertentu hal itu tidak mungkin. Misalnya, untuk mengubah pasien ke posisi tengkurap, diperlukan tiga perawat. Beberapa pasien juga memerlukan perawatan individu. Sistem kesehatan semakin kewalahan ketika semakin banyaknya staf yang harus izin karena sakit atau wajib karantina.

Perawat dan tempat tidur RS terus direlokasi

Thomas van den Hooven, direktur keperawatan di RS Universitas MÃnster mengatakan relokasi perawat akan jadi penentu upaya dalam menghentikan kesenjangan dan menangani kekurangan.

"Kami mengalami peningkatan signifikan pada pasien COVID-19 selama akhir pekan, jadi kami sedang dalam proses merelokasi staf perawat kami," jelas van den Hooven.

Krisis membuat orang menjadi kreatif. Jadi bukan hanya 3.000 staf perawat saja yang dialokasikan ulang oleh rumah sakit setiap hari, tetapi juga kasur RS-nya, kata van den Hooven. Tujuannya adalah untuk meringankan beban para perawat.

Puncak COVID-19 diperkirakan pertengahan Desember

Apa yang harus dilakukan Jerman pada akhir November ketika lockdown parsial saat ini resmi berakhir? Haruskah Jerman membuka kembali semuanya karena banyaknya tuntutan?

"Kami akan mengalami peningkatan yang signifikan terhadap pasien perawatan intensif pada hari Natal. Maka kami tidak hanya akan kekurangan staf perawatan intensif, tetapi juga dokter pada umumnya," jelas van den Hooven.

Dia punya satu permintaan untuk Menteri Kesehatan Jens Spahn, bahwa: "Rumah sakit membutuhkan konfirmasi yang jelas bahwa pasien COVID-19 memiliki prioritas mutlak, dan operasi lutut atau pinggul harus ditunda," pintanya.

Kurangnya jumlah perawat

Jerman mungkin bisa menciptakan tempat tidur perawatan intensif yang berfungsi penuh, tetapi Jerman kekurangan sekitar 3.500 hingga 4.000 perawat ICU.

Alasannya? Pendapatan yang relatif kecil untuk tingkat tanggung jawab yang tinggi, harus beradaptasi dengan giliran kerja dan siap sedia di akhir pekan, hingga kurangnya pengakuan dari masyarakat.

Bahkan sebelum pandemi, Menteri Kesehatan Spahn berusaha sekuat tenaga merekrut tenaga perawat dari luar negeri.

Hasil survei DIVI terbaru di antara petugas perawatan intensif menunjukkan: 97% perawat merasa tidak akan ada cukup staf untuk menghadapi gelombang kedua, dan hampir setengahnya kurang termotivasi bekerja di musim dingin daripada di musim semi. Sementara, 93% takut bahwa kondisi kerja akan memburuk di bulan-bulan mendatang. (pkp/gtp)