Bahlil: Joe Biden Tak Berdampak Signifikan bagi Investasi AS ke RI

Hardani Triyoga, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat dinilai tidak akan banyak berpengaruh terhadap investasi negara itu ke Indonesia.

"Dalam sejarah PMA kita dari AS lima tahun terakhir, Republik atau Demokrat yang menang tidak terlalu berdampak signifikan ke Indonesia. Jadi, landai-landai saja," tutur Bahlil dalam webinar, Senin, 25 Januari 2021.

Namun, Bahlil meyakini dengan pola kebijakan Biden nanti akan berbeda dengan Donald Trump. Menurutnya, akan ada upaya memperbaiki aktivitas investasi secara global dan membaiknya aktivitas ekonomi antarnegara.

"Tidak ada yang buat kita khawatir, namun dengan adanya Joe Biden ini bisa memberikan kondisi lebih baik, tapi kita tidak tahu arah kebijakannya ke depan seperti apa," ujarnya.

Berdasarkan data BKPM, porsi arus investasi dari AS terhadap total keseluruhan Penanaman Modal Asing (PMA) yang masuk ke Indonesia tidak lebih dari 7 persen dalam lima tahun terakhir, yakni dari 2015 hingga 2020.

Pada 2015, PMA yang masuk dari AS sekitar US$900 miliar atau sebesar 3,1 persen dari total PMA. Sementara itu, pada 2016 masuk sebanyak US1,2 miliar atau mencapai 4 persen dari total keseluruhan PMA pada tahun itu.

Pun, saat 2017, nilai PMA kembali naik yakni mencapai US$2 miliar, dengan porsi ke keseluruhan sebanyak 6,2 persen. Sedangkan, pada 2018 total PMA dari AS justru turun menjadi US$1,2 miliar atau porsinya sebanyak 4,1 persen.

Kemudian, pada 2019, total PMA yang masuk dari AS sebanyak US$1 miliar dengan porsi keseluruhan PMA sebesar 3,5 persen. Lalu, pada 2020 total PMA sebanyak US$749,7 miliar dengan porsinya 2,4 persen.

Untuk diketahui, pada 2020, realisasi investasi asing yang masuk ke Indonesia mencapai Rp412,8 triliun atau US$28,66 miliar meskipun dunia dilanda pandemi COVID-19. Pada periode itu, investasi asing yang masuk ke Indonesia mayoritas berasal dari Singapura.

Bahlil mengatakan, realisasi investasi pada tahun itu yang berasal dari Singapura mencapai US$9,8 miliar, diikuti dari China mencapai US$4,8 miliar, Hong Kong US$3,5 miliar, Jepang US$2,6 miliar dan Korea Selatan US$1,8 miliar.

"Mungkin 2021 analisa saya dengan komitmen mereka yang mereka bangun ini ngeri-ngeri sedap pertempuran antara Jepang dan Korea Selatan," lanjut Bahlil.

Selain itu, realisasi investasi yang berasal dari Belanda tahun itu berada pada urutan ke enam dengan nilai US$1,42 miliar. Selanjutnya, Malaysia sebesar US$1,04 miliar dan AS sebesar US$749,7 juta, Taiwan US$454,3 juta dan Australia US$348,6 juta.

"Belanda itu masuk nomor enam, Taiwan tujuh, AS nomor delapan, Malaysia sembilan dan 10 Australia. Ini Belanda menarik karena mereka jadi hub Eropa ke depan," kata Bahlil.

Baca Juga: Jokowi: Kita Bersyukur, Indonesia Kendalikan Dua Krisis dengan Baik