Bahlil: Perekonomian global semakin tertekan imbas konflik AS-Iran

Ahmad Wijaya

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi semakin memperparah perekonomian global yang sebelumnya telah tertekan akibat masalah lain.

Bahlil menuturkan berbagai konflik lain seperti perang dagang AS dan China, Brexit, serta isu Bolivia telah membuat perekonomian dunia termasuk Indonesia menjadi berat sepanjang beberapa tahun belakangan.

“Konflik itu memperparah ekonomi global karena pertumbuhannya sampai sekarang belum stabil. AS-Iran menjadi salah satu dari beberapa variabel yang mengganggu ekonomi global,” katanya di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis.

Di sisi lain, Bahlil menilai Indonesia berpotensi untuk mendapat manfaat dari konflik antara kedua negara tersebut melalui sektor investasi.

“Kita lihat nanti karena kita sedang mengkaji semuanya,” ujarnya.

Bahlil menyebutkan pihaknya belum bisa memastikan besaran investasi yang masuk ke Indonesia akibat adanya konflik tersebut sebab BKPM hingga saat ini masih mengkaji secara keseluruhan.

“Kita sampai sekarang belum bisa menentukan seberapa besar investasinya akibat persoalan AS dengan Iran ini,” katanya.

Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore (9/1), menguat seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Rupiah ditutup menguat 46 poin atau 0,33 persen di level Rp13.854 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp13.900 per dolar AS.

"Data eksternal dan internal yang stabil, membuat rupiah dalam penutupan pasar sore ini ditutup menguat," kata Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Menanggapi serangan balasan dari Iran, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan segera menjatuhkan sanksi ekonomi tambahan pada Iran. Sanksi akan tetap berlaku sampai Iran mengubah perilakunya.

"Keputusan Trump untuk memilih sanksi daripada tanggapan militer, membuat pasar kembali stabil," ujar Ibrahim.