Bahlil ungkap alasan kawasan industri Brebes digeser ke Batang

Subagyo

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menjelaskan alasan digesernya pengembangan kawasan industri di Brebes ke Batang, Jawa Tengah, yang disiapkan untuk menarik pengusaha asal Jepang, Korea Selatan, dan AS merelokasi pabriknya ke Indonesia.

Dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Jumat, Bahlil menjelaskan hal itu dilakukan sebagai strategi jangka pendek yang dilakukan pemerintah dan sesuai dengan Perpres Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Saya harus katakan bahwa di Brebes itu bukan berarti batal. Itu tetap akan jadi kawasan industri tapi kita cari yang tercepat yaitu di Batang," katanya.

Bahlil menjelaskan meski keduanya masuk dalam daftar percepatan pembangunan dan memiliki lokasi strategis karena terletak di dekat tol, namun kawasan industri di Brebes memiliki masalah karena tanahnya yang berada 2,5 meter di bawah permukaan jalan sehingga perlu ditimbun terlebih dahulu.

Sementara kawasan industri di Batang tidak perlu ditimbun terlebih dahulu dan bisa langsung dimatangkan untuk langsung dieksekusi.

"Kalau kita tunggu penimbunan dulu baru, nanti kita ketinggalan (menarik investasi). Jadi kita bikin dua strategi. Brebes tetap dikembangkan, tapi untuk jangka pendeknya kita bawa dulu (investor) ke Batang," katanya.

Menurut Bahlil, proses pembebasan lahan di Batang pun dinilai akan lebih cepat karena tanahnya yang milik PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN.

Ia menambahkan, karena lahan milik BUMN, maka investor bisa bekerjasama dengan menyewa lahan sehingga modal lahan lebih rendah ketimbang harus membeli.

"Dengan begitu kita bisa bersaing dengan Vietnam (soal harga lahan). Jadi yang di Brebes tidak dibatalkan. Memang aturannya keduanya ada. Tapi jangka pendek kita hajar di Batang, jangka panjangnya di Brebes. Lagipula arealnya hanya beda satu jam saja," katanya.

Ada pun sejumlah calon investor yang disasar diantaranya dari Amerika Serikat, Jepang dan Korea di sektor manufaktur, elektronik, baterai listrik hingga otomotif.

Namun, Bahlil mengaku belum bisa mengungkapkan potensi nilai investasinya karena harus melakukan verifikasi lebih lanjut ke pihak investor.

"Data real saya akan berikan ketika mereka grounbreaking," tutupnya.



Baca juga: Kementerian Agraria nilai Batang penuhi kriteria kawasan industri

Baca juga: Siap tampung relokasi pabrik AS, Kawasan Industri Brebes diakselerasi

Baca juga: BKPM gaet HKI tingkatkan investasi di kawasan industri