Bak Petir di Siang Bolong : 7 Kejutan Tim Underdong di Liga Champions yang Bisa Membalikkan Nasib

Bola.com, Jakarta - Liga Champions 2022/2023 segera memasuki babak 16 besar. Hingga hari ini, 12 tim sudah memastikan diri memasuki fase gugur. Mereka adalah Napoli, Liverpool, Bayern Munchen, Inter Milan, Chelsea, Real Madrid, Manchester City, Borussia Dortmund, Paris Saint-Germain, dan Benfica.

Sementara itu, empat kontestan lainnya di Grup D, yakni Tottenham Hotspur, Sporting CP, Eintracht Frankfurt, dan Marseille masih saling bunuh. Artinya, dua wakil dari grup tersebut bakal berjibaku sampai laga terakhir.

Apa kabar Juventus dan Barcelona? Maaf, keduanya musim ini menjadi raksasa pesakitan di ajang antarklub paling bergengsi di Eropa. Sang Nyonya Tua dan Blaugrana tersingkir di fase grup.

 

Raksasa Tumbang

Terdepaknya Juventus dan Barcelona menjadi sinyal bahaya bagi tim-tim unggulan. Maklum, neraka bisa saja menimpa mereka.

Artinya, tim-tim underdog bukan tak mungkin justru tampil sebagai juara atau paling tidak melangkah ke fase bergengsi. Sejarah mencatat, tim-tim underdog pernah bikin gempar Liga Champions. Masa sih? Nih buktinya bos!

 

FC Porto - 2003/2004

FC Porto menjalani periode cemerlang dibawah tangan dingin Jose Mourinho dengan meraih trofi Liga Portugal, Piala Portugal, Piala UEFA Hingga Liga Champions. Sukses itulah yang membuat nama Mourinho naik daun hingga akhirnya berhasil melatih klub top Eropa. (AFP/Pascal Guyot)
FC Porto menjalani periode cemerlang dibawah tangan dingin Jose Mourinho dengan meraih trofi Liga Portugal, Piala Portugal, Piala UEFA Hingga Liga Champions. Sukses itulah yang membuat nama Mourinho naik daun hingga akhirnya berhasil melatih klub top Eropa. (AFP/Pascal Guyot)

Saat itu, Jose Mourinho masih jagoan kampung. Belum sebeken sekarang. Ketika dia membawa Porto ke final Liga Champions 2003/2004 semua orang syok. Kok bisa? Di final, Porto ketemu Monaco dan mereka menang telak 3-0 via Carlos Alberto, Deco, serta Alenichev.

Setelah kesuksesan yang gemilang itu, Mourinho lalu laris manis. Dia meninggalkan Portugal, menukangi Chelsea, Inter Milan, Real Madrid, Manchester United, Tottenham Hotspur, dan kini AS Roma.

 

Dynamo Kyiv – 1998/1999

Satu persatu tim-tim raksasa berguguran. Sementara itu, Dynamo Kyiv, tim yang sejak awal dipandang sebelah mata, justru merangsek ke semifinal.

Pada babak empat besar, mereka menantang Bayern Munchen. Di leg 1, mereka berhasil memaksa Die Roten bermain imbang 3-3. Sayang, di leg kedua, Andriy Shevchenko dkk kalah 0-1.

Toh begitu, mereka tetap panen sanjungan sekaligus membungkam para pencibir.

 

Leeds United– 2000/2001

1. Leeds United - Klub yang sempat ditakuti di pentas Eropa. Buktinya Leeds pernah menembus final Piala Champions pada tahun 1975 dan semifinal 2001. Namun pada pertengahan 2000an, tim ini mengalami keterpurukan. (AFP/Andrew Yates)
1. Leeds United - Klub yang sempat ditakuti di pentas Eropa. Buktinya Leeds pernah menembus final Piala Champions pada tahun 1975 dan semifinal 2001. Namun pada pertengahan 2000an, tim ini mengalami keterpurukan. (AFP/Andrew Yates)

Berada di Grup H bersama AC Milan, Barcelona, dan Besiktas, penghakiman sudah diberikan kepada Leeds United. Wakil Inggris itu diprediksi bakal tersingkir.

Namun, Leeds justru melaju ke semifinal. Bentrok kontra Valencia di leg 1 dan 2, Leeds kalah aggregat 0-3. Bila saja mereka bisa menggebuk Valencia, bukan tak mungkin merekalah sang juara.

 

Valencia – 1999/2000

Tak diunggulkan, justru mendatangkan keuntungan bagi Valencia. Para ksatria Los Che tampil lepas namun trengginas.

Pelan namun pasti, Valencia tiba-tiba sudah sampai saja di final. Di partai puncak, pasukan Héctor Cúper menantang raksasa Spanyol, Real Madrid. Nasib tak berpihak. Claudio López dkk menyerah 0-3.

 

APOEL Nicosia – 2011/2012

Banyak pihak menghambat, malah kian merambat. Itulah yang diperlihatkan klub Yunani ini di pentas Liga Champions 2011/2012.

Semakin diremehkan, APOEL semakin tampil kesetanan. Kerja keras membawa mereka ke perempat final. Saatnya merubuhkan Real Madrid.

Tapi, Los Blancos yang kala itu dimotori Cristiano Ronaldo masih terlalu kokoh untuk ditumbangkan. APOEL kalah aggregat 2-8.

 

AS Monaco – 1997/1998

Sebelum menjadi legenda Arsenal, Thierry Henry adalah pemain AS Monaco. Satu di antara momen yang paling indah ketika ia mengantar klubnya ke semifinal Liga Champions 1997/1998.

Sial, AS Monaco kalah agrregat 4-6 dari Juventus. Tapi setidaknya mereka sudah membuktikan tak ada yang tak mungkin di sepak bola. Sejak saat itu pula, Henry jadi buah bibir di seantero Eropa.

 

Nantes – 1995/1996

Nantes, Nantes, yes! Fans tak meyangka, tim kesayangan bisa menyegel satu tempat di semifinal. Doa pun kian kencang diteriakkan.

Nantes bertekad melangkah lebih jauh. Itu berarti, mereka harus mengubur Juventus hidup-hidup. Namun sayang beribu sayang, Nantes tumbang dengan aggregat 3-4.

Walau terjungkal, fans tetap mengirimkan sanjungan bertubi-tubi kepada Claude Makelele dan kolega.