Bakal Makin Banyak Smartphone Android yang Dapat Terkoneksi Satelit?

Merdeka.com - Merdeka.com - Kemitraan baru antara perusahaan telepon satelit Iridium dan raksasa chip Qualcomm akan menghadirkan konektivitas satelit ke smartphone Android premium akhir tahun ini.

Hal ini berarti, di tempat-tempat di mana tidak ada jangkauan seluler, smartphone yang memiliki kemampuan menangkap sinyal satelit dapat terhubung untuk mengirim dan menerima pesan.

Chipset Qualcomm sebagai otak pada smartphone nantinya bakal ditemukan di lebih banyak di smartphone berbasis Android. Sebelumnya, Apple melalui iPhone 14 adalah smartphone pertama kali yang mengumumkan fitur satelit. Barulah, smartphone berbasis Android nampak melirik kemampuan tersebut.

Dilaporkan BBC, Senin (10/1), sebagaimana diketahui, layanan yang terhubung pada satelit saat ini hanya tersedia untuk mengirim dan menerima pesan teks dasar dalam keadaan darurat.

Perlu diketahui, sejauh ini smartphone berbasis Android yang meluncurkan layanan koneksi satelit adalah Bullitt. Smartphone asal Inggris ini, disebut mampu mengalahkan kecanggihan iPhone 14 milik Apple. Sama halnya dengan iPhone 14, Bullitt juga untuk penggunaan darurat dan akan tersedia di area tertentu saat pertama kali diluncurkan.

Kemitraan baru ini akan membuat layanan yang sama dapat diakses oleh jutaan lebih banyak pengguna ponsel cerdas, tanpa mengikat mereka pada merek tertentu - tetapi tergantung pada pabrikan untuk mengaktifkannya.

Sementara itu, satelit yang digunakan untuk bisa mengoneksikan smartphone ke satelit adalah Low Earth Orbit (LEO). Satelit ini didesain untuk orbit rendah sekitar 485 mil atau 780 km di atas Bumi dan jumlahnya tidak hanya satu. Karena itu, satelit dapat berkomunikasi satu sama lain, mengirimkan data di antara mereka.

Konektivitas satelit secara luas dianggap sebagai tantangan berikutnya untuk ponsel karena menangani masalah "not-spots" atau area di mana tidak ada jangkauan sinyal. Ini cenderung lebih umum di pedesaan atau tempat-tempat terpencil.

Langkah itu telah berhasil digunakan untuk menyediakan jangkauan broadband yang ditawarkan pada layanan seperti Starlink milik Elon Musk. Broadband satelit cepat dan umumnya dapat diandalkan, tetapi lebih mahal daripada koneksi kabel atau serat.

Sayangnya, penggunaan fitur tersebut akan tunduk pada peraturan pemerintah setempat, karena negara-negara termasuk India dan China melarang penggunaan telepon satelit sebagai alat komunikasi sehari-hari. [faz]