Bakamla RI dan ABF gelar Latihan Keamanan Maritim Ke-11

Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI dan Australian Border Force (ABF) bersama perwakilan dari 21 negara tetangga menyelenggarakan acara “11th Maritime Security Desktop Exercise (MSDE)” untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan aparat keamanan maritim regional.

Berdasarkan keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, Deputi Operasi dan Latihan Bakamla RI Laksda Bakamla I Gusti Kompiang Aribawa menyoroti berbagai ancaman maritim dan keamanan yang terjadi di kawasan, peningkatan perdagangan, dan ketergantungan negara pada sumber daya laut yang mendorong timbulnya berbagai masalah di perairan regional.

“Kerja sama yang komprehensif dari semua negara pantai di kawasan sangat penting dalam menangani masalah ini,” katanya saat membacakan sambutan Kepala Bakamla RI.

Acara ini bertujuan untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan aparat keamanan maritim regional dalam memerangi berbagai insiden keamanan maritim sesuai dengan hukum internasional yang berlaku.

Baca juga: Wakil Komandan MBC kunjungi Mabes Bakamla bahas kerja sama dengan ABF

Wakil Kepala Misi Australia untuk Indonesia Steve Scott dan Wakil Komandan Maritime Border Command (MBC) Claire Rees menegaskan kembali pentingnya kerja sama dalam upaya untuk melawan aktivitas kriminal dalam domain maritim dan pengelolaan sumber daya laut.

Selama program, katanya, peserta akan bekerja melalui skenario operasional realistis yang dirancang untuk menantang pemikiran mereka. Mereka akan didorong untuk menggunakan pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan kolektif untuk memecahkan masalah sembari bekerja dalam kerangka hukum internasional yang mapan.

MSDE akan difasilitasi Direktur Australian National Centre for Ocean Resources and Security (ANCORS) di University of Wollongong Prof. Stuart Kaye.

Baca juga: Bakamla RI dan MSC Singapura kerja sama atasi tumpahan minyak
Baca juga: Hadapi tantangan "choke point", Bakamla pelajari latihan Turki

Bakamla RI dan ABF melalui MBC berupaya memperluas pemahaman regional tentang hukum maritim internasional melalui konsep MSDE yang dimulai pada tahun 2009.

Sebanyak sepuluh MSDE berturut-turut sejak saat itu telah mendorong peningkatan pemahaman regional tentang United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) dan hukum serta kebijakan maritim terkait. Hal ini mendorong penegakan hukum maritim yang lebih kuat dan kerja sama yang lebih erat di antara badan-badan maritim di kawasan ini.

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini dilaksanakan secara daring dan luring yang turut melibatkan negara anggota Head of Asian Coast Guard Agencies Meeting (HACGAM). Selain Indonesia, negara peserta adalah Australia, Bahrain, Bangladesh, Brunei, Kamboja, India, Jepang, Republik Korea, Laos, Malaysia, Maladewa, Pakistan, Papua Nugini, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Timor-Leste, Turki, dan Vietnam.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel