Bakmi 68 Singkawang, Bukan Bakmi Biasa

Liputan6.com, Singkawang: Kehidupan masyarakat Kota Singkawang, Kalimantan Barat yang terdiri dari tiga etnis terbesar yakni Tionghoa, Melayu dan Dayak hidup memberikan warna tersendiri. Keanekaragaman etnis dan budaya memberi ciri serta daya tarik tersendiri bagi kota yang letaknya di pesisir pantai dan dikelilingi gunung-gunung ini.

Terdapat berbagai peristiwa budaya yang dapat dinikmati masing-masing etnis. Peristiwa budaya biasanya dirayakan dan diperingati bersamaan dengan upacara hari besar keagamaan. Saat perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh, Singkawang jadi kota yang ramai. Penduduk setempat yang merantau akan mudik. Turis-turis juga berdatangan.

Bagi Anda yang mengunjungi Kota Singkawang, jangan lupa untuk mencicipi makanan khas. Kuliner di daerah yang dijuluki Kota Seribu Klenteng itu tidak beda jauh dengan makanan yang ada di Negeri Tiongkok. Salah satunya adalah bakmi dan bakso. Salah satu penjual bakmi yang selalu ramai pengunjung terletak di Jalan Pangeran Diponegoro.

Bakmi 68 ini sudah ada sejak tahun 1960. Untuk rasa, tidak perlu diragukan lagi. Bakso ini bukan sekadar bakso biasa. Bedanya dengan bakso di daerah lain khususnya Jawa, bakso Singkawang memiliki isi yang lumayan lengkap. Selain buletan bakso asli daging sapi juga terdapat potongan babat, daging sapi dan tauge selain mie tentunya.

Banyak orang bilang Bakmi 68 adalah mi legendaris. Selain dibukanya sudah lama sekali, rasa enaknya bakmi juga terkenal kemana-mana. Bila Anda bertandang ke Bakmi 68, harap bersabar. Pasalnya tempat ini tidak pernah kosong pembeli. Apalagi saat perayaan Imlek atau Festival Cap Go Meh. Kedai milik Herry Liu ini selalu ramai.

"Rasanya makyus," kata seorang pembeli bernama David yang datang dari Bangka Belitung. Ia mengaku rela antre hingga satu jam lebih demi menikmati Bakmi 68. Sebenarnya, sang pedagang dan pegawai lainnya tidak perlu waktu lama untuk mengolah mi. Namun karena pembelinya banyak, sekali lagi, Anda harus benar-benar bersabar.(JUM)