Baksos Perempuan Golkar Surabaya Atasi Balita Stunting

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Surabaya Dian Jennie mengungkapkan, situasi pandemi Covid-19 membawa dampak meningkatnya balita stunting di Surabaya.

Data yang dihimpun Pemkot Surabaya pada November 2021, angka balita stunting di Surabaya mencapai lima ribu kasus.

Situasi tersebut, lanjut Dian, salah satunya dipicu oleh rendahnya atau menurunnya pendapatan ekonomi masyarakat Surabaya sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

"Sejumlah pihak seperti lembaga kesehatan, kader posyandu dan pemerintah, harus mampu bersinergi menurunkan angka stunting sampai di level nol persen," katanya, Minggu (26/12/2021).

“Ini penting menjadi tanggung jawab bersama, mengingat generasi bangsa adalah aset penting pembangunan,” ucap Dian.

Sebagai organisasi politik perempuan, Dian mengatakan, KPPG ikut mengambil peran serius tentang perkembangan dan kemajuan perempuan dan anak. Pihaknya menggelar bakti sosial serentak untuk mengatasi balita stunting atau kerdil di lima daerah pemilihan (Dapil) Kota Surabaya.

"Ada seribu paket bantuan yang kami berikan dalam baksos kali ini," ujarnya.

Menurut Dian, digelarnya baksos kali ini sekaligus juga memperingati Hari Ibu. Bagi Dian, peringatan Hari Ibu merupakan momen strategis dalam meninggkatkan empati dan kepekaan sosial terhadap masalah yang dihadapi masyarakat.

"Keberadaan KPPG bukan hanya sebagai salah satu mesin partai, namun yang lebih utama KPPG mampu berdampak optimal bagi kemanusian, kemajuan masyarakat, perempuan dan anak," ucapnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Angka Turun

Sebelumnya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, angka stunting di Surabaya turun dengan menduduki urutan ke-34 dari 38 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Padahal, sebelumnya angka stunting di Surabaya menduduki urutan ke-3 se Jatim.

"Pada 6 Desember lalu, angka balita stunting di 31 kecamaan Kota Surabaya, turun dari sebelumnya 5.727 kasus menjadi 1.785 kasus. Dari angka 1.785, kami akan melakukan pemetaan lagi dengan cara dipisahkan-pisahkan lebih detail," ujarnya.

Eri menegaskan, pemetaan itu dilakukan supaya dapat diketahui mana warga Surabaya dan non-KTP Surabaya. "Dengan demikian,, intervensi pemkot untuk menangani kasus balita stunting dapat diprioritaskan," ucapnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel