Bakteri Ternyata Bisa Terbang Hingga Ribuan Kilometer karena Debu

Merdeka.com - Merdeka.com - Bakteri yang menempel pada debu dapat terbang ke tempat lain, bahkan hingga ribuan kilometer jauhnya. Bakteri-bakteri yang mengandung aerobiom dan beterbangan diketahui dapat berdampak pada perubahan lingkungan hingga memengaruhi kesehatan hewan dan manusia.

Temuan ini ditemukan melalui penelitian terbaru yang dilakukan Daniella Gat beserta timnya.

Dalam penelitian, Gat dan tim penelitinya mengumpulkan debu-debu pada waktu yang berbeda-beda di Rehovot, Israel. Melalui analisis DNA, Gat dan timnya berusaha mengetahui komposisi dan asal usul debu yang mereka kumpulkan.

Berdasarkan penelitian, Gat dan timnya menemukan debu-debu yang dikumpulkan berasal dari berbagai wilayah berbeda, seperti Afrika Utara, Arab Saudi hingga Suriah. Asal usul debu yang berbeda diyakini tim peneliti dapat menyatukan beragam bakteri yang berbeda dari jarak ratusan hingga ribuan kilometer. Demikian dikutip dari Eos, Rabu (23/11).

Untuk mengetahui asal usul aerobiom di Israel, tim peneliti membandingkan data-data bakteri dari permukaan dedaunan yang tersebar di Israel, air di Laut Mediterania dan Laut Merah, dan sampel debu di Arab Saudi dan dekat pantai Laut Merah.

Dalam penelitian, tim menemukan aerobiom yang mereka kumpulkan di Israel memiliki kemiripan dengan aerobiom di Arab Saudi, kemudian sebesar 33 persen bakteri di Israel berasal dari wilayah lain, selanjutnya 34 persen bakteri di Israel berasal dari dalam Israel, lalu 11 persen berasal dari permukaan dedaunan, dan 0.9 persen bakteri berasal dari Laut Mediterania dan Laut Merah.

Kemudian untuk mengetahui dampak pada lingkungan dan kesehatan, tim peneliti membandingkan debu-debu di Israel dan wilayah lain. Berdasarkan temuan, tim peneliti mendapatkan bakteri-bakteri mengandung banyak gen kontaminan organik seperti benzoat sehingga mampu memberikan resistensi antibiotik dibandingkan bakteri-bakteri di laut, permukaan dedaunan atau tanah.

Resistensi antibiotik pun dapat berdampak pada kesehatan manusia dan hewan ternak. Bahayanya, para ahli belum menemukan resistensi antibiotik.

Karena itu penelitian atas gen RNA bakteri dan debu masih akan dilakukan tim peneliti.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]