BAKTI Kominfo kebut pembangunan menara BTS di Pegunungan Bintang

·Bacaan 4 menit

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berupaya untuk mempercepat pembangunan menara Base Tranceiver Station (BTS) 4G di wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) Pegunungan Bintang, Papua.

"Bagaimana kesenjangan, khususnya konektivitas digital ini bisa tuntas di seluruh Indonesia, tidak terkecuali saudara-saudara kita yang ada di Pegunungan Bintang juga perlu mendapatkan sinyal seperti kita yang sudah duluan mendapatkannya di Pulau Jawa," kata Direktur Utama BAKTI Kominfo Anang Latif dalam telekonferensi dengan media, dikutip Senin.

Anang menjelaskan bahwa pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang tidaklah mudah, mengingat lokasinya yang hanya bisa dijangkau menggunakan transportasi udara.

Selain itu, kondisi cuaca yang tidak menentu, situasi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif, serta anggaran yang terbatas juga menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Namun, berbagai tantangan tersebut tidak mengendurkan semangat BAKTI Kominfo untuk tetap menghadirkan jaringan telekomunikasi di wilayah 3T Pegunungan Bintang agar masyarakat di sana bisa bermigrasi ke ranah digital.

"Menurut hemat kami, kami menorehkan sejarah bagaimana dengan semua tantangan yang ada, kami tidak akan pernah terhenti, kami tidak akan pernah menyerah untuk membuat Indonesia terkoneksi," ucap Anang.

Dalam pembangunan menara BTS 4G di wilayah 3T Pegunungan Bintang, BAKTI Kominfo menggandeng Konsorsium PT Infrastruktur Bisnis Sejahtera (IBS) - ZTE Indonesia.

Konsorsium IBS - ZTE adalah pemenang tender pekerjaan Paket 4 dan Paket 5 pengadaan menara BTS 4G di Papua, di mana wilayah Pegunungan Bintang masuk dalam paket tersebut.

Head of Supply Chain Management IBS Meita Dwivernia mengatakan bahwa pihaknya terus mengebut pengerjaan pembangunan menara BTS 4G di Papua, termasuk di Pegunungan Bintang.

Dari 1.811 lokasi pembangunan menara BTS 4G yang ditargetkan kepada IBS pada tahap pertama, sekitar 700 lokasi di antaranya sudah mengudara atau "on air".

Meita mengakui bahwa proses pendistribusian material untuk membangun menara BTS 4G di wilayah 3T Papua sangat tidak mudah. Untuk satu lokasi, pihaknya harus mengirimkan sekitar 90 jenis komponen, terdiri dari material untuk tower, power, visat, dan BTS dengan bobot mencapai 10 ton.

Pada wilayah 3T yang tidak bisa diakses menggunakan jalur darat, seperti di Pegunungan Bintang, IBS harus menggunakan pesawat jenis caravan, pilatus, hingga helikopter untuk mengangkut material-material tersebut.

Proses pengiriman juga tidak selamanya mulus. Apabila kondisi cuaca buruk, maka proses distribusi material melalui jalur udara harus ditunda untuk sementara waktu.

"Kendalanya di cuaca. Kalau cuaca buruk, pengiriman tidak bisa dilakukan," kata dia.

Kondisi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif turut mempengaruhi proses distribusi material dan pembangunan menara BTS 4G di wilayah 3T Papua.

IBS harus pintar-pintar membaca situasi di lapangan. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait juga terus dilakukan untuk memastikan keamanan para pekerja selama proses pengiriman material dan pengerjaan pembangunan.

"Pada saat tertentu kita harus tarik ulur dulu, cooling down karena prosesnya dinamis, keamanannya cukup dinamis. Kami memahami apa yang harus didukung dengan segala tantangannya di Papua," ujar Government Public Relation and Transportation IBS Benyamin Sembiring.

Tantangan lainnya adanya penolakan dari masyarakat yang belum mengetahui manfaat dari pembangunan infrastruktur telekomunikasi tersebut. Benyamin mengatakan, pihaknya harus secara persuasif menjelaskan kepada masyarakat pentingnya pembangunan menara BTS 4G.

Penduduk lokal juga dilibatkan sebagai pekerja dengan harapan bisa memunculkan rasa memiliki terhadap bangunan tersebut.

Di tengah berbagai tantangan yang harus dihadapi, IBS tetap berupaya menggenjot proses pengerjaan pembangunan menara BTS 4G di Papua agar target yang sudah dicanangkan bisa diselesaikan.

Saat ini, IBS telah meningkatkan kapasitas pengiriman logistik. Dengan begitu, diharapkan proses distribusi material dari gudang penyimpanan ke lokasi pembangunan menara BTS 4G bisa semakin cepat.

"Kita menambah semua kapasitas untuk logistic service dengan semua kapasitas yang ada kita maksimalkan. Alhamdulillah kita sekarang sudah mencapai rata-rata 300 ton per minggu dari awalnya 50 ton," ujar Meita.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Pegunungan Bintang Alferus Sanuari mengatakan bahwa BAKTI Kominfo telah menyetujui pembangunan menara BTS 4G di 196 titik pada 2022.

Adapun total keseluruhan usulan pembangunan menara telekomunikasi di kabupaten seluas 15.683 km persegi tersebut sebanyak 261 titik.

Alferus mengatakan, dari rencana pembangunan menara BTS 4G di 196 titik, 44 titik di antaranya tengah dalam proses pengerjaan.

Adapun saat ini, sudah ada 10 menara BTS 4G yang mengudara di kabupaten dengan semboyan Terib Tibo Semo Nirya (Mari Bangkit Membangun Bersama) itu.

Alferus berharap meski terdapat berbagai tantangan, pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang dapat dikerjakan hingga tuntas agar masyarakat bisa menikmati akses telekomunikasi dengan optimal.

"Kalau bisa itu dikerjakan sampai selesai, entah tahun ini atau tahun depan, tetapi harus sampai selesai supaya daerah-daerah blank spot di wilayah pegunungan itu bisa kita hilangkan," kata dia.

Baca juga: BAKTI Kominfo komitmen tuntaskan pembangunan menara BTS 4G di 3T

Baca juga: BAKTI Kominfo bangun 196 BTS di Pegunungan Bintang tahun ini

Baca juga: Saat wartawan video call dengan Menkominfo dari wilayah 3T Papua

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel