Balai Veteriner Lampung temukan virus flu babi Afrika di Bangka

Subagyo
·Bacaan 3 menit

Balai Veteriner Lampung Provinsi Lampung menemukan virus flu babi Afrika atau virus African swine fever (ASF) di Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung setelah dilakukan uji laboratorium.

"Hasil laboratorium dipastikan terdapat penyebaran virus flu babi Afrika atau virus African swine fever (ASF) yang menyerang ratusan babi milik peternak babi di Kabupaten Bangka," kata Koordinator Informasi Veteriner Balai Veteriner Lampung, drh Tri Guntoro di Sungailiat, Kamis.

Dia mengatakan, pihaknya menemukan kasus ASF pada babi yang diawali dengan kurang atau bahkan tidak ada nafsu makan sampai ditemukan pendarahan di sebagian kulit babi. Setelah dilakukan otopsi hampir semua organ babi mengalami pendarahan.

"Virus jenis ini cukup berbahaya bagi babi yang belum ada antibodi karena angka kematiannya mencapai 80 sampai 100 persen," jelasnya.

Menurutnya, virus ASF cukup baru di Indonesia atau ditemukan tahun 2019 di Medan Sumatera Utara, virus ASF diduga berasal dari Tiongkok ke Mongol kemudian menyebar ke Asia Tenggara.


Baca juga: Mentan akan isolasi daerah terjangkit demam babi

Baca juga: Kematian babi di NTT akibat virus ASF capai 22.000-an


Tri Guntoro mengatakan, ASF merupakan jenis arbovirus dengan sekitar 20 genotip yang sampai sekarang masih dikembangkan oleh para ahli untuk menemukan vaksinnya.

"Virus deman babi Afrika cukup stambil dengan kondisi lingkungan, virus yang ada di daging babi dapat bertahan selama 105 hari, daging babi yang digarami virus bisa bertahan sampai 182 hari bahan virus yang ada di daging babi beku mampu bertahan 1.000 hari," jelasnya.

Daging babi yang dimasak kata dia, selama minimum 30 menit dengan suhu 70 derajat virus ASF akan mati. Penularan virus dapat melalui kontak antar babi atau dapat melalui media lain.

"Petugas hewan atau pedagang pengepul juga dapat menjadi media penularan ASF, seperti saat menggunakan peralatan yang sama pada babi yang terkena ASF ke babi yang lain," ujarnya.

Pakaian yang dipakai oleh pengepul yang satu ke yang lainnya menurut dia, dapat menjadi media penularan virus. Babi yang terkena virus ASF dapat mengeluarkan virusnya dan menularkan ke babi yang melalui urine atau kotorannya.

Mencegah penyebaran virus ASF dia menyarankan agar kadang babi harus benar-benar bersih, dilakukan penyemprotan cairan desinfektan dan segera memisahkan babi yang terjangkit virus demam Afrika.


Baca juga: Kematian babi di Pulau Timor akibat virus ASF capai 6.998 ekor


Dia meyakinkan meskipun virus ASF cukup berbahaya bagi babi dan belum ditemukan vaksinnya, namun tidak berbahaya bagi manusia yang mengkonsumsi.

"Untuk mengetahui kandang babi aman dari virus ASF, perlu dengan cara memasukkan babi yang rentan terkena virus di kadang tersebut, jika selama 14 hari babi itu tetap sehat berarti kadang tersebut sudah aman dari virus ASF," kata Tri Guntoro.

Sementara Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bangka Belitung, drh Correy Wahyudi mengatakan, virus ASF saat ini baru ditemukan hanya di daerahnya di Kabupaten Bangka yang tersebar di sejumlah desa.

"Sampai saat ini virus ASF hanya ditemukan di wilayah Kabupaten Bangka, strilisasi lingkungan kandang babi harus benar - benar diperhatikan dengan cara penyemprotan disinfektan karena, ditemukan kadang yang sudah kosong namun masih terdapat virusnya," jelasnya.

Dia mengatakan, pencegahan virus dapat dilakukan dengan pembatasan akses orang lain masuk di lingkungan kandang bagi yang masih terdapat babi peliharaannya.

"Virus demam babi Afrika yang ditemukan pada daging bagi di Kota Pangkalpinang diketahui sumbernya dari Sungailiat, Bangka," katanya.


Baca juga: Pengamat sebut pemerintah tak berdaya antisipasi virus ASF