Balas Hasto, PD: Karya Besar SBY Selama 10 Tahun Bangun Demokrasi

·Bacaan 2 menit

VIVA – Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto menyinggung dugaan kecurangan di Pemilu 2009. Dugaan kecurangan itu seperti manipulasi daftar pemilih tetap atau DPT di pemilu.

Elite Demokrat tersinggung kemudian membalas pernyataan Hasto. Saat Pemilu 2009, pemenangnya adalah Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY selaku petahana kembali menduduki Presiden RI.

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Demokrat, Herzaky Mahendra Putra menyampaikan selama 10 tahun jadi Presiden RI, SBY dinilai berhasil membangun demokrasi. Dia bilang, selama dua periode itu, RI selalu masuk peringkat negara terbaik dalam membangun demokrasi. Namun, berbeda dengan demokrasi sekarang di era Presiden Jokowi.

"Karya besar Bapak SBY, Partai Demokrat, dan seluruh elemen bangsa selama 10 tahun di 2004-2014, dalam membangun demokrasi Indonesia. Mengapa kemudian jadi rusak parah dalam tujuh terakhir ini ya?" kata Herzaky, dalam keterangannya, Rabu, 25 Agustus 2021.

Menurut dia, sebaiknya Hasto dan jajaran teman PDIP membantu Jokowi dalam membenani kondisi demokrasi yang dianggap menurun. "Fokus bantu Presiden Joko Widodo untuk benahi demokrasi Indonesia yang sedang nyungsep parah ini," ujar Herzaky

Pun, ia meminta agar Hasto bisa memberikan pernyataan yang benar tanpa memutar balikan fakta. Dia menekankan Hasto yang menyinggung dugaan kecurangan Pemilu 2009 seperti salah bicara. Sebab, kata dia, bila maksudnya dugaan manipulasi DPT maka mestinya menyebut Pemilu 2019 yang dimenangkan PDIP.

Kemudian, ia mengatakan agar Hasto menyampaikan pernyataan yang justru bisa membuat gaduh.

"Jangan malah membuat kegaduhan yang tidak perlu, apalagi ngomong belepotan sampai salah sebut tahun. Lebih baik waktu dan tenaganya gunakan untuk bantu Presiden Jokowi atasi pandemi dengan baik," jelas Herzaky.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto sebelumnya menyinggung adanya dugaan kecurangan di Pemilu 2009. Menurutnya, banyak hal yang bisa jadi evaluasi dalam pesta demokrasi 12 tahun lalu tersebut.

Hasto menyebut di Pemilu 2009 diduga dipraktikkan segala cara seperti memanipulasi DPT.

"Dengan manipulasi DPT, demokrasi dengan menjadikan beberapa elemen dari KPU sebagai pengurus partai, demokrasi yang menggunakan bansos sebagai politik elektoral, dan demokrasi yang juga menggunakan hukum aparat sebagai alat untuk memenangkan pemilu, itu menjadi evaluasi bersama dari kedua partai," ujar Hasto saat bertemu dengan elite Gerindra di kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta, Selasa, 24 Agustus 2021.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel