Bali dan kesiapan tuan rumah "plus" untuk KTT G20

Rasanya, Bali belum lama menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank (WB) di Nusa Dua, pada 8-14 Oktober 2018, yang dihadiri lebih dari 23.000 peserta dari 189 negara, terdiri atas jajaran gubernur bank sentral dan menteri keuangan, swasta, akademisi dan media.

Namun, pertemuan empat tahun silam yang biasanya diadakan di markas IMF-Bank Dunia di Washington DC, Amerika Serikat, itu agaknya membawa berkah bagi Pulau Dewata, karena Bali kini dipercaya menjadi tuan rumah untuk puncak Keketuaan/Presidensi G20 Indonesia, yakni KTT G20 pada 15-16 November 2022, meski sempat tertunda akibat COVID-19.

G20 itu merupakan forum yang sangat strategis dan penting untuk Indonesia. Forum ini menguasai 60 persen populasi dunia, 75 persen perdagangan global, dan 80 persen PDB (produk domestik bruto) dunia, sehingga kepercayaan itu mengisyaratkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan ekonomi terbesar dunia dan Bali dinilai mampu bangkit pasca-pandemi COVID-19.

Rangkaian pertemuan G20 di bawah Presidensi Indonesia telah dimulai pada 1 Desember 2021 dengan 150-an event. Puncaknya pada KTT G20 (15-16 November 2022) yang akan dihadiri kepala negara anggota G20, yakni Afrika Selatan, AS, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Korea, Rusia, Perancis, China, Turki dan Uni Eropa.

Tentu, G20 bukan forum yang biasa-biasa saja, karena G20 justru forum skala dunia yang merangkum 60 persen populasi dunia dan 75 persen perdagangan global, sehingga Bali secara khusus dan Indonesia secara umum harus menjadikan G20 sebagai momentum yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Apalagi, forum G20 yang berlangsung selama setahunan itu mengagendakan 150 event yang dilaksanakan di Jakarta dan puluhan provinsi lainnya, bahkan Bali kebagian 40 event atau sekitar 30 persen dari keseluruhan event. Tidak hanya itu, puncak event (KTT G20) juga dipercayakan pada Bali sebagai tuan rumah pada 15-16 November 2022.

KTT ke-17 di Bali itu menjadi puncak dari proses dan alur kerja G20 (Pertemuan Tingkat Menteri, Kelompok Kerja, dan Engagement Groups) yang mengusung tema besar, yakni Recover Together, Recover Stronger. Melalui tema tersebut, Pemerintah ingin mengajak seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama, serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.

Hingga kini, kesiapan teknis untuk KTT G20 itu sudah hampir 100 persen. Hal itu sudah diisyaratkan Wakil Presiden Ma'ruf Amin setelah memberikan arahan pada Rapat Koordinasi KTT G20 di Ballroom The Apurva Kempinski Bali, Lot 4, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, 30 Agustus 2022.

Selain kesiapan teknis, Wapres juga mengingatkan tentang pentingnya pelayanan (akomodasi dan hal lain), karena KTT G20 akan dihadiri berbagai kepala negara dan ketua lembaga internasional. Jadi harus ada kesan baik untuk Indonesia, sehingga tidak hanya tempat yang baik, namun pelayanan juga harus sangat baik.

Terkait kesiapan hotel untuk akomodasi, Pemerintah Provinsi Bali bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) serta Polda Bali telah menilai delapan hotel yang bakal menjadi tempat menginap tamu asing pada acara KTT G20 sudah lolos standar penilaian/asesmen untuk keamanan.

Delapan hotel dimaksud, yaitu Meliá Bali Hotel, The Laguna A Luxury Collection Resort & Spa, Nusa Dua Beach Hotel & Spa, The St. Regis Bali Resort, The Westin Resort Nusa Dua Bali, The Apurva Kempinski Bali, Hilton Bali Resort, dan Conrad Bali, yang semuanya memperoleh skor di atas standar dengan nilai di atas 80 persen.

Dari delapan hotel yang dievaluasi itu, Melia Bali Hotel memperoleh skor tertinggi yaitu 95,36 persen, diikuti oleh The Laguna Resort & Spa 91,74 persen, Nusa Dua Beach Hotel & Spa 91,48 persen, St. Regis Bali Resort 86,38 persen, The Westin Resort Nusa Dua 86,27 persen, The Apurva Kempinski Bali 85,73 persen, Hilton Bali Resort 83,27 persen, dan terakhir Conrad Bali 83,20 persen.

Lain halnya dengan kesiapan infrastruktur, Direktorat Jenderal Bina Marga menyampaikan progres fisik untuk dukungan KTT G20 di Bali mencapai 75,62 persen hingga Senin (29/8/2022). Untuk infrastruktur di Bali, PUPR memperbaiki ruang VIP Bandara Ngurah Rai, membuat kebun pembibitan (nursery) mangrove, dan bendungan muara.

Tentunya, Bali sebagai penyelenggara "puncak event" G20 perlu memerankan diri sebagai "tuan rumah" yang optimal. Peran optimal itu bukan sebatas peran sebagai panitia teknis, namun perlu menjadi "panitia plus" atau tuan rumah "plus" yang mampu memaksimalkan event G20 untuk peran-peran pasca-KTT G20.

Peran-peran pasca-KTT G20 itu merupakan "peran lebih" (peran "plus") dari sekadar potensi Bali sebagai pulau pariwisata yang selama ini "didatangi" masyarakat dari seluruh dunia, melainkan ikhtiar menjadikan potensi Bali sebagai "pulau produk" yang bisa "mendatangi" masyarakat di seluruh dunia.


Peran plus

Peran "plus" Bali pasca-KTT G20 itu bisa saja bermula dari tiga isu yang dibahas dalam forum G20 yakni kesehatan global, energi terbarukan dan digitalisasi ekonomi (transformasi digital dan ekonomi).

Dari sisi kesehatan, Bali bisa menjual produk kesehatan untuk dunia, seperti herbal, spa, yoga. Dari sisi energi terbarukan, Bali bisa memelopori kendaraan listrik, pembangkit listrik tenaga surya, tempat-tempat pengolahan/daur ulang sampah. Dari sisi digitalisasi, Bali bisa menjual produk secara digital untuk produk seni, produk karakter-budaya, dan pertanian khas Bali.

Ya, dari Bali untuk dunia. Bali memiliki beberapa nilai kearifan lokal yang menjadi panutan masyarakatnya. Dalam menjaga dan merawat adat istiadat dan keberagamaan, masyarakat Bali merealisasikan beberapa budaya lokal yang masih relevan dan diterapkan dalam praktek kehidupan sosial sehari-hari sebagai karakter khas.

Salah satu budaya/karakter yang berkembang di Bali adalah Tri Hita Karana dan Menyama Braya.

Agaknya, budaya/karakter khas Bali ini dapat memandu aktivitas kesehatan, energi terbarukan/ramah lingkungan dan digitalisasi/literasi yang dibahas dalam forum-forum G20, bahkan dalam event G20 juga ada "Tri Hita Karana (THK) Forum" yang sangat mungkin dapat mengilhami pembahasan selama G20.

Tri Hita Karana merupakan tiga jalan kebahagiaan yang menjadi sebuah filosofi dan menekankan pada tiga aspek hubungan manusia dalam kehidupan di dunia.

Tiga aspek ini melingkupi hubungan manusia dengan Tuhan sebagai sumber kehidupan, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam. Setiap hubungan memiliki rasa takzim yang tinggi untuk menghormati aspek di sekitarnya dengan prinsip keselarasan antar umat untuk menciptakan hubungan yang harmonis, kedamaian, dan kesejahteraan.

Tri Hita Karana memiliki beberapa unsur yang terkait di dalamnya. Pertama, unsur parhyangan sebagai nilai keseimbangan dan keserasian antara manusia dengan Tuhan, diimplementasikan dengan menjaga kawasan suci, memberikan ruang dan hak untuk beribadah sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing secara aman dan nyaman.

Kedua, unsur pawongan sebagai nilai keseimbangan dan keserasian dalam hubungan antar manusia dilakukan melalui pengaturan kependudukan dengan tetap mempertahankan kewenangan Desa Adat dalam pengaturan masyarakat, menanamkan nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, sehingga masyarakat bisa hidup dalam keselarasan dan harmoni.

Ketiga, unsur palemahan sebagai nilai keseimbangan dan keserasian hubungan antara manusia dengan alam lingkungan dilakukan melalui upaya mempertahankan arsitektur Bali pada setiap bangunan di Bali, memperhatikan konsep hulu teben sebagai hirarki tata ruang di Bali, mempertahankan lingkungan hidup untuk mendukung keharmonisan lingkungan hidup masyarakat Bali.

Sementara itu, Menyama Braya merupakan tradisi masyarakat Bali yang sudah direalisasikan sejak zaman dahulu. Tradisi ini bukan diterapkan oleh umat Hindu saja, melainkan seluruh umat beragama di Bali, mereka menerapkan tradisi Menyama Braya.

Menyama Braya merupakan perpaduan dari konsep kebudayaan lokal Tri Hita Karana pada unsur Pawongan (menjaga hubungan baik antar manusia) yang diterapkan dengan tradisi lokal, yaitu Tat Twam Asi (aku adalah kamu dan kamu adalah aku), Wasudewa Khutumbhakam (kita semua bersaudara), segilik seguluk selulung sebayantaka, paras paros sarpanaya, saling asah, asih, asuh (bersatu padu, menghargai pendapat orang lain, saling mengingatkan, menyayangi, dan tolong menolong).

Seluruh konsep inilah yang melandasi cara berpikir dan cara bersikap masyarakat Bali, sehingga mampu hidup harmonis dalam keberagaman. Masyarakat Bali mempercayai bahwa tradisi Menyama Braya ini akan tetap selalu diterapkan oleh masyarakat Bali karena melihat bahwa manusia merupakan mahluk sosial yang seharusnya menjaga hubungan baik antar sesama umat beragama dan tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang untuk tetap menciptakan masyarakat yang rukun, harmonis, dan saling menghormati.

Dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama, penerapan Menyama Braya bisa dilihat dari masyarakat Bali yang saling menolong dan saling melengkapi, yakni:

Pertama, keterlibatan Pecalang (penjaga ketertiban dan keamanan adat Bali) dalam pengamanan pelaksanaan acara/upacara keagamaan, maupun peribadatan seluruh masyarakat Bali (Hindu maupun non Hindu), sehingga umat bisa melaksanakan aktifitas dengan aman dan nyaman.

Kedua, Metetulung (saling membantu), saat ada warga yang perlu bantuan, baik dalam kondisi suka maupun duka. Ketiga, budaya tradisi Ngejot (saling menghantarkan makanan saat upacara agama/keagamaan). Misalnya saat Idul Fitri, umat muslim mengantarkan makanan kepada kerabat maupun tetangga di sekitarnya. Pada saat perayaan natal, umat Kristiani mengantarkan makanan kepada kerabat maupun tetangganya, demikian sebaliknya.

Keempat, kesenian Burcek, seni Burdah dan Cekepung dari Kabupaten Karangasem, yang merupakan kolaborasi seni Burdah dari unsur Islam Melayu digabungkan dengan seni Cekepung dari unsur Hindu Bali yang telah lama dikembangkan di Karangasem.

Kelima, adanya tempat ibadah yang letaknya berdampingan, seperti di Kawasan Puja Mandala, Kongco Batur yang ada di area Pura Batur; Masjid Nurul Amin Jembrana yang berdekatan dengan Pura Majapahit Jembrana; Masjid Al-Hikmah di Jalan Soka, Desa Kesiman, Banjar Kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali, yang berarsitektur Bali dan nyaris tanpa kubah/menara; atau Masjid Besar Al Hidayah (Masjid Candi Kuning) di kawasan Bedugul, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan di seberang Pura Ulundanu.

Ya, Tri Hita Karana dan Menyama Braya yang juga dimiliki masyarakat Indonesia dalam konsep tradisi yang sedikit berbeda itu sangat menarik untuk direalisasikan masyarakat dunia, apalagi bila disosialisasikan dengan dukungan teknologi canggih dan globalisasi, sehingga menjadi sumbangsih Indonesia untuk mengembangkan dunia yang berbudaya dan berkarakter dalam kebersamaan di tengah keragaman.