Bali jadi lokasi pertemuan 128 negara jaringan pariwisata dunia

Ketua World Tourism Network (WTN) Indonesia Muddi Astuti menyampaikan bahwa Bali akan menjadi lokasi pertemuan 128 negara yang tergabung dalam jaringan pariwisata dunia pada 6-8 Februari 2023 nanti secara daring dan langsung.

"Setelah ini kita akan mengirim undangan ke 128 negara melalui WTN menyampaikan bahwa kita akan mengadakan event dengan program yang kita bahas seperti wellness, medical tourism, MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), spa, fashion, kerajinan, dan lainnya," kata dia di Kabupaten Badung, Kamis.

Muddi mengatakan bahwa kegiatan bertajuk World Tourism Network (WTN) Travel Summit ini menjadi upaya untuk membangun kerjasama antar negara jaringan pariwisata dunia, meningkatkan bisnis, serta wadah pembelajaran satu sama lain.

"Kita akan lakukan upaya terbaik menghadirkan 128 negara ke Bali untuk kita bekerjasama, untuk kunjungan yang sifatnya outbound and inbound (keluar dan masuk) jadi untuk luar negeri datang ke Indonesia inbound atau pasar Indonesia ke luar negeri outbound," ujarnya.

Kepada media di Bali, Ketua WTN Indonesia itu juga menuturkan bahwa pihaknya akan mengadvokasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam konferensi tingkat tinggi tersebut.

Acara yang pertama kali digelar di Pulau Dewata ini akan dirangkaikan dalam bentuk pertemuan, seminar, pameran dagang, investasi, deklarasi, hingga perjalanan pasca kegiatan untuk mempromosikan Bali, Kupang, Makassar, Lombok, dan Manado sebagai destinasi prioritas.

"Ada 200 penjual yang kita pilih karena tempat terbatas, kemudian ada 50 pembeli berkualitas dari seluruh dunia akan kita undang, dan 36 maskapai, karena itu maskapai dari luar negeri yang terbang ke Bali, sehingga akan ada dua pasar yaitu yang keluar dan masuk," kata Muddi.

Dari 200 UMKM tersebut, Muddi menyebut sekitar 40 persen diantaranya merupakan UMKM dari Bali. Seluruhnya diharapkan dapat memanfaatkan wadah World Tourism Network (WTN) Travel Summit sebagai kesempatan untuk membangun kontrak kerjasama antara pedagang dan pembeli.

Muddi juga menyampaikan umumnya kegiatan taraf internasional di Indonesia hanya dimanfaatkan sebagai wadah promosi bagi Indonesia ke luar negeri, sementara dengan konferensi yang berlangsung pada Februari 2023 ini dapat menjadi pertemuan dua arah yang saling menguntungkan.

"Jadi yang dari luar negeri akan ada keterikatan interaktif dengan produsen pariwisata Bali atau yang ada di Indonesia, bagaimana caranya mendapat kerjasama dengan pasar Amerika misalnya, jadi ada dialog antar sesama pemain begitu sebaliknya, untuk bekerjasama," ujar dia kepada media.

Baca juga: Bali dideklarasikan sebagai "Fab Island" pertama dunia

Baca juga: Apindo: Pasal perzinaan dalam RKUHP dapat rugikan dunia pariwisata