Bamsoet apresiasi 24 dubes negara OKI dukung Forum MPR Dunia

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengapresiasi dukungan 24 duta besar negara sahabat yang tergabung dalam Organisasi Kerja sama Islam/OKI atas inisiasi Indonesia melalui MPR RI membentuk World Forum People's Consultative Assembly (Forum Majelis Permusyawaratan Rakyat Dunia).

"Dukungan tersebut ditunjukkan oleh para duta besar dengan meminta kepada MPR RI agar mereka dilibatkan dalam proses mengundang para ketua parlemen di masing-masing negaranya," kata Bamsoet, sapaan karib Bambang Soesatyo dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Bahkan lanjut dia para duta besar meminta untuk bisa ditambah hingga lima delegasi yang semula keinginan MPR RI mengundang dua delegasi dari setiap parlemen. Biaya perjalanan dan akomodasi pun akan mereka tanggung sendiri.

"Sebagai delegasi, para ketua parlemen dari 50-an negara anggota OKI, selain didampingi para duta besarnya akan menggunakan kendaraan resmi dari kedutaannya masing-masing, lengkap dengan bendera negaranya," kata Bamsoet usai bertemu para duta besar dari 24 negara OKI, di MPR RI.

Forum Majelis Permusyawaratan Rakyat Dunia rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo dan ditutup oleh Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin pada 24-26 Oktober 2022 di Gedung Merdeka, Bandung.

Ketua DPR RI ke-20 itu menjelaskan Gedung Merdeka adalah tempat yang sangat bersejarah, karena menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada 1955, yang memainkan peranan penting bagi diplomasi internasional Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Baca juga: MPR RI rintis Forum MPR dunia

Baca juga: Ketua MPR: Indonesia siap jadi juru damai untuk dunia

Karena itu, para delegasi Forum MPR Dunia nanti juga akan melakukan history walk atau tapak tilas dari Hotel Savoy menuju Gedung Merdeka, untuk mengenang perjuangan Konferensi Asia Afrika 1955.

"Gagasan pembentukan Forum MPR Dunia dilatarbelakangi atas kebutuhan menghadirkan tatanan dunia yang harmonis dan berkeadaban, dalam rangka mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Mengingat landscape ideologi, politik, dan ekonomi global saat ini penuh dengan disrupsi dan kompetisi," ucapnya.

Kemudian, persaingan pun lanjut Bamsoet semakin tajam dan memanas. Konflik dan ketegangan global memberikan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat di seluruh dunia.

Dia menjelaskan isu global yang sama-sama dihadapi saat ini antara lain adalah krisis kemanusiaan, krisis lingkungan, krisis ekonomi global, krisis pangan, krisis air, dan krisis energi.

Berbagai isu global tersebut bukan hanya untuk diketahui, melainkan harus dicari jalan keluarnya, agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas pada kehidupan umat manusia.

"Pada tingkat pemerintahan, organisasi negara-negara Islam yang sudah lama eksis antara lain Organisation of Islamic Cooperation (OIC), pada tingkat parlemen negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim terdapat Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC). Sedangkan tingkat non-pemerintahan terdapat Muslim World League," paparnya

Keberadaan organisasi internasional tersebut telah banyak berperan mendorong terciptanya perdamaian, keamanan serta kemajuan dunia Islam khususnya, serta berkontribusi dalam membangun peradaban dunia pada umumnya. Namun demikian, kata Bamsoet bukan berarti semua tantangan telah terjawab.

Dia mengatakan dalam memecahkan berbagai masalah global, diperlukan adanya kerjasama yang bersifat integratif, dengan melibatkan kerja sama lintas negara, lintas sektor, dan lintas lembaga pemerintahan maupun lembaga non-pemerintahan.

Karena itu, katanya menjadi sebuah keuntungan tersendiri, apabila terdapat sejumlah saluran organisasi internasional dalam menyikapi persoalan yang dihadapi, salah satunya dengan menghadirkan Forum MPR Dunia.

"Pembentukan Forum MPR Dunia yang tidak permanen memberikan keuntungan tersendiri, karena selain lebih fleksibel, juga lebih lincah dalam memberikan alternatif solusi di tengah dinamika global yang sedang bergejolak. Sehingga bisa menghadirkan pemikiran dan tindakan aksi bersama dalam mengatasi berbagai krisis yang dihadapi umat manusia," ujarnya.