Bamusi PDIP: Ceramah Sejuk Gus Baha 'Digoreng' untuk Politik Adu Domba

·Bacaan 2 menit

VIVA – Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), yang merupakan organisasi sayap PDI Perjuangan, menganggap ada yang menggoreng dan memelintir ceramah KH Bahaudin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha. Dengan membenturkan ceramah itu dengan kelompok politik seperti partai.

Itu disampaikan Sekretaris Umum PP Bamusi, KH Nasyirul Falah Amru atau yang akrab disapa Gus Falah. Dia menegaskan, bahwa Gus Baha menyampaikan ceramah yang komprehensif mengenai perjuangan bangsa dari era Budi Oetomo 1908, masuk ke HOS Tjokroaminoto, lalu saat Bung Karno dan para kiai.

"Ceramah Gus Baha secara terang benderang mengungkap proses perjuangan mulai dari Budi Utomo. Embrio dari bangsa Indonesia, yang kemudian kemerdekaannya diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 merupakan kristalisasi dari perjuangan yang berkesinambungan," kata Gus Falah, dalam keterangannya, Senin 23 Agustus 2021.

Peran dan perjuangan para kiai da tokoh Islam dalam kemerdekaan Indonesia, menurutnya juga kerap kali disampaikan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Bahkan, lanjut dia, Bamusi mendapatkan penugasan khusus untuk menyampaikan sejarah dalam berbagai sosialisasi dan pendidikan politik mengenai perjuangan para kiai bersama Bung Karno dan pejuang lainnya.

"Maka, atas jasa dan peran para kiai, PDI Perjuangan berada di garda terdepan dalam usulan dan memperjuangkan ditetapkannya Hari Santri Nasional, yang itu tak lepas dari Resolusi Jihad hasil istikharoh para kiai kala itu dalam rangka perjuangan melawan penjajahan," jelas anggota Komisi VII DPR itu.

Bung Karno, jelasnya, adalah santri dari HOS Tjokroaminoto. Dalam kemerdekaan, proklamator itu juga kerap kali meminta masukan dari kiai seperti KH Hasyim Asyari. Maka menurutnya ini perlu dibangun kesadarannya oleh generasi sekarang bahwa bangsa dibangun atas dasar kebersamaan.

Bung Karno juga, lanjut dia, sangat kuat komitmennya terhadap dunia Islam. Seperti perannya dalam menemukan makam perawi hadits Imam Bukhari, difungsikannya kembali Masjid Biru di Rusia, mencegah penutupan kampus Al-Azhar Kairo, serta mengirimkan Pohon Mindi untuk ditanam di Padang Arafah yang kini dikenal dengan sebutan Pohon Soekarno. Bung Karno juga konsisten mendukung Kemerdekaan Palestina, dan membantu Kemerdekaan Aljazair.

Karena itu, Gus Falah mengajak publik untuk tidak mudah disulut dan terprovikasi politik adu domba dengan "menggoreng" ceramah Gus Baha yang dikutip secara tidak lengkap dengan kepentingan untuk mendistorsi sejarah.

"Gus Baha adalah ulama yang ceramahnya sangat teduh, seperti juga guru beliau, almarhum KH Maemun Zubaer. Ceramahnya selalu dibanggakan oleh Ibu Hj Megawati dan PDI Perjuangan karena merupakan ulama pemersatu umat," terang Gus Falah.

Hubungan dan kebersamaan kaum nasionalis dan santri itulah, lanjut Gus Falah, yang sekarang secara konsisten dilanjutkan oleh PDI Perjuangan. Dia mencontohkan, di Pilkada Jawa Tengah 2018. Dimana Megawati berkonsultasi dengan Mbah Moen. Agar putranya, KH Taj Yasin Maemun, bisa dicalonkan bersama Ganjar Pranowo.

"Bahkan, seperti sudah kita ketahui bersama, Mbah Moen dan Ibu Hj Megawati juga ada pertemuan khusus beberapa hari sebelum Mbah Moen berangkat haji ke Tanah Suci, 2019 lalu," lanjut Gus Falah.

Hubungan yang sangat akrab itu, antara Megawati dengan para kiai dan kaum santri, harap Gus Falah membuat publik berpikir jernih. Agar jernih melihat adanya upaya politik adu domba dari penggalan potongan ceramah tersebut.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel