Bandana Atta Halilintar Hasil Lelang Rp 2,2 Miliar Disita Atas Kasus Reza Paten

Merdeka.com - Merdeka.com - Bareskrim Polri sita aset Reza Shahrani atau Reza Paten bersama barang bukti lainnya. Reza merupakan tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan, perdagangan dan pencucian uang melalui investasi robot trading Net89.

Salah satu aset yang dijadikan barang bukti dalam kasus tersebut merupakan bandana milik Atta Halilintar yang sempat dilelang seharga Rp 2,2 Miliar.

"Rumah yang kita sita dari tersangka Reza. Terus mobil, kemudian dari Reza juga mobil BMW, mobil Vios, sepeda Brompton, bandananya itu," kata Kasubdit II Dittipideksus Bareskrim Polri Kombes Chandra Sukma Kumara dalam konfirmasinya, Selasa (8/11).

Tidak hanya itu, terdapat 83 rekening yang di antaranya delapan sudah dibekukan.

Chandra mengatakan masing - masing dari rekening tersebut berisikan nominal yang berbeda - beda. Sehingga dirinya masih perlu melakukan pendataan lebih lanjut dan belum dapat merinci secara pasti total keseluruhannya.

"83 (rekening) iya yang diblokir. (nominal rekening yang dibekukan) Belum bisa saya rekap, karena masih ada yang nilainya Rp 1 juta, Rp 20 juta, belum kita jumlahkan. Kita belum bisa jawab itu, kita rekap dulu. Saya belum tahu datanya," ujarnya.

Hingga saat ini, Chandra mengklaim semua aset Reza Paten berhasil di tracking kepolisian. Sehingga tidak ada aset yang dapat disembunyikan.

"Nggak (disembunyikan), sudah ke-detect semua sama kita, sudah tahu kita," imbuhnya.

Kendati itu, Chandra berujar masih ada kemungkinan penambahan tersangka kasus trading Net89. Namun dirinya belum merinci berapa orang dan dari kalangan mana tersangka tersebut.

"Mungkin saja (penambahan tersangka), dalam arti kita pendalaman kita, ada peran orang lain yang kemungkinan jadi tersangka. Kita nggak bidik, kita berdasarkan fakta saja, nggak bidik-bidik. Ada fakta kemudian kita jadikan tersangka," tutup Chandra.

Sebelumnya, Bareskrim Polri belum menahan tersangka Reza Shahrani alias Reza Paten usai dirinya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan, perdagangan dan pencucian uang melalui investasi robot trading Net89.

"Belum ditahan (Reza Paten)," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Whisnu Hermawan saat dikonfirmasi pada Minggu (6/11).

Kendati belum ditahan, Whisnu menjelaskan bahwa jika Reza masih menjalani proses pemeriksaan oleh penyidik sebagai tersangka untuk proses berita acara pemeriksaan (BAP).

"Masih proses (penyidikan)," ujarnya.

Reza sendiri bersama delapan tersangka lainnya dalam perkara yang diperkirakan merugikan 300 ribu member senilai Rp2,7 triliun terkait dengan penipuan berkedok robot trading Net89.

"Reza Shahrani (Reza Paten) sudah jadi tersangka di Net89," kata Direktur Tipideksus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Whisnu Hermawan saat dikonfirmasi, Sabtu (5/11).

Tersangka lainnya, adalah, AA, pendiri atau pemilik Net89, LSH, Direktur Net89, ESI, member dan exchanger Net89, LS, sub exchanger Net89, AL, sub exchanger Net89, HS, sub exchanger Net89, FI, sub exchanger Net89, dan D, sub exchanger Net89.

Adapun dalam kasus ini, mereka dijerat dengan pasal 69 ayat (1) Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Tindak Pidana Transfer Dana dan/atau Pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 198 tentang Perbankan dan/atau Pasal 8 dan/atau Pasal 9 Jo Pasal 62 ayat (1) dan/atau Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan/atau.

Selain itu, Pasal tersangkaan juga dilapis dengan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) jo Pasal 55 KUHP jo Pasal 56 KUHP jo Pasal 64 KUHP jo Pasal 65 KUHP.

Selain itu, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) langsung bergerak cepat memblokir rekening Reza Paten. Hal ini disampaikan oleh Ketua PPATK Ivan Yustiavandana.

"Sudah kami bekukan," kata Ivan saat dikonfirmasi.

Ivan mengatakan bahwa ada ratusan rekening milik Reza Paten yang sudah diblokir PPATK. Jumlahnya mencapai Rp1 triliun.

"150-an rekening di lebih dari 25 Bank. Perputarannya (uang) diatas Rp1 trilliun," ujar Ivan. [ded]