Bandeng Asap, Oleh-oleh Khas Sidoarjo

Nasir

Berkunjung ke Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Anda tidak lagi hanya bisa berbelanja oleh-oleh bandeng presto atau otak-otak bandeng saja. Tapi juga bandeng asap beraroma yang khas dan penuh lemak. Seperti gerai bandeng asap di Jalan RA Kartini, Sidoarjo.

Di balik kaca etalase, deretan bandeng asap tergantung rapi. Tetesan lemak tampak menguar dari daging bandeng berwarna hitam kecokelatan. Rasa bandeng asap lebih gurih ketimbang bandeng presto. Sementara teksturnya sangat lembut dan basah.

Namun tidak semua pelancong bisa membawa bandeng asap sebagai buah tangan kembali ke kota. Sebab ikan olahan ini tidak menggunakan bahan pengawet. Membuat masa layak konsumsinya hanya bertahan selama dua hari.

"Saya selalu bertanya ke pembeli, mau dibawa ke daerah mana bandeng asapnya," kata penjual bandeng asap, Amaidi (52), kepada Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, Selasa, 19 Juli 2014. "Jika daerah yang ditempuh lebih dari dua hari, saya menyarankan jangan membeli."

Bandeng asap buatan Amaidi pun tidak melalui proses pendinginan atau pengawetan di lemari pendingin. Alasannya, pengawetan itu bisa menghilangkan kelezatan bandeng asap. Karenanya ia selalu menggunakan ikan bandeng yang baru ditangkap dari tambak. "Pengawetan dengan es membuat lemak ikan menghilang. Padahal itu kunci dari kenikmatannya."

Rasa bandeng asap lebih gurih ketimbang bandeng presto. Sementara teksturnya sangat lembut dan basah. (Foto: Nasir/Plasadana.com)
Rasa bandeng asap lebih gurih ketimbang bandeng presto. Sementara teksturnya sangat lembut dan basah. (Foto: Nasir/Plasadana.com)

Pada awal proses pengolahan, Amaidi membersihkan perut ikan terlebih dahulu. Setelahnya, barulah ia mengasapi ikan bandeng selama enam jam. Waktu itu diperlukan agar bandeng benar-benar matang hingga lapisan paling dalam. Kemudian bandeng pun siap disantap. "Tapi hati-hati memakannya, bandeng asap tidak bersih dari tulang dan duri," ujar dia.

Perempuan yang telah berdagang bandeng asap selama sepuluh tahun ini melepas barang jualannya dengan beragam harga. Sekitar Rp30 ribu untuk ikan berukuran kecil, Rp45 ribu harga bandeng asap sedang, dan Rp50 ribu yang berbadan besar. Dan selama liburan Idul Fitri, ia bisa mengantongi omzet sekitar Rp1 juta per hari.

Bandeng asap buatan Amaidi tidak menggunakan bahan pengawet. Sebab, pengawetan justru dapat membuat lemak ikan hilang dan mengurangi rasa serta aromanya yang khas. (Foto: Nasir/Plasadana.com)
Bandeng asap buatan Amaidi tidak menggunakan bahan pengawet. Sebab, pengawetan justru dapat membuat lemak ikan hilang dan mengurangi rasa serta aromanya yang khas. (Foto: Nasir/Plasadana.com)

"Kebanyakan pelanggan dari Surabaya, Purwokerto, Jakarta dan daerah Jawa lainnya," ujar dia. "Karena sudah banyak yang kenal juga, saya nggak pasang spanduk atau papan nama."

Simak juga keseruan para Funbassadors menjelajahi Filipina di halaman ini!