Bandingkan Virus Corona dengan Holocaust, Pejabat China di Israel Minta Maaf

Liputan6.com, Yerusalem - Pejabat China yang bertugas di Israel meminta maaf pada Minggu 2 Februari 2020 karena telah membandingkan aturan penutupan beberapa perbatasan wilayah negara terhadap warga China, di tengah banyaknya kekhawatiran terhadap Virus Corona. Ia membandingkannya dengan para pengungsi Yahudi selama Holocaust.

Dai Yuming mengatakan kepada wartawan pada konferensi pers berbahasa Inggris di Tel Aviv bahwa "kesalahan untuk membatasi atau bahkan melarang kedatangan warga China" mengingatkannya pada "masa lalu, kisah lama yang terjadi dalam Perang Dunia Kedua, Holocaust, hari-hari tergelap dalam sejarah manusia." Demikian seperti dilaporkan oleh AP, Senin (3/2/2020). 

“Jutaan orang Yahudi terbunuh, dan banyak orang Yahudi ditolak ketika mereka berusaha mencari bantuan dari negara lain. Hanya sangat, sangat sedikit negara yang membuka pintu untuk mereka, dan di antara mereka adalah China," kata Dai.

Minta Maaf

Sejumlah batu nisan dan monumen Holocaust yang dicoret-coret dengan simbol swastika nazi di sebuah pemakaman Yahudi di Strasbourg, Prancis (17/12). Aksi vandalisme ini diketahui dilakukan Selasa di pemakaman Yahudi Herrlisheim. (AFP Photo/Sebastien Bozon)

Kedutaan Besar Tiongkok di Israel kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan "tidak ada niat apa pun untuk membandingkan hari-hari gelap Holocaust dengan situasi saat ini, dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah Israel untuk melindungi warganya."

"Kami ingin meminta maaf jika seseorang memahami pesan kami dengan cara yang salah," kata kedutaan.

Israel menghentikan penerbangan langsung ke China pada hari Kamis, dan Kementerian Kesehatan Israel telah mengizinkan agen kontrol perbatasan untuk menolak masuknya orang non-Israel yang telah mengunjungi China dalam dua minggu terakhir.

Warga Israel yang kembali dari Tiongkok telah diperintahkan untuk tetap dikarantina di rumah selama dua minggu guna mencegah penyebaran virus corona, yang telah menewaskan lebih dari 300 orang dan membuat ribuan orang lainnya sakit di China.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada menteri pada hari Minggu bahwa negara itu telah "menutup penyeberangan darat, pelabuhan dan bandara untuk kedatangan dari China" untuk saat ini. Dia mengatakan telah menginstruksikan Kementerian Kesehatan negara itu untuk mengembangkan vaksin untuk menangkal virus yang menyebar cepat.

"Kami juga memperbarui Otoritas Palestina pada semua langkah pencegahan dan tindakan kesehatan masyarakat yang harus mereka perhitungkan di sini juga," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: