Bang Ucu, jawara Tanah Abang yang mengaku sudah tobat

MERDEKA.COM. Sosoknya masih tegap walau usianya tak muda lagi. Perawakannya tak besar, tetapi langsing dengan otot yang masih liat. Dia dikenal sepelosok Tanah Abang sebagai jawara kesohor. Itulah Haji Muhammad Yusuf bin Muhi yang lebih dikenal sebagai Bang Ucu.

Bang Ucu sempat menjadi penguasa Tanah Abang. Hercules dan kelompoknya takluk di tangan Haji Ucu. Lulung Lunggana alias Haji Lulung, juga sangat menghormati Bang Ucu.

Pemprov DKI rupanya masih membutuhkan kehadiran Bang Ucu saat membongkar lapak pedagang kaki lima di Tanah Abang. Diakui Kepala Satpol PP Provinsi DKI Jakarta Kukuh Hadi S, pihaknya meminta bantuan Bang Ucu.

Bang Ucu pun datang ke Tanah Abang. Mengawasi penertiban yang dilakukan Satpol PP, Polri dan TNI. Bang Ucu kini mengaku menghabiskan waktu untuk beribadah. Dia tinggal di Bogor, sementara rumah aslinya ada di Kebon Pala III Tanah Abang.

"Saya orang yang banyak penuh dose, saya sudah bosan dengan kemegahan. Saya di Bogor untuk bertire," kata Bang Ucu kepada merdeka.com di Tanah Abang, Minggu (11/8).

Bang Ucu mengaku mendukung langkah Jokowi dan Ahok untuk merelokasi pedagang ke Blok G. Menurutnya tahun 2004, dia sudah memperjuangkan PKL dapat lapak yang layak. Sehingga tak ada yang berjualan di jalan lagi. Tetapi tahun 2005, saat Bang Ucu mendalami agama dan meninggalkan Tanah Abang, PKL kembali amburadul.

"Saya waktu itu lagi itikaf di Bogor," aku Bang Ucu.

Maka Bang Ucu meminta PKL tertib berdagang di Blok G. Dia pun meminta jangan ada lagi yang memalak preman atau memprovokasi pedagang untuk kembali berjualan di jalan.

"Jangan lo pada denger provokator ye, gue gorok yang provokator buat dagang di jalan," ancam Bang Ucu.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.