Bangkalan Zona Merah Covid-19 Lagi, Kematian Tinggi dan Warga Enggan Diswab

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Bangkalan - Sempat turun menjadi zona oranye, Bangkalan kembali menjadi zona merah Covid-19. Bupati Bangkalan R Abdul Latif Amin Imron mengaku akan meningkatkan pengawasan aturan penanganan Covid-19. Terutama penerapan peraturan pembatasan jam operasional dan menutup tempat yang berpotensi mengundang kerumunan.

"Pemkab Bangkalan bersama TNI-Polri akan terus meningkatkan pengawasan dengan menggelar patroli rutin," ujar Ra Latif sapaan akrab bupati, Rabu (7/7/2021), dilansir TimesIndonesia.

Menurutnya, Pemkab Bangkalan langsung mengambil langkah cepat melalui kebijakan pengetatan sejumlah kawasan dan memberlakukan jam operasional di malam hari sejak pemberlakuan PPKM darurat. Semua aktivitas harus berakhir pukul 20.00 WIB.

"Semua karyawan sektor non esensial bekerja dari rumah atau 100 persen work from home (WFH), dan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online atau daring," ujar Ra Latif.

Untuk sektor esensial, lanjutnya, jumlah karyawan yang bekerja di kantor atau work from office (WFO) maksimal 50 persen. Sedangkan untuk sektor kritikal diperbolehkan 100 persen WFO dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

"Restoran dan rumah makan tidak ada layanan makan di tempat, seluruhnya harus delivery order atau take away," tegasnya.

Politikus PPP ini meminta dukungan penuh dari masyarakat untuk bersama-sama menekan laju penyebaran Covid-19 dengan disiplin memakai masker, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas maupun aktivitas di luar rumah.

"Tanpa dukungan dari masyarakat, setiap kebijakan apapun sulit dicapai. Untuk itu kami meminta masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan," terangnya.

Warga Enggan Diswab

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangkalan Sudiyo mengatakan, ada 3 penyebab yang menjadi pemicu Kabupaten Bangkalan kembali berstatus zona merah.

"Pertama, angka kematian akibat paparan Covid-19 lumayan tinggi. Rata-rata setiap hari ada lima orang meninggal," ungkapnya.

Kedua, dilihat dari terpakainya tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) yang ada di RSUD Syamrabu Bangkalan selalu terisi 70 sampai 75 persen.

"Saat ini pasien di rumah sakit sebanyak 161 orang dari total 216 kapasitas tempat tidur, artinya tidak pernah dibawah 50 persen," imbuhnya.

Terakhir, sambung Sudiyo, masyarakat Bangkalan masih takut untuk diswab sehingga tidak memenuhi spesimen yang harus kita laporkan ke Kementerian Kesehatan.

"Harusnya kita bisa mengirim spesimen itu per hari 2.000 tapi kita hanya bisa mengirim rata-rata 200 per hari," ujarnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel