Bangkit di Tengah Pandemi, Bisnis Rumahan Ternyata Menjanjikan

Lutfi Dwi Puji Astuti, Isra Berlian
·Bacaan 4 menit

VIVAPandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia sejak Maret 2020 lalu, berdampak pada sejumlah sektor. Salah satu dampak yang cukup dirasakan ada di sektor ekonomi.

Akibat pandemi COVID-19 ini sejumlah perusahaan diketahui merumahkan para karyawannya. Data dari KADIN Indonesia hingga awal Oktober 2020 lalu tercatat sudah lebih dari 6,4 juta pekerja di PHK.

Sementara itu, menurut data Kementerian Keuangan, pandemi COVID-19 telah menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran sebanyak 2,67 juta orang. Sehingga per bulan November 2020 lalu total jumlah pengangguran sudah mencapai 9,77 juta orang.

Salah satu yang juga terdampak dari COVID-19 ini adalah Galih dan sang suami, Ryan. Keduanya menjadi korban PHK dari perusahaan mereka yang bergerak di bidang retail dan jasa.

Galih yang telah lima tahun bekerja diketahui dirumahkan oleh perusahaan pada Oktober lalu. Tentu ini menjadi hal yang tak mudah bagi dirinya terlebih sang suami juga menjadi korban PHK pada Oktober lalu lantaran tempatnya bekerja mengalami pailit.

"Saya dan suami mulai work from home dari Maret, karena suami kerja di Resto dia langsung benar-benar enggak digaji cuma ada uang pulsa untuk follow up client. Waktu saya WFH pun sempat ada pemotongan gaji 20 persen dari Mei sampai Agustus," kata dia kepada VIVA.co.id baru-baru ini.

Dijelaskan lebih lanjut, pemotongan gajinya pada bulan September lalu dipangkas menjadi 10 persen. Namun siapa sangka, pada bulan setelahnya dia harus menerima kabar buruk dari perusahaan.

"Di September potongan gaji berkurang jadi 10 persen, tapi siapa sangka di tanggal 7 Oktober saya disuruh menghadap HRD dan ternyata saya di PHK. Prosesnya cepet banget dan dapat uang kompensasi," kata dia.

Diakuinya PHK yang dialaminya dan sang suami bukanlah hal mudah. Mengingat keduanya masih memiliki sejumlah cicilan seperti rumah, bank dan kendaraan. Namun dia berusaha untuk berpikir positif dan bangkit bersama sang suami.

"Berusaha ikhlas dan positif thinking dengan cobaan kita berdua di PHK. Pasti Allah sedang lindungin kita dari wabah dan kasih rezeki lain," ujar dia. Berkut perjalanan kisah usahanya.

Galih dan suami pun kemudian mencoba memutar otak untuk mencari pemasukan. Dengan membuat usaha menjual produk frozen food. Hal ini dilatarbelakangi ketika Galih yang kala itu masih bekerja dari rumah sering memesan makanan secara online ketika kelaparan di malam hari.

"Karena waktu itu suami duluan yang di PHK jadinya dia pikir usaha apa yang masih dicari orang pas lagi pandemi kaya gini. Jadi waktu kadang tengah malam saya suka kelaparan mencari makanan akhirnya delivery order dari situ," kata dia.

Saat itu kemudian sang suami berinisiatif menjual makanan frozen. Hal ini lantaran frozen food menjadi alternatif makanan yang mudah untuk diolah.

"Sebelumnya sebenarnya saya sudah pernah jualan frozen food cuman stop karena sibuk kerja. Akhirnya pas suami gak kerja lagi, dia mulai belanja frozen food lagi, jadi bantuin dia juga waktu itu," kata dia.

Namun kini, usaha yang dibangunnya bersama sang suami yang diberi nama Gibran Food itu membuahkan hasil. Bermodalkan Rp5,5 juta untuk membeli freezer, bahan baku dan membuka warung, kini keduanya bisa meraup keuntungan hingga Rp400 ribu per harinya.

"Modal awal itu beli freezer bekas Rp2,5 juta, frozen food sekitar Rp 1 juta upgrade warung sekitar Rp 2 juta. Omset rata-rata per harinya Rp 300 sampai Rp 400 ribu," ujar dia.

Tidak hanya Galih saja, kerja keras yang dilakukan oleh Nayla juga membuahkan hasil. Nayla juga menjadi korban PHK pada pertengahan tahun lalu, pasca perusahaannya sudah tidak bisa lagi beroperasi di wilayah Karawang, Jawa Barat.

Bermodal uang PHK dia mencoba memutar uang yang diterimanya itu untuk membuat makanan kekinian yakni mentai. Bermodalkan uang Rp2 juta, wanita 27 tahun itu bisa membuat bisnis rumahannya itu dikenal.

"Waktu itu jualan bukan yang niat banget. Ya pokoknya resepnya sesuai keinginan dan lidah saya aja. Alhamdulillah cocok sama yang lain," kata dia.

Mentai yang dibuatnya sendiri dengan varian isi salmon serta varian crispy chicken ternyata membuat orang-orang ketagihan. Dia menyebut bisa mendapat untung 20 hingga 30 persen dari modal awal setiap harinya. Berikut cerita jatuh bangunnya.

"Balik modal dan untung jelas. Namanya jual makanan apalagi sampai ada yang repeat order, pasti untung," kata dia.

Bukan hanya nasi mentai saja, dia juga berkreasi dengan menghadirkan dimsum mentai, hingga shirataki mentai untuk memberikan pilihan varian kepada para pelanggannya.

Yang perlu diperhatikan ketika ingin membuka bisnis di tengah pandemi

Founder Foodpedia, Berlian Richie beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa membuka bisnis di tengah pandemi bisa menjadi pilihan.

Namun ada sejumlah jenis usaha yang perlu diperhatikan ketika masyarakat ingin membuka usaha di tengah pandemi. Berlian, menjabarkan ada beberapa jenis usaha yang dinilai potensial seperti medical supply and service, food processing & retail, personal and health care, e-commerce, hingga ICT.

Selain itu membuka usaha rumahan food and beverage juga bisa menjadi pilihan. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar bisnis tersebut berjalan lancar, salah satunya adalah inovasi menu.

"Bisnis rumahan F&B ternyata ada celah, tapi kita juga harus siasati jangan hanya jualan dari bulan ke bulan itu terus akan bosan orang. Misalnya kita jualan ayam geprek kan tidak tiap hari makan itu terus, kita harus inovasi untuk menu," kata dia.

Selain inovasi menu, penting juga untuk membuat sejumlah promo seperti promo buy 1 get 1, hingga voucher untuk para loyal customer.

"F&B banyak saingan create murah dan jamin sehat dan berbagai macam buat customer enggak bosen bikin program loyalti biar mereka loyal. ketika order terdaftar pelanggan bisa dapat diskon," kata dia.