Bangkitnya Militer Musuh Amerika di Tengah Pertarungan Trump-Biden

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ternyata bukan cuma Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) yang memanfaatkan momentum Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS). Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) baru-baru ini juga melakukan uji coba peluncuran rudal balistik, Rabu 4 November 2020.

Pasca berakhirnya sanksi embargo, Iran terus memperkuat armada militernya. Sementara di sisi lain, Amerika terus menentang ambisi Negeri Mullah yang dianggap sebagai ancaman.

Dalam laporan yang dikutip VIVA Militer dari Iran Front Page, Panglima Garda Revolusi Islam Iran, Mayor Jenderal Hossein Salami, membuka langsung uji coba peluncuran ganda rudal balistik jarak jauh. Dalam pernyataannya, Salami memastikan, dengan kekuatan yang dimiliki saat ini takkan ada yang berani macam-macam dengan Iran.

"Peluncuran rudal kami mengguncang musuh. Kekuatan rudal kami menjamin penarikan musuh. Kemampuan penangkal dan pertahanan memberi Iran kekuatan besar yang membantu negara menunjukkan kemauan politik, dan memaksa musuh jika diperlukan," ucap Salami.

Senada dengan Salami, Panglima Pasukan Ruang Angkasa Korps Garda Revolusi Islam Iran, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, memperingatkan kepada musuh-musuh Iran. Sekecil apapun tindakan yang membahayakan kedaulatannya, Iran tak segan memberikan respons keras.

"Musuh akan menghadapi rentetan peluru kendali yang besar jika mereka membuat kesalahan terkecil sekalipun," kata Hazizadeh.

Menurut sejumlah data yang dihimpun VIVA Militer, Pasukan Ruang Angkasa Korps Garda Revolusi Islam Iran saat ini memiliki setidaknya 12 jenis rudal balistik. Mulai dari rudal balistik jarak pendek hingga jarak jauh. Akan tetapi, rudal balistik Fajr-3 MIRV adalah rudal balistik tercanggih yang dimiliki saat ini.

Dalam berita sebelumnya, VIVA Militer juga melaporkan jika pasukan Tentara Pembebasan Rakyat China sudah mengerahkan armada tempurnya ke wilayah Laut China Selatan. Seperti prediksi yang pernah dipublikasikan oleh eks Wakil Direktur Badan Intelijen Pusat AS (CIA), Laksamana James Winnfeld, pasukan China akan memblokadi wilayah Laut China Selatan untuk mencegah intervensi militer Amerika.

Winnfeld juga yakin, pasukan China akan segera melancarkan agresi militer sebelum Presiden AS terpilih dilantik. Seperti yang diketahui, saat ini penghitungan suara tengah dilakukan untuk menentukan siapakah yang akan menjadi Presiden AS ke-46, Donald Trump untuk periode kedua, atau Joe Biden wakil Partai Demokrat.