Bangku Jadi Kompor Darurat hingga Jembatan Portabel, 3 Inovasi Jepang Hadapi Bencana Alam

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Jepang dikenal sebagai negara yang berlokasi di tempat yang rawan di dunia, salah satunya adalah bencana gempa bumi. Maka dari itu Negeri Sakura memberikan inovasi atau pengembangan teknik yang baik kepada warganya agar dapat bertahan hidup dalam kondisi darurat akan bencana.

Melalui akun Facebook Kedutaan Besar Jepang di Indonesia tertanggal 25 Oktober 2020 yang Liputan6.com kutip Senin (26/10/2020), diinformasikan sejumlah inovasi infrastruktur penanggulangan bencana tersebut. Mulai di dalam hingga luar ruangan.

1. Bangku Taman Jadi Kompor Darurat

Diinformasikan dalam tayangan singkat di akun Facebook resmi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia bahwa salah satu yang dikembangkan adalah inovasi dalam membuat bangku taman.

Bangku taman itu dapat dijadikan sebagai sebuah kompor darurat untuk pengungsi, setiap lampu juga memiliki panel surya agar jika dalam keadaan darurat dengan tenaga listrik yang terputus lampu tersebut akan tetap menyala.

2. Bangunan Anti-Gempa

Selain di ruang terbuka, inovasi penanggulangan bencana tersebut juga dilakukan di sejumlah gedung bertingkat di perkotaan Jepang.

Salah satunya sebuah gedung di pertengahan kota dengan ketinggian 247 meter. Menurut penelusuran dalam video, didapati nama bangunan adalah Toranomon Hills Mori Tower.

Bangunan tersebut memang sengaja di desain kuat dan memiliki rancangan anti-gempa. Bahkan mampu menahan level 7 skala shindo (sistem gempa skala Jepang).

Pada saat bencana datang, hal yang sulit didapatkan adalah air dan listrik. Gedung tersebut di rancang juga memiliki fasilitas portabel untuk penanggulangan bagi drainase air minum dan toilet, kemudian gas dan minyak berada di bawah tanah yang berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik selama 15 hari, maka dari itu apapun yang terjadi gedung tersebut akan tetap memiliki suplai aliran listrik.

Menurut salah satu perwakilan bangunan tersebut, dalam konsep pembuatan kota alih-alih dalam melakukan evakuasi ke area lain yang terpencil, namun menurutnya akan lebih aman jika warga mengungsi ke gedung besar seperti ini.

Gedung itu juga menyediakan ruang serbaguna yang dapat dimaanfaatkan sebagai lokasi untuk mengungsi sementara bagi komuter yang tidak dapat pulang ke rumah dan juga gedung ini memiliki ketersediaan suplai makanan dan air untuk 3.600 orang selama 3 hari.

3. Jembatan Portabel

Ilustrasi/copyrightshutterstock/aroonroj.kul
Ilustrasi/copyrightshutterstock/aroonroj.kul

Pelajaran yang didapat dari bencana yang terdahulu adalah bahwa memperbaiki infrastruktur dengan cepat itu sangat penting, khususnya untuk jembatan-jembatan, karena jika roboh dapat menyebabkan bencana sekunder.

Salah satu inovasi lainnya adalah jembatan portabel, jembatan ini dapat dirangkai oleh sedikit orang.

Inovasi ini ditemukan oleh para peneliti bidang konstruksi engeneering.

Menurut Ichiro Ario, Asisten Profesor di Sekolah Pascasarjana Teknik dari Universitas Hiroshima mengatakan bahwa idenya dalam jembatan lipat portabel itu didasari oleh origami. Dirinya terinspirasi dari pengaplikasian terhadap teknik lipat tertentu.

Maka dari itu hasilnya jembatan tersebut dapat dilipat dari kecil dan diperbesar agar dapat memungkinkan untuk dipindahkan dan digunakan.

Bermacam-macam metode terhadap bencana alam di Jepang kini sudah di terapkan di seleuruh dunia, maka Jepang berkontribusi atas pengembangan kerangka kerja internasional guna mengurangi resiko bencana dan beberapa kali pernah menjadi tuan rumah pada Konverensi Pengurangan Resiko Bencana di PBB.

Hal ini dilakukan Jepang untuk membantu seluruh dunia untuk meminimalisir kerusakan yang disebabkan oleh bencana alam.

Reporter : Romanauli Debora

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: