Bani Israel : Pembangkang yang Diabadikan dalam Alquran

·Bacaan 1 menit

VIVA – Pada mulanya mereka ditindas, diperbudak, dan dizalimi oleh rezim. Dalam rupa yang agak modern, Bani Israel barangkali nyaris serupa dengan korban perang dunia II yang menghuni kamp-kamp konsentrasi Jerman.

Sekurang-kurangnya, sentimen yang dimainkan oleh penguasa adalah sama: karena mereka Yahudi, atau minimal Tapol (tahanan politik). Sejarah memahat, medio 1700 SM keturunan Ibrahim dari jalur Ya’qub bermigrasi ke Mesir. Saat itu, belum ada hukum international yang menjamin hak hidup mereka. Sekitar 1250 SM, situasinya semakin payah.

Para imigran yang bermaksud mencari suaka justru diperbudak oleh Firaun. Tapi, ini masih masa kenabian. Musa terpilih sebagai utusan Tuhan yang kelak membebaskan Bani Israel dari cengkraman rezim otoriter. Jauh sebelumnya, Mesir dilanda wabah mematikan.

Uniknya, anak-anak Yahudi selamat. Fenomena ini lalu diabadikan oleh orang Yahudi dalam pesta Passover (Hari Paskah), menandai status mereka sebagai umat pilihan. Di bawah panji Musa, Bani Israel melawan penguasa. Setelah melewati sekian sekuel yang cukup dramatis, Firaun dan koloninya menemui ajal, tenggelam karena berusaha melawan gelombang kebenaran.

Kini, Bani Israel telah merdeka. Tapi mereka tidak punya warga-negara, alias stateless. Maka, nomaden adalah jalan ninja yang paling masuk akal. Sepanjang perjalanan yang diduga berdurasi 40 tahun itu, Nabi Musa menghadapi pergolakan baru: pembangkangan Bani Israel. Al-Quran memberitahu kita betapa sembrononya permintaan mereka.

SUMBER ASLI

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel