Banjir Terjang 7 Desa di Pacitan, Puluhan Keluarga Bertahan di Pengungsian

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tim gabungan terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI/Polri, Satpol PP, relawan dan masyarakat setempat membersihkan sisa banjir dan tanah longsor yang menerjang Pacitan, Jawa Timur.

Selain itu, BPBD juga melaporkan puluhan keluarga di wilayah terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Pacitan, Jawa Timur masih bertahan di pengungsian. Hal ini karena trauma banjir dan longsor susulan kembali melanda permukiman mereka.

“Saat ini pengungsi masih di balai desa karena rumahnya hilang. Kami tangani itu dulu, baru berikutnya penanganan longsorannya,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pacitan, Didik Alih Wibowo, seperti dikutip dari Antara, Senin (16/11/2020).

Berdasarkan data sementara, banjir terjang tujuh desa di dua kecamatan, Kabupaten Pacitan. Sementara puluhan rumah di dua desa lain di Kecamatan Kebonagung porak poranda karena longsor.

Bencana banjir dan longsor terjadi pada Sabtu sore, 14 November 2020 hingga Minggu dini hari, 15 November 2020. Hal itu diawali hujan deras yang melanda sebagian besar wilayah Pacitan sejak Sabtu siang.

Belum Ada Korban Jiwa

Didik menuturkan, belum ada laporan korban jiwa tetapi belasan rumah dilaporkan rusak. Beberapa desa yang terendam banjir antara lain Desa Sukoharjo, Kayen, Simoboyo, Kembang, Banjarjo dan Purwoasri.

Banjir juga menyebabkan tanah di ruas jalur lintas selatan (JLS) di Desa Gawang, Kebonangung longsor. Material longsor menutup sebagian jalan itu.

Warga mulai membersihkan area permukiman yang porak-poranda diterjang banjir dan tertimbun lumpur usai banjir dan longsor.

Di Kebonagung, misalkan, puluhan personel terlibat pembersihan sisa banjir di sekitar Puskesmas Kebonagung. Personel itu terdiri dari unsure BPBD, TNI/Polri, Satpol PP, relawan dan masyarakat setempat.

Masyarakat juga membersihkan lumpur di hunian yang sebelumnya ditinggal mengungsi. “Hari ini kerja bakti di lokasi puskesmas dan juga di desa-desa sekitar. Seperti Banjarjo dan Purwoasri,” kata Didik Alih.

Di lokasi longsor Desa Gembuk, 87 jiwa yang terdampak bencana masih bertahan di pengungsian. Didik menuturkan, untuk penanganan pascabencana pihaknya bersama masyarakat dan unsur terkait terus berupaya memulihkan.

Saat ini, prioritas adalah penanganan pengungsi. Masih ada sekitar 15 KK yang bertahan di balai desa setempat. Didik mengingatkan ada fenomena La-Nina yang berdampak pada peningkatan curah hujan, sehingga meningkatkan risiko bencana.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini