Bank Dunia: Ekonomi Global Akan Menyusut 5,2 Persen Tahun Ini

Liputan6.com, Jakarta Bank Dunia mengeluarkan proyeksi kondisi perekonomian negara-negara di dunia. Lembaga ini menilai pandemi Covid-19 dan langkah-langkah penguncian guna mencegah penyebaran virus telah membuat ekonomi dunia kacau balau.

Bahkan ketika negara-negara di dunia membuka kembali membuka kegiatan, Bank Dunia memperkirakan tahun ini dunia akan mengalami resesi global terdalam dalam 80 tahun.

Pandemi itu, yang telah menginfeksi sekitar tujuh juta orang di seluruh dunia, membuat negara-negara memerintahkan warganya untuk tinggal di rumah dan bisnis agar terhenti.

Laporan Bank Dunia, seperti melansir laman CNN, Selasa (9/6/2020), menyebutkan jika produk domestik bruto dunia--ukuran pertumbuhan ekonomi--akan berkontraksi 5,2 persen pada tahun ini.

Meskipun berbagai negara di dunia telah meluncurkan berbagai langkah dan stimulus sebagai bentuk dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Nilai kucuran stimulus mencapai triliun dolar Amerika Serikat (AS) yang dikerahkan untuk membantu perusahaan bertahan, membantu konsumen, dan membuat pasar keuangan berfungsi dengan baik.

Namun, ekonomi maju, seperti Amerika Serikat atau Eropa, diproyeksikan menyusut sebesar 7 persen. Ekonomi Amerika diperkirakan berkontraksi 6,1 persen sebelum rebound pada 2021.

Bahkan kurtal ini hampir pasti akan menjadi massa yang terburuk bagi negara Barat. Sementara sebagian besar negara di Asia merasakan beban paling berat dari wabah adalah pada bulan-bulan pertama tahun ini.

Ekonomi China, negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, diproyeksikan tumbuh 1 persen pada tahun ini, turun dari 6,1 persen pada 2019, sebelum bisa bangkit kembali.

Resesi pandemi juga akan meninggalkan dampak ke sektor lain seperti investasi akan rendah dalam jangka pendek, dan perdagangan global serta rantai pasokan akan terkikis sampai batas tertentu.

Selain itu, jutaan orang kehilangan pekerjaan. Ini salah satunya menyebabkan pukulan terbesar ke pasar tenaga kerja Amerika sejak Great Depression.

 

Negara Berkembang

Ilustrasi Bank Dunia (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Federal Reserve AS telah menekankan kekhawatirannya tentang pekerja yang kena PHK sebagai akibat dari krisis.

Resesi busa menjadi lebih buruk jika langkah pengendalian pandemi membutuhkan waktu lebih lama dari  harapan, atau jika tekanan finansial memaksa sejumlah perusahaan mengalami kebangkrutan.

Sebelumnya, survei bulanan dari American National Association of Business Economics menemukan bahwa gelombang kedua infeksi merupakan risiko terbesar bagi ekonomi AS.

Bank Dunia juga menyebutkan jika perekonomian di negara-negara berkembang berada dalam bahaya tertentu, karena sistem perawatan kesehatannya kurang maksimal dan lebih rentan terhadap kesengsaraan perekonomian global melalui rantai pasokan, pariwisata dan ketergantungan pada komoditas serta pasar keuangan.

Pada saat yang sama, harga minyak yang rendah, yang ambruk pada bulan April, dapat membantu memulai ekonomi pada tahap awal pembukaan kembali, Bank Dunia mengakui.

Saksikan video di bawah ini: