Bank Dunia: Perubahan iklim ancaman terbesar bagi pembangunan

Direktur Pelaksana Pengembangan Kebijakan dan Kerja Sama Bank Dunia Mari Elka Pangestu menyatakan krisis perubahan iklim merupakan salah satu ancaman terbesar bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang sulit dibenahi bahkan tidak akan hilang.

“Perubahan iklim adalah salah satu ancaman terbesar bagi pembangunan dan pertumbuhan, tidak akan hilang. Anda tidak dapat membalikkannya dan itu (perubahan iklim) hanya akan menjadi lebih buruk,” katanya dalam Tri Hita Karana (THK) Blended Finance Presidensi G20 Indonesia di Nusa Dua, Bali, Minggu.

Mari mengatakan perubahan iklim menjadi ancaman bagi pembangunan dan pertumbuhan karena krisis ini menimpa seluruh lapisan masyarakat baik di negara miskin, berkembang maupun maju.

Baca juga: Luhut sebut blended finance atasi gap pembiayaan perubahan iklim

Ia menuturkan ketika perubahan iklim menimpa negara-negara termiskin dan rentan maka mereka tidak ada pilihan untuk tidak melakukan tindakan atau upaya mitigasi.

Mari menjelaskan apabila krisis perubahan iklim tidak dimitigasi dengan segera maka akan mendorong hingga lebih dari 132 juta orang masuk ke dalam kemiskinan, 260 juta orang bermigrasi, dan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia.

Oleh sebab itu, transformasi dalam rangka mengatasi perubahan iklim harus dilakukan termasuk dalam lima sistem utama yaitu transportasi energi, pertanian, pangan dan penggunaan lahan.

“Itu karena infrastruktur perkotaan dan manufaktur menyumbang 90 persen dari emisi gas rumah kaca,” ujarnya.

Baca juga: Wamenkeu tegaskan komitmen Indonesia atasi perubahan iklim di COP-27

Sementara itu jika upaya mitigasi cepat dilakukan maka global akan mendapatkan pertumbuhan, pekerjaan, ketahanan, dan pembangunan secara sekaligus.

“Anda dapat mencapai keduanya (iklim dan pembangunan) jika Anda melakukannya dan mengelolanya dengan cara yang benar,” tegas Mari.