Bank Dunia Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,4 Persen Tahun Ini

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVABank Dunia atau World Bank baru saja merilis Economic Update 2021 untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik. Bank Dunia memperkirakan, akan terjadi ketidakmerataan pemulihan ekonomi.

Dalam laporan tersebut, hanya China dan Vietnam yang diperkirakan mengalami grafik pemulihan berbentuk huruf V atau biasa dikenal dengan V Shape Recovery.

Bahkan, output perekonomian kedua negara tersebut saat ini dianggap telah melampaui tingkatan pada saat sebelum merebaknya Pandemi COVID-19.

Pada tahun ini, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan mampu mencapai 8,1 persen sedangkan Vietnam 6,6 persen. Adapun Indonesia tetap di posisi 4,4 persen.

Di negara-negara besar, pertumbuhan ekonomi rata-rata berada di sekitar 5 persen, di bawah tingkat sebelum pandemi. Dampak terparah dialami oleh negara di kepulauan Pasifik.

Dengan kondisi tersebut, diperkirakan 32 juta penduduk di kawasan ini gagal keluar dari kemiskinan akibat pandemi dengan garis kemiskinan pada kisaran US$5,5 dolar per hari.

“Kejutan perekonomian yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 menghambat penurunan angka kemiskinan dan meningkatkan ketidaksetaraan,” ujar Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa dikutip dari siaran pers, Jumat, 26 Maret 2021.

Kinerja ekonomi dianggap bergantung pada efektivitas pengendalian virus, kemampuan memanfaatkan kebangkitan perdagangan internasional, dan kemampuan pemerintah memberikan dukungan fiskal dan moneter.

“Ketika negara-negara mulai bangkit pada tahun 2021, mereka akan perlu mengambil tindakan mendesak untuk melindungi penduduk yang rentan, dan memastikan terjadinya pemulihan yang inklusif, ramah lingkungan, dan berketahanan,” tutur dia.

Laporan ini juga memperkirakan stimulus ekonomi AS dapat menambahkan rata-rata 1 poin persentase bagi pertumbuhan ekonomi di negara-negara di kawasan ini pada 2021 dan mempercepat pemulihan hingga rata-rata tiga bulan.

"Risiko terhadap kemungkinan ini adalah pada pelaksanaan vaksinasi COVID-19 yang terjadi secara perlahan, yang dapat memperlambat pertumbuhan sebesar hingga 1 poin persentase di beberapa negara," tutur dia.