Bank Mandiri Prediksi Pertumbuhan Kredit 2021 Masih Terbatas

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Pertumbuhan kredit Bank Mandiri diperkirakan masih akan tumbuh di level middle single digit. Hal ini seiring dengan kondisi perekonomian yang masih melambat sejak virus corona mewabah di dunia.

Pertumbuhan kredit pun akan difokuskan kepada sektor-sektor yang sudah mulai pulih seperti industri makanan dan minuman, sektor kebutuhan sehari-hari, R&D, telekomunikasi, perkebunan, pertanian dan perdagangan.

"Proyeksi pertumbuhan kredit di level middle single digit," kata Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi dalam konferensi pers RUPST Bank Mandiri 2021, Jakarta, Senin (15/3/2021).

Net interes margin juga diperkirakan berada di kisaran 4,6 persen sampai 4,8 persen. Darmawan mengatakan perusahaan tahun ini akan mendorong efisiensi dengan penurunan CoF. Caranya dengan fokus meningkatkan pengumpulan dana murah.

"Kami ingin mendorong efisiensi di penurunan CoF dengan fokus peningkatan dana murah," katanya.

Terkait restrukturisasi kredit, Bank Mandiri telah menyetujui relaksasi keringanan kredit sebesar Rp 123,4 triliun hingga akhir tahun 2020. Restrukturisasi tersebut diberikan kepada 543 ribu debitur.

"Tahun 2020 portofolio yang disetujui Rp 123,4 triliun termasuk untuk non cash loan dengan 543 ribu debitur," kata dia.

Tren Restrukturisasi Turun

Nasabah melakukan transaksi di cabang Bank Mandiri Pertamina UPMS III, Jakarta, Rabu (28/6). Bank Mandiri memberikan layanan perbankan terbatas kepada nasabah secara bergantian pada musim liburan Idul Fitri 26-30 Juni 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Nasabah melakukan transaksi di cabang Bank Mandiri Pertamina UPMS III, Jakarta, Rabu (28/6). Bank Mandiri memberikan layanan perbankan terbatas kepada nasabah secara bergantian pada musim liburan Idul Fitri 26-30 Juni 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Darmawan menambahkan, tren restrukturisasi kredit di Bank Mandiri saat ini juga telah mengalami penurunan. Sampai 31 Desember 2020 restrukturisasi kredit turun menjadi 93,3 triliun.

"Ada penurunan di posisi 31 Desember menjadi Rp 93,3 triliun," katanya.

Tentunya, lanjut dia, hal ini terjadi seiring dengan membaiknya perekonomian nasional. Diperkirakan restrukturisasi akan kembali turun pada tahun ini dan seterusnya,

"Kami perkirakan ini akan terus menurun," kata dia mengakhiri.

Anisyah Al Faqir

Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: